Duka Tersembunyi
Sastra | 2026-07-04 19:41:41Bulir-bulir
Yang menghiasi sekujur
Tubuh seorang gadis
Tak sempurna itu bukan apa-apa
Ia bagai terperangkap
Pada riuh badai
Besar yang ingin
menenggelamkannya
Tuhan, aku lelah mengucapkannya
Setiap kali semesta menoreh luka
Lebam-lebam itu sangat merisak,
kian menyiksa,
merenggut setengah dari kewarasan.
Hatinya remuk redam,
batinnya ingin sekali bersuara.
Jiwanya yang layu bergemuruh hebat,
berteriak keras meminta pulang.
Namun, tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Selain menangis tanpa suara,
berteman oleh sunyi hingga
sang arunika analis.
Ini bukan kali pertama,
seharusnya aku tak apa; pikirnya.
Barangkali ini cara kerja semesta,
untuk membuatnya lebih tangguh.
Merawat sembilu berbisa,
tercipta atas penuh rasa sadar.
Dari seseorang yang dianggap; perisai.
Aprianus Gregorian Bahtera
Fakultas filsafat universitas Widya Mandira kupang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
