Maroko: Teladan, Tradisi dan Doa Ibu
Olahraga | 2026-07-05 06:01:09
Ada masanya setiap Piala Dunia selalu membutuhkan satu negara yang disebut kuda hitam. Tim yang membuat kejutan. Mengalahkan unggulan. Lalu pulang dengan tepuk tangan.
Dulu, Maroko ada di kelompok itu. Kini rasanya tidak lagi. Menyebut Maroko sebagai kejutan justru terasa terlambat. Mereka sudah menjadi kebiasaan.
Setelah mengejutkan dunia dengan mencapai semifinal Piala Dunia 2022, banyak orang mengira itu hanya dongeng yang sulit terulang. Sepak bola memang sering melahirkan cerita indah, tetapi tidak semua cerita mampu bertahan.
Maroko memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak hidup dari nostalgia. Mereka membangun masa depan. Kemenangan atas Kanada yang membawa mereka ke perempat final bukan sekadar hasil pertandingan. Itu adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari generasi emas yang datang sekali seumur hidup.
Ia bisa dirancang. Ia bisa diwariskan. Lihat skuad mereka.
Empat belas dari dua puluh enam pemain lahir setelah tahun 2000. Mereka dibimbing para senior seperti Yassine Bounou, Achraf Hakimi, Sofyan Amrabat, dan Noussair Mazraoui. Di pinggir lapangan, Mohamed Ouahbi tidak ragu mengangkat para pemain yang sebelumnya ia tempa di tim U-20.
Maroko sedang melakukan sesuatu yang sering dilupakan banyak negara. Mereka tidak sekadar mengejar kemenangan. Mereka sedang membangun kesinambungan.
Dalam psikologi dikenal role model effect. Manusia belajar lebih cepat ketika memiliki teladan yang nyata. Bagi generasi muda Maroko, semifinalis 2022 bukan sekadar sejarah. Mereka adalah kakak-kakak yang pernah membuka jalan. Kini giliran mereka melanjutkan cerita.
Namun ada hal lain yang membuat Maroko berbeda.
Di tengah sorotan kamera, para pemainnya tidak hanya merayakan gol. Mereka bersujud. Mereka memeluk ibu mereka. Mereka berbicara tentang kerja keras, tetapi juga tentang rasa syukur. Seperti pernah diingatkan ulama Al-Azhar, Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari, "Setiap dari kita adalah gambaran yang mengilustrasikan agama yang mulia ini di mata dunia."
Menariknya, para pemain Maroko tidak berdakwah lewat mimbar. Mereka berdakwah lewat akhlak. Lewat penghormatan kepada orang tua. Lewat kerendahan hati saat menang. Lewat keyakinan yang mereka jalani tanpa merasa perlu memaksakan kepada siapa pun.
Di saat yang sama, skuad Maroko juga menjadi potret dunia modern. Banyak pemainnya lahir dan besar di Belanda, Belgia, Prancis, atau Spanyol. Mereka tumbuh dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Namun ketika mengenakan seragam merah, mereka hanya membawa satu nama. Maroko.
Itulah mengapa Maroko menarik. Mereka bukan hanya sedang memenangkan pertandingan. Mereka sedang menunjukkan bahwa identitas tidak selalu menjadi tembok. Ia bisa menjadi jembatan. Jembatan antara generasi. Jembatan antara diaspora dan tanah leluhur. Jembatan antara prestasi dan nilai-nilai yang mereka yakini.
Dulu, kemenangan Maroko disebut kejutan. Hari ini, mungkin kita perlu mulai menyebutnya sebagai kualitas. Karena ada satu perbedaan sederhana antara keberuntungan dan tradisi. Kalau sekali, orang menyebutnya kejutan. Kalau berulang, orang mulai menyebutnya karakter.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
