Perbedaan Muharram: Laboratorium Tasamuh dan Ittisal dalam Pemikiran Nurcholish Madjid
Agama | 2026-07-03 15:23:56
Perbedaan Muharram: Laboratorium Tasamuh dan Ittisal dalam Pemikiran Nurcholish Madjid
Ketika Bulan Membawa Pertanyaan
Setiap tahun kita menemukan fenomena yang sama, biasanya terulang kembali terlebih lagi di negara kita Indonesia. Ketika bulan Ramadhan akan tiba atau menjelang Muharram, umat Islam di berbagai belahan dunia menunggu kabar kapan tepatnya bulan suci itu dimulai. Jawabannya tidak selalu sama. Indonesia merayakan pada satu tanggal, sementara Arab Saudi, Mesir, atau Malaysia bisa berbeda. Pertanyaan sederhana "Kapan Muharram dimulai?" ternyata menyimpan kompleksitas yang lebih dalam dari sekadar astronomi atau kalender.
Fenomena ini sering dipandang sebagai Perbedaan penentuan, sebuah cerminan ketidakbersatuan umat Islam. Media massa kerap meliput dengan nada menyesal, "Mengapa umat Islam tidak bisa satu dalam hal ini?" Pertanyaan ini mengandung asumsi yang perlu kita gali lebih dalam. Namun, ada perspektif lain yang lebih humanis dan konstruktif. Seorang pemikir Islam besar dari Indonesia Nurcholish Madjid, melihat fenomena ini tidak sebagai kegagalan, melainkan sebagai laboratorium hidup untuk belajar tasamuh (toleransi yang bermakna) dan ittisal (persambungan spiritual dalam keragaman) yang menekankan bahwa perbedaan bukan musuh, tetapi guru yang berharga.
Memahami Konsep Tasamuh dan Ittisal dalam Pemikiran Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid sering menekankan bahwa tasamuh bukanlah sekadar toleransi pasif yang menerima perbedaan sambil bergelengeran dengan ketidakpedulian. Tasamuh adalah keringanan hati yang aktif, kesediaan untuk memahami, dan kemampuan untuk berjalan bersama meski berbeda jalur. Dalam bukunya "Islam: Doktrin dan Peradaban", Madjid menuliskan:
"Tasamuh dalam Islam bukan berarti relativisme atau ketidakpedulian terhadap kebenaran, sebaliknya ia adalah kesadaran bahwa kebenaran itu kompleks, dan manusia memiliki keterbatasan dalam memahaminya. Oleh karena itu, kita bisa teguh pada keyakinan dengan menghormati pencarian kebenaran orang lain."
Pernyataan ini penting karena sering kali ketika kita mendengar kata toleransi, kita membayangkan orang yang tidak peduli dengan kebenaran. Padahal, tasamuh Madjid itu punya pendirian, tapi tidak menutup hati. Ini adalah keseimbangan yang sangat sulit dicapai, namun sangat penting dalam konteks kemajemukan umat Islam global.
Tasamuh juga bukan tentang menerima semua hal sebagai sama baiknya. Sebaliknya, tasamuh adalah kesadaran bahwa dalam hal-hal yang bukan prinsip fundamental, ada ruang untuk metodologi berbeda yang tetap sah. Ini adalah kebijaksanaan Islam yang sudah dikenal sejak zaman klasik melalui konsep ikhtilaf.
Ittisal: Persambungan dalam Keberagaman
Jika tasamuh adalah sikap hati, maka ittisal adalah tindakan konkret. Ittisal berarti tetap terhubung, tetap bersatu meski dalam perbedaan metodologi atau pemahaman. Ini bukan hanya pasif menerima kehadiran orang lain, tetapi aktif membangun jembatan komunikasi dan pemahaman. Dalam konteks yang berbeda, Madjid menggunakan istilah ini untuk menjelaskan bahwa, Umat Islam, meskipun beragam madhab, corak pemikiran, dan praktik, tetap bersatu dalam nilai-nilai inti (ushul). Ittisal adalah kesadaran bahwa kita adalah satu keluarga yang lebih besar, melebihi perbedaan-perbedaan yang bersifat furuh (cabang).
Furuh vs. Ushul ini adalah kunci dari pemahaman Madjid yang sangat relevan dengan kasus Muharram:
v Ushul (prinsip fundamental): Keimanan kepada Allah, kepentingan moral, keadilan, misericordia, kesatuan umat, shahada (testimoni keimanan)
v Furuh (cabang/detail): Metode menentukan awal bulan, bentuk sujud, waktu berbuka puasa dengan persis di beberapa detik, detail prosesi ibadah yang bersifat teknis
Masalah penentuan Muharram adalah furuh, bukan ushul. Ini penting untuk dipahami oleh setiap Muslim karena sering kali, umat membesar-besarkan masalah furuh seolah-olah itu masalah ushul yang mengancam kesatuan iman.a
Madjid juga menekankan bahwa dalam sejarah Islam, para ulama klasik seperti Imam Syafi'i dan Imam Malik memiliki perbedaan metodologi yang sangat signifikan, namun mereka tetap saling menghormati dan tidak menganggap satu sama lain sebagai "keluar dari Islam". Ini adalah contoh ittisal dalam praktik historis Islam.
Muharram dan Rukyat Sebuah Kisah Metodologi yang Kompleks
Untuk memahami mengapa perbedaan penentuan Muharram terjadi, kita perlu kembali ke sumber hadis tentang rukyat (observasi bulan). Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari:
"Jika kalian melihat hilal (bulan muda), maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi (setelah 29 hari), maka berbukalah. Dan jika cuaca mendung, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh hari."
Hadis ini sangat sederhana dan praktis. Namun, dalam konteks dunia modern yang kompleks dengan jutaan Muslim tersebar di berbagai zona geografis dan iklim, hadis yang sama menghasilkan interpretasi berbeda:
1. Kelompok Tradisionalis
Berpandangan: rukyat harus dilakukan dengan mata telanjang, oleh orang yang terpercaya dan adil, dan disaksikan oleh hakim/pejabat agama. Mereka merujuk pada praktik Nabi dan sahabat yang langsung menggunakan mata mereka untuk melihat hilal. Kelompok ini khawatir bahwa teknologi bisa menjadi pengganti dari prosedur yang sudah ditentukan Nabi.
2. Kelompok Modernis
Berpandangan: teknologi astronomi modern (teleskop, perhitungan matematis, software pengamatan langit) adalah alat bantu yang sah dalam menentukan kejelasan hilal. Mereka berargumen bahwa tujuan hadis adalah menentukan awal bulan secara akurat, dan teknologi modern membantu mencapai tujuan itu dengan lebih presisi. Mereka merujuk pada kaidah fikih: "Cara-cara baru untuk mencapai tujuan hukum yang sama adalah diperbolehkan."
3. Kelompok Kompromis
Berpandangan bahwa kombinasi keduanya yakni rukyat mata sebagai metode utama yang dihormati secara tradisional, namun didukung oleh data astronomi dan observasi teknologi. Pendekatan ini mencoba menjembatani kedua kelompok di atas.
Ketiga pendekatan ini semua sah secara metodologis, namun, ketika masing-masing negara atau komunitas memilih pendekatan berbeda, hasilnya pun berbeda. Kondisi geografis, iklim, infrastruktur, dan prioritas institusional membuat setiap negara membuat pilihan yang berbeda. Misalnya, pada penentuan awal Ramadhan 2023:
v Arab Saudi mengumumkan awal Ramadhan pada tanggal X (berdasarkan rukyat di beberapa lokasi)
v Indonesia mengumumkan pada tanggal X+1 (berdasarkan rukyat di lokasi-lokasi tertentu yang cuacanya berbeda)
v Malaysia bisa memilih salah satu atau yang lain lagi
v Mesir memiliki sistem sendiri
v Amerika Utara memiliki sistem tersendiri
Ini bukanlah kesalahan siapa-siapa. Ini adalah hasil dari pilihan metodologi yang berbeda dan keduanya sah secara syar'i.
Perbedaan sebagai Rahmat Bukan Musibah
Nurcholish Madjid sering mengutip prinsip yang tertulis dalam berbagai karya pemikir Islam:
"Perbedaan pendapat dalam umatku adalah rahmat." (Atsar/riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi, meskipun sanad-nya diperselisihkan)
Meskipun sanad hadis ini diperdebatkan oleh para ulama hadis, makna filosofisnya sangat kuat dan didukung oleh praktik historis Islam yang jelas. Madjid menggunakan prinsip ini untuk menjelaskan bahwa, perbedaan dalam perkara-perkara yang bukan prinsip fundamental sebenarnya adalah tanda kehidupan intelektual yang sehat. Umat yang monolitis dalam setiap perkara detail malah menunjukkan ketiadaan pemikiran kritis dan kemampuan beradaptasi. Dalam berbagai ceramah dan tulisannya, Madjid menekankan dengan jelas:
"Jangan samakan antara kesatuan umat dengan uniformitas pemikiran. Kesatuan umat Islam terletak pada ikatan iman kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan pada kesamaan cara menentukan awal bulan atau bentuk takbir Ied."
Ini adalah perspektif yang sangat berani dan membebaskan yang secara fundamental mengubah cara kita memandang perbedaan Muharram. Madjid membebaskan umat dari tekanan psikologis untuk selalu sama dalam hal-hal sekunder.
Lebih lanjut, Madjid juga menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam, diversitas madhab hukum (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali, dan madhab-madhab lainnya) adalah bukti bahwa Islam mendorong ijtihad dan pemikiran berbeda dalam hal-hal yang tidak menyangkut ushul iman. Kehadiran lima madhab besar dalam Islam menunjukkan bahwa pluralisme metodologi adalah bagian dari DNA Islam itu sendiri.
Dalam tradisi Islam, ada konsep "ikhtilaf adalah rahmat" yang tidak hanya slogan tetapi telah dipraktikkan selama berabad-abad. Para ulama seperti Imam Nawawi bahkan mengatakan:
"Para ulama sepakat bahwa seorang mujtahid yang melakukan ijtihad dengan sungguh-sungguh akan mendapat pahala, baik jika benar maupun jika salah. Namun, yang paling benar adalah ia yang paling dekat dengan kebenaran."
Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam secara filosofis menghargai proses ijtihad meskipun menghasilkan kesimpulan berbeda, selama prosesnya jujur dan menghormati sumber-sumber utama Islam.
Muharram sebagai Laboratorium Tasamuh
Jika kita menerima premis bahwa perbedaan Muharram adalah furuh dan bukan ushul, maka kita bisa menggunakan fenomena ini sebagai tempat latihan berharga untuk membangun karakter umat Muslim yang dewasa:
1. Belajar Mendengarkan tanpa Merasa Terancam
Ketika negara A mengatakan "Kami melihat hilal hari ini," dan negara B berkata "Kami belum melihatnya," apakah keduanya sedang berdebat untuk menemukan siapa yang benar Atau sebenarnya, mereka melaporkan kondisi langit di lokasi mereka masing-masing. Horizon ke horizon berbeda. Cuaca berbeda. Musim berbeda. Ketinggian tempat berbeda. Laporan mereka bisa sama-sama akurat tanpa salah satu harus mengalah. Tasamuh di sini berarti Aku percaya pada metode kami dan laporan observasi kami, namun aku menghormati bahwa negara lain dengan kondisi geografis, klimatologi, dan ketinggian yang berbeda bisa sampai pada kesimpulan berbeda tanpa itu berarti mereka salah atau berdusta. Ini adalah pembelajaran psikologis yang sangat penting: menghilangkan mentalitas zero-sum (satu pihak menang, pihak lain kalah) dan menggantinya dengan pemahaman bahwa kedua pihak bisa benar dalam konteks mereka masing-masing.
2. Belajar Menghargai Expertise yang Berbeda-beda
Di Indonesia, penentuan awal bulan dipimpin oleh Kementerian Agama RI, dengan melibatkan astronom dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hakim agama dari berbagai tingkat, dan organisasi Islam terkemuka. Proses pengambilan keputusan melibatkan verifikasi data, kesaksian, dan pertimbangan teknis yang mendalam. Adapun di Arab Saudi, prosesnya berbeda yang melibatkan metode untuk lebih menekankan pada rukyat tradisional dengan kesaksian qadi (hakim agama) sebagai otoritas utama. Lalu di Mesir, ada komitmen pada astronomi klasik yang dipadukan dengan metode modern. Malaysia juga memiliki sistem yang melibatkan koordinasi antara berbagai negara ASEAN.
Setiap sistem mencerminkan komitmen mereka terhadap akurasi dengan cara-cara yang mereka anggap terbaik, disini tasamuh berarti Aku bisa menghargai expertise, integritas, dan komitmen pihak lain terhadap kebenaran, meskipun aku tidak setuju dengan metodologinya. Aku percaya bahwa mereka juga mencari yang terbaik, sebagaimana aku mencari yang terbaik. Ini adalah bentuk mutual respect (saling menghormati) yang sangat diperlukan dalam dunia global.
3. Belajar Memisahkan Personal Identity dari Perbedaan Metodologi
Ketika puasa Ramadhan jatuh pada tanggal 1 Ramadhan menurut kalender negara, dan tetangga saya menjalankannya pada tanggal 2, apakah ini mengancam identitas saya sebagai Muslim? Tentu saja tidak. Sebaliknya, ini kesempatan untuk merealisasikan bahwa keislaman tidak terukur dari kesamaan kalender dengan orang lain, melainkan dari komitmen saya pada nilai-nilai Islam: kejujuran, keadilan, belas kasih, integritas, kesatuan spiritual, dan dedikasi pada kehidupan yang bermakna menurut ajaran Allah." Identitas Muslim yang sehat adalah identitas yang dibangun atas fondasi iman dan moralitas, bukan atas kesamaan detail teknis dalam pelaksanaan ibadah.
Ini yang dimaksud Madjid dengan ittisal yakni tetap terhubung pada level yang lebih dalam, melebihi perbedaan teknis. Ittisal adalah kesadaran esensial bahwa kita adalah satu umat, meskipun beragam dalam praktik.
4. Belajar Memberikan Kontribusi pada Solusi Kolektif
Perbedaan Muharram juga mengajarkan kita bahwa solusi besar memerlukan kontribusi banyak pihak. Bukan hanya negara-negara besar yang menentukan, tetapi juga negara-negara kecil, lembaga riset, universitas, dan bahkan individu yang bersemangat untuk belajar astronomi dan fikih. Ini adalah pembelajaran tentang demokrasi dalam pengambilan keputusan agama yang tidak otoriter, tetapi partisipatif dan transparan.
Ittisal dalam Praktik: Bagaimana Kita Tetap Bersatu
Saat ini, umat Islam sudah menunjukkan beberapa bentuk ittisal yang indah dan seringkali tidak disadari:
1. Saling Menghormati Keputusan Lokal
Ketika seseorang Muslim Indonesia yang tinggal di Arab Saudi memilih untuk berpuasa sesuai keputusan Saudi (bukan Indonesia), tidak ada yang mengatakan "Kamu khianat pada negara asalmu" atau "Kamu tidak lagi Muslim Indonesia". Sebaliknya, ini dipandang sebagai penghormatan pada kewenangan lokal dan kemampuan beradaptasi.
Ini adalah praktik ittisal yang sudah hidup dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim, meskipun kadang tersembunyi dan tidak terlalu disoroti.
2. Dialog Antar-Negara yang Berkelanjutan
Organisasi Islam internasional seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI), Islamic Fiqh Academy, dan berbagai forum bilateral secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas standardisasi penentuan awal bulan. Ini adalah bentuk ittisal institusional yaitu mencari jalan bersama tanpa memaksakan uniformitas.
Platform seperti MABIMS (Majlis Agama Islam Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) juga menunjukkan bagaimana negara-negara sekawasan bisa melakukan koordinasi intens untuk mencapai kesamaan penentuan, meskipun tidak selalu berhasil sepenuhnya.
3. Kesadaran akan Aturan Mayoritas dengan Fleksibilitas
Dalam banyak negara, umat Islam yang minoritas belajar untuk menghormati keputusan mayoritas Muslim lokal tentang awal bulan, sambil tetap menghubungi keluarga di negara asal untuk berbagi momen ibadah meskipun pada hari yang berbeda. Ini adalah praktik tasamuh dalam kehidupan nyata. Mereka tidak merasa tercabut dari identitas mereka, tetapi malah merasakan ikatan spiritual yang lebih dalam dengan Muslim lain di seluruh dunia.
4. Era Media Sosial dan Transparansi
Di era modern ini, data tentang rukyat, observasi langit, dan keputusan berbagai negara bisa diakses dengan mudah melalui media sosial dan website resmi. Ini menciptakan transparansi yang belum pernah ada sebelumnya. Umat Muslim bisa memahami mengapa perbedaan terjadi, bukan hanya menerima begitu saja. Pemahaman ini adalah fondasi bagi tasamuh yang matang.
Solusi Menuju Soliditas Umat
Dalam semangat pemikiran Nurcholish Madjid dan kontribusi pemikir Muslim kontemporer lainnya, berikut adalah beberapa langkah konkret menuju soliditas umat Islam dalam penentuan Muharram:
Fase 1: Memperkuat Tasamuh
Lembaga-lembaga Islam (pesantren, universitas Islam, organisasi remaja, majelis ta'lim, dan pusat-pusat komunitas) perlu mengajarkan dengan jelas dan konsisten bahwa perbedaan Muharram adalah furuh yang sah, bukan ushul yang memisahkan umat. Program edukasi ini bisa mencakup:
v Curriculum di pesantren dan universitas Islam tentang konsep ikhtilaf
v Khutbah Jumat yang membahas perbedaan Muharram dengan perspektif konstruktif
v Artikel dan konten media sosial yang mengubah narasi dari "Kita terpecah" menjadi "Kita beragam, tapi tetap bersatu dalam nilai-nilai inti"
v Webinar dan dialog publik yang melibatkan ulama, astronom, dan intelektual Muslim
Rujukan yang dapat digunakan seperti Pemikiran Madjid dalam "Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam Kehidupan Modern" yang menunjukkan bahwa pluralisme adalah kekuatan Islam, bukan kelemahannya. Juga bisa dirujuk karya-karya Yusuf Qardawi tentang konsep "Al-Ijtihad fi al-'Asr al-Hadis" (Ijtihad di Era Modern).
Memperkuat dialog antar Madzab dan antar negara melalui pertemuan rutin antara para ahli rukyat, astronom Muslim, ulama dari berbagai negara, dan peneliti akademik juga perlu diperkuat dan diperluas. Dialog ini bertujuan untuk:
v Saling memahami metodologi masing-masing dengan empati dan keinginan belajar, bukan saling menjatuhkan
v Membangun kepercayaan interpersonal antara para pembuat keputusan
v Mendiskusikan temuan-temuan astronomi terbaru dan metodologi yang paling akurat
v Mencari area-area kesepakatan bersama yang bisa dijadikan fondasi kolaborasi
v Mengidentifikasi hambatan-hambatan (budaya, institusional, geografis) yang membuat perbedaan sulit dihilangkan
Organisasi seperti MABIMS (Majlis Agama Islam Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) sudah melakukan ini dengan sangat baik. Model ini perlu diperluas ke tingkat global dengan melibatkan negara-negara Muslim lainnya, termasuk negara-negara Muslim di Afrika, Amerika, dan Asia.
Transparansi data rukyat dan proses pengambilan keputusan juga perlu diperhatikan. data observasi langit, laporan cuaca, kesaksian rukyat, dan pertimbangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan harus dibuka secara transparan.
Ini akan membantu umat memahami mengapa perbedaan terjadi bukan karena kesalahan atau kebohongan, tetapi karena kondisi objektif yang berbeda-beda. Transparansi ini juga akan membangun kredibilitas institusi di mata umat. Platform digital bisa dibuat untuk mendokumentasikan semua data rukyat dari berbagai negara secara real-time, sehingga umat bisa melihat langsung proses pengambilan keputusan.
Fase 2: Membangun Konvergensi Metodologi
Alih-alih mengandalkan hanya rukyat mata atau hanya perhitungan, bisa dikembangkan standar bersama yang mengintegrasikan keduanya secara harmonis, yakni rukyat mata tetap dihormati sebagai metode tradisional yang memiliki nilai spiritual dan historis penting, lalu data astronomi modern menjadi pemandu dan verifikasi untuk memastikan akurasi maksimal dengan kriteria visibility hilal yang jelas dan disepakati secara global. Standar internasional ini tidak menghilangkan otonomi setiap negara, tetapi memberikan kerangka kerja bersama yang memudahkan konvergensi.
Organisasi internasional (OKI yang diperkuat, atau badan khusus yang dibentuk dengan nama seperti "International Islamic Lunar Calendar Council") bisa menjadi tempat koordinasi dan pengambilan keputusan, dengan tetap menghormati otonomi setiap negara. Model yang bisa diterapkan seperti:
v World Meteorological Organization (WMO) yang mengoordinasikan prakiraan cuaca global tanpa membatalkan prakiraan lokal masing-masing negara
v International Atomic Time (TAI) yang menyediakan standar waktu global yang diadopsi berbagai negara secara sukarela
v Forum ini bisa menerbitkan rekomendasi bersama tentang awal bulan berdasarkan data internasional yang telah diverifikasi
Investasi pada teknologi satelit untuk observasi hilal perlu diperkuat. Dalam 15-20 tahun ke depan, teknologi satelit bisa memberikan observasi real-time hilal di berbagai belahan bumi secara bersamaan dan akurat. Namun, teknologi ini perlu dikembangkan dengan penuh sensitivitas terhadap tradisi rukyat. Teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti keputusan manusia yang bijak. Keputusan akhir tetap di tangan komunitas Muslim, didukung oleh data teknologi yang akurat.
Fase 3: Konvergensi Global dan Satu Kalender Muharram
Jika langkah di atas berjalan baik, maka kemungkinan beberapa tahun kemudian, umat Islam secara sukarela dan atas dasar kesepakatan bersama, memilih untuk menggunakan satu kalender lunar global yang disepakati oleh mayoritas besar muslim dunia dengan tetap menghormati tradisi tradisi lokal yang mungkin berbeda-beda di setiap negara. Namun dalam hal penentuan awal bulan resmi untuk ibadah, ada keputusan tunggal yang diambil bersama dan diimplementasikan secara global. Ini bukan imposisi melainkan ittisal sejati kesadaran bersama mengenai kesatuan dalam hal ini lebih bermanfaat daripada fragmentasi yang dimana teknologi dan dialog mencapai tingkat kematangannya sehingga keputusan ini diambil melalui proses yang partisipatif, transparan, dan menghormati semua pihak yang didasarkan pada maslahah yang jelas dan diakui bersama. Maka ketika itu tiba, perbedaan Muharram akan berubah dari isu yang memicu ketegangan menjadi kisah sukses tentang bagaimana umat Islam belajar untuk bersatu. Generasi Muslim masa depan akan membaca tentang fenomena ini sebagai pembelajaran historis tentang pentingnya dialog, tasamuh, dan ittisal.
Muharram Sebagai Pelajaran yang Lebih Besar
Fenomena ini jika dipahami dengan benar, mengajarkan kita lebih dari sekadar penentuan kalender. Ini adalah pelajaran mendalam tentang bagaimana menjalani kehidupan dalam kemajemukan:
1. Kesatuan Itu Bukan Uniformitas
Nurcholish Madjid sering mengatakan bahwa Islam adalah agama yang merangkul pluralisme tanpa relativisme. Artinya:
v Kami bisa berbeda dalam cara tanpa berpisah dalam tujuan
v Kami bisa beragam dalam metode tanpa hilang dalam nilai-nilai inti
v Kami bisa memiliki pandangan berbeda tanpa harus menganggap yang lain salah
Perbedaan Muharram menunjukkan hal ini secara konkret dan nyata serta memperkaya kesatuan itu dengan kedalaman kesatuan yang tidak dibangun atas kesamaan permukaan, tetapi atas fondasi nilai-nilai spiritual yang mendalam.
2. Kepercayaan adalah Fondasi
Untuk menerima perbedaan Muharram dengan lapang dan matang, umat Islam perlu saling percaya bahwa negara lain tidak menentukan awal bulan dengan motivasi jahat atau untuk memecah umat, percaya bahwa mereka juga mencari kebenaran sebagaimana kita mencarinya, percaya bahwa integritas dan komitmen pada kebenaran ada di mana-mana, bukan hanya di negara kita, percaya bahwa perbedaan metode tidak sama dengan perbedaan integritas. Kepercayaan ini adalah aset spiritual yang sangat berharga, dimana dunia yang semakin polarisasi dan penuh dengan ketidakpercayaan, kemampuan umat Muslim untuk saling percaya meskipun dalam perbedaan.
3. Kesatuan Spiritual Lebih Penting Daripada Sinkronisasi Teknis
Ketika Muslim Indonesia berpuasa pada 1 Ramadhan menurut kalender mereka, dan Muslim Arab Saudi juga berpuasa (mungkin pada 1 Ramadhan versi mereka, atau tanggal kalender Gregorian yang berbeda), mereka sedang melakukan hal yang sama secara spiritual, meskipun tidak pada hari kalender Gregorian yang identik.
Keduanya sedang menyambut bulan suci dengan hati yang penuh khidmat, menyucikan diri dari dosa dan keburukan, mendekatkan diri kepada Allah, merasakan kesatuan dengan muslim di seluruh dunia yang juga berpuasa
Ini adalah ittisal sejati sebab kesatuan pada level yang paling dalam dan paling bermakna tidak bisa dirusak oleh perbedaan tanggal, karena terletak pada kesadaran spiritual yang sama, bukan pada sinkronisasi logistik yang identik.
4. Kedewasaan Spiritual
Kemampuan untuk menerima perbedaan Muharram dengan lapang adalah tanda kedewasaan spiritual. Seorang Muslim yang dewasa secara spiritual adalah tidak mudah tersinggung dengan perbedaan, bisa membedakan antara yang prinsip dan yang tidak, bisa bersikap teguh pada keyakinannya sambil menghormati keyakinan orang lain, bisa fokus pada yang penting tanpa terganggu oleh detail sekunder. Ini adalah kualitas yang sangat dibutuhkan umat Muslim di era modern ini, di mana ada begitu banyak isu yang lebih urgent dan membutuhkan perhatian.
Harapan Menjelang Masa Depan
Kita bisa membayangkan sebuah hari di masa depan ketika seluruh umat islam, dari Jakarta hingga Kairo, dari Istanbul hingga Kuala Lumpur, dari Lagos hingga Minneapolis, menerima pengumuman awal Muharram dari satu sumber yang mereka percayai dan hormati bersama.
Pengumuman itu adalah hasil dari dialog bertahun penuh tasamuh, riset dan pengembangan teknologi antara tradisi dan modernitas, kesepakatan yang partisipatif dan transparan, dan komitmen pada maslahah. Ketika hari itu tiba, tidak akan ada yang merasa kehilangan identitas atau martabat mereka. Sebaliknya, umat Islam akan merasakan:
"Kami memilih untuk satu dalam hal ini bukan karena terpaksa, tetapi karena kami memahami bahwa kesatuan dalam soal sekunder ini adalah cerminan dari kesatuan spiritual kami yang lebih dalam dan lebih bermakna. Kami bersatu, bukan karena hilang identitas individual, tetapi karena menemukan identitas kolektif yang lebih besar." Ini adalah visi cita-cita yang mulia dan realistis mulia karena berbicara tentang persatuan dan kedewasaan spiritual, realistis karena dibangun atas fondasi dialog nyata yang sudah terjadi dan teknologi yang terus berkembang.
Nurcholish Madjid dan Harapan untuk Umat
Nurcholish Madjid, melalui berbagai karyanya, selalu menekankan bahwa umat Islam adalah komunitas yang hidup dan dinamis. Keberlangsungan dan kesuksesan Islam bukan pada kebekuan atau uniformitas, tetapi pada"Kemampuan untuk tetap setia pada prinsip-prinsip inti sambil terus beradaptasi dengan realitas yang berubah. Kemampuan untuk berbeda tanpa bermusuhan. Kemampuan untuk beragam sambil tetap bersatu. Kemampuan untuk berinovasi tanpa meninggalkan warisan. Ini adalah tanda kehidupan yang sehat."
Perbedaan Muharram, jika dipahami melalui lensa tasamuh dan ittisal, bukan menunjukkan kelemahan umat Islam. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa umat Islam memiliki kecerdasan kolektif yang layak untuk hidup bersama dalam keberagaman, saling menghormati, dan tetap bersatu dalam nilai-nilai fundamental. Setiap Muslim yang menerima perbedaan Muharram dengan lapang, setiap pemimpin yang mendorong dialog konstruktif, setiap negara yang transparan dalam pengambilan keputusan mereka semua adalah pelaku dalam proyek jangka panjang untuk mewujudkan umat Islam yang semakin matang dan dewasa. Visi masa depan yang indah adalah ketika perbedaan Muharram tidak lagi menjadi topik yang membuat kita sedih, defensif, atau terpecah-pecah, tetapi menjadi cerita sukses tentang bagaimana umat Islam belajar bersatu sambil menghormati keunikan masing-masing, dan bagaimana dari perbedaan ini tercipta pemahaman yang lebih dalam tentang kesatuan spiritual yang sejati. Hari itu akan tiba. Dan ketika itu tiba, kita akan menyadari bahwa perjalanan menuju kesatuan itu sendiri adalah ibadah yakni ibadah tasamuh, ibadah ittisal, ibadah menjadi umat yang bijak, matang, inklusif, dan bersatu dalam keragaman yang bermakna, Wallahu a'lam wa ahkam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
