Kuliah Mahal, Kerja Sulit: Masikah Pendidikan Jadi Mobilitas Sosial?
Humaniora | 2026-06-28 17:17:33“Rajin belajar agar sukses di masa depan”. Kalimat ini mungkin sudah akrab di telinga banyak orang sejak kecil. Pendidikan selama ini dipandang sebagai jalan utama untuk memperbaiki nasib dan mencapai kehidupan yang lebih baik. Melalui pendidikan, seseorang diharapkan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan yang layak, pendapatan yang tinggi, serta status sosial yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, Realitas yang dihadapi saat ini tampak berbeda.
Biaya pendidikan tinggi terus meningkat, sementara lapangan pekerjaan yang tersedia semakin kompetitif. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidangnya, bahkan ada yang menganggur dalam waktu lama setelah lulus. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah pendidikan masih menjadi tangga mobilitas sosial atau justru mulai kehilangan perannya sebagai alat untuk mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik?
Dalam perspektif sosiologi, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen mobilitas sosial. Mobilitas sosial adalah perpindahan seseorang atau kelompok dari satu lapisan sosial ke lapian sosial lainnya. Melalui pendidikan, individu dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah memiliki peluang untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi mereka. Namun, kenyataannya akses terhadap pendidikan yang berkualitas masih sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan. Akibatnya, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru berpotensi memproduksi ketimpangan sosial.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Karl Marx, pendidikan tidak selalu menjadi jalan keluar dari ketimpangan sosial, melainkan dapat menjadi alat yang mempertahankan dominasi kelas sosial. Ketika biaya kuliah semakin mahal dan pekerjaan semakin sulit diperoleh, kesempatan untuk meraih pendidikan dan kehidupan yang lebih baik menjadi lebih mudah diakses oleh mereka yang sudah memiliki modal ekonomi. Akibatnya, pendidikan yang seharusnya menjadi tangga mobilitas justru berisiko memproduksi ketimpangan yang sudah ada. Persoalannya bukan sekadar siapa yang rajin belajar, tetapi siapa yang memiliki akses untuk memperoleh kesempatan tersebut.
Pada akhirnya, pendidikan memang masih memiliki potensi untuk pmenjadi tangga mobilitas sosial, tetapi tangga tersebut tidak dapat dinaiki oleh semua orang dengan tingkat kemudahan yang sama. Ketika biaya pendidikan semakin tinggi dan kesempatan kerja semakin terbatas, keberhasilan seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh kerja keras dan prestasi, tetapi juga oleh posisi sosial dan ekonomi yang dimilikinya sejak awal. Oleh karena itu, persoalan pendidikan tidak dapat dipahami hanya sebagai tanggung jawab individu, tetapi juga sebagai masalah struktural yang berkaitan dengan ketimpangan akses dan kesempatan dan jika hal ini terus berlangsung, pendidikan berisiko kehilangan perannya sebagai sarana mobilitas sosial.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
