Mahasiswa Perantau di Tengah Kenaikan BBM: Antara Bertahan dan Menyesuaikan Diri
Pendidikan | 2026-07-05 14:49:43Oleh: Tyo Anugrah Putra, Zihni Arifah Nasution, Sahidah Salma Firdaus, Nabilah Auerella Putri, Elly Ana, Marisa Rifada.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20250203072419-4-607359/harga-bbm-di-seluruh-spbu-ri-resmi-naik-berlaku-3-februari-2025" />
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sering kali dipandang sebagai persoalan ekonomi makro yang dampaknya identik dengan naiknya tarif transportasi atau biaya distribusi barang. Namun, di balik angka-angka inflasi yang diumumkan setiap bulan, terdapat kelompok masyarakat yang turut merasakan dampaknya secara langsung, yaitu mahasiswa perantau. Kelompok ini tidak memiliki pendapatan tetap, tetapi harus memenuhi berbagai kebutuhan hidup secara mandiri selama menempuh pendidikan jauh dari keluarga.
Bagi mahasiswa perantau, kenaikan harga BBM bukan hanya tentang bertambahnya biaya membeli bensin. Dampaknya menjalar ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Harga makanan meningkat, biaya transportasi bertambah, dan berbagai kebutuhan penunjang lainnya ikut mengalami penyesuaian. Sementara itu, sumber dana yang dimiliki mahasiswa umumnya tidak berubah secara signifikan karena sebagian besar masih bergantung pada kiriman orang tua yang jumlahnya relatif tetap setiap bulan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa inflasi April 2026 didorong signifikan oleh kelompok transportasi, dengan bensin sebagai salah satu kontributor utama. Bagi masyarakat umum, kenaikan ini mungkin masih bisa diserap, tetapi bagi mahasiswa perantau, dampaknya terasa jauh lebih langsung.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam penelitian yang kami lakukan terhadap mahasiswa perantau angkatan 2024 Universitas Airlangga. Melalui survei yang melibatkan 239 responden dari Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Fakultas Psikologi pada April 2026, diperoleh gambaran mengenai kondisi keuangan mahasiswa setelah kenaikan harga BBM pada tahun 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran bulanan mahasiswa perantau mencapai sekitar Rp2.242.259 per bulan. Angka ini memperlihatkan bahwa biaya hidup mahasiswa di kota besar seperti Surabaya tidak dapat lagi dianggap rendah, terlebih ketika komponen makanan dan minuman saja sudah mendominasi lebih dari separuh anggaran bulanan mereka.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah perubahannya. Penelitian menemukan bahwa sekitar 66 persen responden mengalami peningkatan pengeluaran bulanan setelah kenaikan harga BBM. Artinya, dua dari tiga mahasiswa perantau harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dibandingkan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan yang relatif sama. Selain itu, sebanyak 74 persen responden mengaku merasakan dampak kenaikan BBM dalam kategori tinggi. Temuan ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga BBM benar-benar dirasakan oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar isu ekonomi yang jauh dari realitas mereka.
Hasil pengujian statistik yang kami lakukan juga memperkuat temuan tersebut. Uji Chi-Square menunjukkan adanya keterkaitan yang signifikan antara kenaikan harga BBM dan pengeluaran bulanan mahasiswa perantau. Dengan kata lain, peningkatan biaya hidup yang dialami mahasiswa bukan terjadi secara kebetulan, melainkan memiliki hubungan yang nyata dengan kenaikan harga BBM yang terjadi pada tahun 2026. Ini bukan pola yang bisa diabaikan begitu saja.
Temuan ini menjadi penting karena selama ini mahasiswa sering dianggap sebagai kelompok yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi ekonomi. Memang benar bahwa sebagian mahasiswa melakukan berbagai penyesuaian untuk mengatasi kenaikan biaya hidup. Ada yang mengurangi frekuensi membeli makanan di luar, mengurangi pengeluaran hiburan, memilih transportasi yang lebih hemat, atau menunda pembelian kebutuhan tertentu. Namun, kemampuan beradaptasi tersebut tidak berarti bahwa tekanan ekonomi yang mereka hadapi dapat diabaikan. Tekanan finansial yang berlangsung terus-menerus berisiko mengganggu konsentrasi belajar, menambah kecemasan, bahkan mendorong mahasiswa mengorbankan kebutuhan gizi demi bertahan hingga akhir bulan.
https://kanal24.co.id/harga-bbm-naik-ojol-dan-mahasiswa-mengeluh/" />
Di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa perantau merupakan kelompok yang cukup rentan terhadap perubahan harga. Mereka tidak memiliki banyak pilihan ketika biaya hidup meningkat. Berbeda dengan pekerja yang mungkin memperoleh kenaikan pendapatan atau tambahan penghasilan, mahasiswa umumnya memiliki sumber dana yang terbatas. Orang tua di kampung halaman pun menghadapi dilema serupa: pendapatan mereka belum tentu naik sebanding dengan inflasi, sementara kebutuhan kiriman dari anak yang merantau terus bertambah. Akibatnya, setiap kenaikan harga kebutuhan pokok langsung memengaruhi pola konsumsi dan kualitas hidup mahasiswa.
Oleh karena itu, hasil penelitian ini seharusnya menjadi perhatian bagi berbagai pihak. Perguruan tinggi seperti UNAIR dapat memanfaatkan informasi mengenai rata-rata pengeluaran mahasiswa untuk merancang program bantuan biaya hidup yang lebih tepat sasaran, bukan hanya keringanan UKT yang sifatnya tahunan. Bantuan transportasi kampus, subsidi makan di kantin, atau dana darurat biaya hidup bisa menjadi opsi konkret yang langsung dirasakan mahasiswa. Pemerintah daerah Surabaya juga dapat mempertimbangkan kebijakan yang menyasar kelompok ini secara spesifik, misalnya subsidi transportasi umum untuk pemegang kartu mahasiswa atau insentif bagi penyedia kos dan rumah makan di sekitar kampus. Sementara itu, orang tua dapat menggunakan informasi ini sebagai gambaran yang lebih realistis mengenai kebutuhan finansial anak selama menjalani perkuliahan di perantauan.
Pada akhirnya, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi secara umum, tetapi juga memengaruhi kehidupan mahasiswa yang sedang mempersiapkan masa depannya melalui pendidikan tinggi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa perantau harus menghadapi peningkatan pengeluaran dan tekanan finansial yang lebih besar pasca kenaikan BBM. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang lebih serius dari semua pihak agar mereka dapat tetap fokus menempuh pendidikan tanpa harus dibayangi kekhawatiran berlebihan mengenai biaya hidup sehari-hari.
Sebab bagi mahasiswa perantau, kenaikan BBM bukan sekadar perubahan harga di papan pengumuman SPBU. Ia hadir dalam bentuk berkurangnya sisa uang bulanan, bertambahnya pengeluaran harian, dan semakin sempitnya ruang untuk mengatur keuangan. Di tengah perjuangan menyelesaikan pendidikan, mereka tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga belajar bertahan menghadapi realitas ekonomi yang terus berubah.
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Statistika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, dan terlibat dalam penelitian "Estimasi Rata-Rata Pengeluaran Bulanan Mahasiswa Perantau Universitas Airlangga Angkatan 2024 Pasca Kenaikan Harga BBM 2026".
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
