Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hikmalia Triana Putri

Bukan Kekurangan Waktu, Kita Kekurangan Manajemen Perhatian

Bisnis | 2026-07-04 23:16:42

"Sehari terasa kurang dari 24 jam."

Kalimat itu mungkin sering kita ucapkan. Tugas kuliah menumpuk, pekerjaan belum selesai, pesan yang belum dibalas semakin banyak, sementara daftar kegiatan terus bertambah. Rasanya waktu berjalan terlalu cepat dan kita selalu tertinggal.

Namun, benarkah masalahnya karena kita kekurangan waktu?

Jika dipikirkan kembali, semua orang memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Tidak ada yang mendapat tambahan waktu hanya karena jabatannya lebih tinggi atau pekerjaannya lebih banyak. Lalu mengapa ada orang yang mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan tenang, sementara yang lain merasa kewalahan sejak pagi?

Jawabannya mungkin bukan terletak pada waktu, melainkan pada perhatian.

Di era digital, perhatian menjadi sesuatu yang paling mudah terpecah. Belum lima menit mengerjakan tugas, notifikasi media sosial muncul. Setelah itu, muncul keinginan membuka aplikasi lain, membalas pesan, atau sekadar melihat video singkat yang awalnya hanya "sebentar". Tanpa disadari, beberapa puluh menit telah berlalu, tetapi pekerjaan belum banyak berubah.

Yang membuat situasi ini semakin sulit adalah distraksi tidak selalu datang dari luar. Sering kali kita sendiri yang menciptakannya. Saat merasa bosan mengerjakan sesuatu, tangan secara otomatis mengambil ponsel. Ketika pekerjaan terasa berat, kita mencari hiburan singkat yang akhirnya membuat fokus semakin hilang.

Inilah mengapa manajemen perhatian menjadi semakin penting. Selama ini kita lebih sering membahas manajemen waktu, membuat jadwal harian, atau menyusun daftar pekerjaan. Padahal, jadwal yang rapi tidak akan banyak membantu jika perhatian terus berpindah dari satu hal ke hal lainnya.

Bayangkan seseorang memiliki dua jam untuk menyelesaikan sebuah laporan. Secara teori, waktu tersebut sudah lebih dari cukup. Namun, jika setiap beberapa menit ia berhenti untuk membuka media sosial, membaca notifikasi, atau membalas pesan, maka dua jam itu tidak lagi benar-benar digunakan untuk bekerja. Yang hilang bukan waktunya, melainkan kualitas fokus selama waktu tersebut.

Fenomena ini juga dikenal sebagai attention residue, yaitu kondisi ketika pikiran masih tertinggal pada aktivitas sebelumnya sehingga sulit memberikan perhatian penuh pada pekerjaan yang sedang dilakukan. Akibatnya, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali fokus dan produktivitas pun menurun.

Ironisnya, kita sering menyalahkan waktu atas sesuatu yang sebenarnya disebabkan oleh kebiasaan sendiri. Kita berkata tidak punya cukup waktu, padahal sebagian besar waktu tersebut habis karena perhatian yang terus terbagi.

Dalam ilmu manajemen, sumber daya yang terbatas harus dikelola dengan baik agar menghasilkan nilai yang maksimal. Selama ini kita menganggap waktu sebagai sumber daya utama. Padahal, perhatian juga merupakan aset yang tidak kalah penting. Bahkan, waktu tanpa perhatian hampir tidak menghasilkan apa pun.

Mengelola perhatian bukan berarti harus menghilangkan semua gangguan. Hal itu hampir mustahil dilakukan. Namun, kita bisa mulai dengan membangun kebiasaan sederhana, seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu, atau memberi jeda khusus untuk membuka media sosial setelah tugas selesai.

Kebiasaan kecil tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Ketika perhatian tidak lagi terpecah, pekerjaan terasa lebih ringan, hasil yang diperoleh lebih maksimal, dan waktu yang dimiliki pun terasa lebih panjang.

Pada akhirnya, produktivitas bukan tentang seberapa sibuk seseorang terlihat, melainkan tentang seberapa baik ia mampu mengelola fokusnya. Dunia akan selalu dipenuhi notifikasi, informasi, dan berbagai hal yang berusaha merebut perhatian kita. Namun, keputusan untuk tetap fokus tetap berada di tangan kita sendiri.

Barangkali, yang selama ini perlu kita kelola bukan hanya jadwal harian, melainkan juga perhatian. Sebab, waktu memang terus berjalan, tetapi perhatianlah yang menentukan ke mana waktu itu benar-benar digunakan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image