Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image aghistna akromatul hikmah

Kita Rukun di Upacara, Tapi Saling Blokir di Media Sosial

Eduaksi | 2026-06-28 18:01:52

Tanggal 17 Agustus selalu terasa sakral. Orang-orang mengenang dengan rapi, menyanyikan lagu yang sama, menunduk hormat di depan bendera yang sama. Sebentar saja, kita merasa satu.

Tapi coba buka media sosial malamnya.

Orang-orang yang tadi berdiri berdampingan di lapangan yang sama sudah kembali ke gelembung masing-masing. Ada yang menyindir, ada yang memblokir, ada yang menyebarkan narasi yang ujungnya membenturkan satu kelompok dengan kelompok lain. Kadang isu suku, kadang agama, kadang politik tapi fungsinya sama: membangun dinding.

Inilah yang saya maksudkan sebagai dua wajah yang sulit direkonsiliasi. Kita pandai sekali bersatu di panggung yang terlihat. Tapi di ruang yang lebih personal seperti di timeline, di grup chat, di kolom komentar, persatuan itu seringkali tidak bertahan lama.

Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Per tahun 2024, ada sekitar 139 juta pengguna aktif di berbagai platform, dengan rata-rata waktu penggunaan lebih dari 3 jam per hari (DataReportal, 2024). Dan pengguna terbesarnya adalah usia 18-34 tahun, di generasi yang sama yang menghafalkan Sumpah Pemuda di bangku SD.

Masalahnya bukan seberapa sering kita buka media sosial. Masalahnya adalah apa yang terjadi di sana.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, sepanjang Agustus 2018 hingga Desember 2023, ditemukan 12.547 kasus konten hoaks yang tersebar di berbagai platform digital dan media sosial menjadi saluran penyebaran utamanya (Kemenkominfo, 2024). Lebih spesifik lagi: menjelang Pemilu 2024, isu hoaks meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dari 10 isu di tahun 2022 menjadi 98 isu dalam sepuluh bulan pertama tahun 2023 saja (Kominfo, Oktober 2023).

Yang paling tidak terkirim bukan kuantitas. Tapi isinya: sebagian besar hoaks yang beredar menyasar sentimen SARA melingkupi agama, suku, ras, dan golongan. Bukan suatu kebetulan.

Ada yang perlu dipahami soal cara kerja media sosial: platform ini tidak dirancang untuk menyatukan. Ia dirancang untuk memancing keterlibatan (engagement) dan cara paling efektif untuk itu adalah konten yang memancing emosi.

Riset Universitas Muhammadiyah Jakarta (2025) menemukan bahwa paparan terhadap algoritma personalisasi di platform media sosial berkurang dengan eskalasi polarisasi tampilan di kalangan pengguna urban Indonesia, sekaligus mengancam kohesi sosial di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Wahid Institute juga mencatat, pada tahun 2020, tren sikap intoleransi di kalangan masyarakat Indonesia meningkat dari 46% menjadi 54%. Salah satu faktor yang disebutkan: kontestasi politik dan narasi kebencian yang menyebar melalui media sosial.

Jadi ada ironi yang cukup pahit di sini: semakin kita terhubung secara digital, semakin kita terpisah secara sosial.

Yang membuat masalah ini sulit diselesaikan bukan ketidaktahuan. Kebanyakan orang tahu bahwa menyebarkan hoaks itu tidak baik. Kebanyakan orang tahu bahwa narasi SARA itu berbahaya. Namun pengetahuan itu tidak secara otomatis mengubah perilaku, terutama ketika konten yang disebarkan sesuai dengan prasangka yang sudah ada sebelumnya. Kita bagikan berita yang belum dimuat karena masuk akal buat kita. Kita memblokir orang yang berpendapat berbeda karena terasa menyebalkan. Kita bergabung dengan grup yang sudah sepakat dengan kita karena terasa nyaman. Satu demi satu, keputusan kecil ini tidak terasa seperti ancaman terhadap persatuan bangsa. Tapi diakumulasi, dalam skala 139 juta pengguna, efeknya tidak lagi kecil.

Mudah sekali menyalahkan kesalahan, menyalahkan platform, atau menyalahkan kelompok tertentu yang dianggap paling banyak menyebarkan konten pemecah belah. Tapi generasi muda yang hari ini paling banyak menghabiskan waktu di ruang digital punya pilihan yang lebih konkret dari sekedar menunjuk siapa yang salah. Tidak memforward sebelum verifikasi. Tidak langsung memblokir orang yang berbeda pendapat. Bersedia membaca perspektif lain meskipun tidak menyenangkan. Hal-hal ini tidak memerlukan kebijakan pemerintah atau gerakan besar. Hanya butuh sedikit berhenti sebelum menekan tombol.

Bhinneka Tunggal Ika bukan warisan yang tinggal dirayakan setiap tanggal 17 Agustus. Ia adalah sesuatu yang harus dijaga ulang setiap hari, termasuk di ruang yang tidak ada yang dilihat kecuali diri kita sendiri dan layar ponsel kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image