Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Iwan Gustiawan Fadwi

Ketika Masa Depan Menggugat Gen Z karena Lalai Belajar

Edukasi | 2026-06-30 11:03:34
Gambar Ilustrasi (generate AI)

Ada satu pemandangan yang hari ini semakin sering terlihat di ruang kelas, perpustakaan, maupun coffee shop: laptop terbuka, buku tersedia di meja, tetapi perhatian sepenuhnya tersedot ke layar ponsel.

Scrolling TikTok beberapa menit berubah menjadi satu jam. Niat membuka materi kuliah berakhir pada berpindah-pindah aplikasi. Semua terasa sibuk, tetapi tidak benar-benar fokus pada sesuatu.

Ironisnya, keadaan itu perlahan dianggap normal.

Kita hidup di era ketika manusia semakin sulit membedakan antara benar-benar bertumbuh dan sekadar terlihat bertumbuh. Banyak orang tampak produktif di media sosial, tetapi diam-diam kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam proses belajar yang serius.

Sebagai dosen dan praktisi hukum, saya melihat fenomena ini menarik dibaca melalui satu istilah hukum: wanprestasi.

Dalam hukum perdata, wanprestasi adalah keadaan ketika seseorang gagal memenuhi kewajibannya dalam sebuah perjanjian. Bisa karena lalai, terlambat, atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan isi kesepakatan.

Lalu apa hubungannya dengan generasi digital hari ini?

Tanpa sadar, setiap orang sebenarnya memiliki “kontrak diam-diam” dengan masa depannya sendiri. Ketika seseorang memilih kuliah, memiliki cita-cita, atau ingin hidup lebih baik, maka pada saat yang sama ia sedang membuat komitmen untuk belajar, melatih disiplin, dan membangun kapasitas dirinya.

Masalahnya, di era media sosial, banyak orang mulai melanggar kontrak itu secara perlahan.

Waktu yang seharusnya dipakai untuk membangun kemampuan habis untuk scrolling tanpa arah. Fokus terkuras demi notifikasi. Energi dihabiskan untuk menjaga eksistensi digital. Kita akhirnya lebih sibuk mempercantik tampilan hidup daripada memperkuat isi hidup.

Media sosial membuat semuanya terlihat baik-baik saja.

Hari ini, banyak anak muda lebih takut dianggap gagal daripada benar-benar gagal. Lebih cemas kehilangan engagement dibanding kehilangan arah hidup. Akibatnya, lahirlah budaya performatif: belajar untuk konten, nongkrong untuk validasi, dan produktif hanya agar terlihat produktif.

Padahal kehidupan nyata tidak bekerja seperti algoritma TikTok.

Algoritma hanya menghargai perhatian. Sementara dunia nyata menghargai kemampuan.

Di media sosial, seseorang bisa terlihat sukses dalam semalam. Tetapi di dunia nyata, kompetensi tetap membutuhkan proses panjang yang tidak selalu menarik untuk dipamerkan. Skill dibangun dalam latihan yang berulang. Karakter tumbuh dari disiplin yang konsisten. Dan kedewasaan lahir dari proses yang sering kali sunyi.

Karena itu, persoalan terbesar generasi digital hari ini sebenarnya bukan kekurangan informasi, melainkan kehilangan fokus dan kedalaman.

Kita terlalu sering terdistraksi untuk benar-benar berpikir. Terlalu sibuk membangun citra untuk benar-benar membangun diri.

Dalam hukum, ada istilah culpa atau kelalaian. Ketika seseorang sebenarnya tahu suatu tindakan merugikan dirinya, tetapi tetap terus melakukannya, maka kelalaian itu menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Bukankah banyak dari kita sebenarnya sudah tahu?

Kita tahu scrolling berlebihan merusak fokus. Kita tahu validasi digital hanya bertahan sementara. Kita tahu flexing tidak otomatis membuat seseorang bernilai.

Tetapi semua itu terus diulangi setiap hari.

Tentu media sosial bukan musuh. Teknologi hanyalah alat. Namun ketika alat mulai mengendalikan manusia, di situlah masalah muncul. Banyak orang akhirnya hidup dalam perlombaan untuk terlihat sukses, padahal dirinya sendiri belum benar-benar bertumbuh.

Dan hidup, cepat atau lambat, selalu menguji manusia dengan cara yang jujur.

Ketika wawancara kerja dimulai, dunia tidak bertanya seberapa estetik feed media sosial kita. Ketika tanggung jawab datang, kehidupan tidak peduli berapa banyak likes yang pernah diperoleh seseorang.

Realitas hanya menghargai kualitas yang benar-benar dibangun.

Mungkin karena itu, tantangan terbesar Gen Z hari ini bukan menjadi terkenal, melainkan tetap fokus di tengah dunia yang terus menjadikan distraksi sebagai hiburan utama.

Sebab pada akhirnya, waktu adalah hakim paling adil.

Waktu selalu mampu membedakan siapa yang sungguh membangun masa depannya dan siapa yang selama ini hanya sibuk membangun pencitraannya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image