Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabilla Al-Zahra

Sekolah dan Hilangnya Keberanian untuk Berbeda Pendapat

Pendidikan | 2026-06-26 15:51:15
Gambar seseorang perempuan yang menutup wajahnya dengan kedua tangan, Sumber: Pexels.com

Di banyak ruang kelas hari ini, guru sering mengatakan bahwa peserta didik harus berpikir kritis. Kurikulum pun berkali-kali menegaskan pentingnya kemampuan bernalar, berdiskusi, dan menyampaikan argumentasi. Namun, di balik slogan tersebut, ada paradoks yang jarang disadari. Semakin sering berpikir kritis digaungkan, semakin banyak peserta didik yang justru memilih diam. Mereka enggan mengajukan pertanyaan, ragu mengemukakan pendapat, bahkan takut jika pandangannya berbeda dengan mayoritas.

Fenomena ini bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kemampuan berbicara. Banyak peserta didik sebenarnya memiliki gagasan yang baik, tetapi memilih menyimpannya. Mereka khawatir dianggap salah oleh guru, ditertawakan teman, atau dicap terlalu banyak berpendapat. Dalam situasi seperti ini, diam menjadi strategi yang dianggap paling aman. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran perlahan berubah menjadi ruang untuk mencari jawaban yang dianggap paling benar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masih menyisakan budaya yang lebih menghargai kepatuhan daripada keberanian. Sejak dini, peserta didik terbiasa diarahkan untuk mengikuti aturan, memberikan jawaban sesuai buku, dan mengejar nilai setinggi mungkin. Tanpa disadari, sistem ini membentuk pemahaman bahwa menjadi "murid baik" berarti tidak banyak mempertanyakan sesuatu. Akibatnya, perbedaan pendapat sering dipandang sebagai bentuk pembangkangan, bukan sebagai bagian dari proses belajar.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep hidden curriculum. Selain kurikulum resmi yang mengajarkan mata pelajaran, sekolah juga menyampaikan nilai-nilai sosial yang tidak tertulis. Cara guru merespons pertanyaan, pola komunikasi di kelas, hingga budaya memberi penilaian membentuk kebiasaan peserta didik dalam bersikap. Ketika pendapat yang berbeda jarang diberi ruang atau bahkan dianggap mengganggu jalannya pembelajaran, peserta didik belajar bahwa mengikuti arus lebih menguntungkan daripada menyampaikan pandangan yang berbeda.

Persoalan ini semakin terasa ketika pendidikan masih menempatkan jawaban benar sebagai tujuan utama. Dalam banyak proses pembelajaran, peserta didik lebih sering diuji kemampuannya mengingat daripada menyusun argumentasi. Padahal, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak selalu memiliki satu jawaban mutlak. Isu-isu seperti lingkungan, ketimpangan sosial, perkembangan teknologi, maupun kebijakan publik justru menuntut kemampuan melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Kemampuan seperti ini hanya dapat berkembang jika sekolah membiasakan peserta didik berdialog, berdebat secara sehat, dan menghargai perbedaan pendapat.

Ironisnya, di era media sosial ketika setiap orang bebas menyampaikan opini, kemampuan berdialog justru semakin penting. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi pertengkaran karena banyak orang tidak terbiasa mendengarkan argumentasi yang berbeda. Jika sekolah tidak melatih peserta didik menghadapi perbedaan secara dewasa, maka pendidikan kehilangan salah satu fungsi sosialnya, yakni mempersiapkan warga negara yang mampu hidup dalam masyarakat yang plural dan demokratis.

Mendorong keberanian untuk berbeda pendapat bukan berarti membiarkan peserta didik menolak semua aturan atau membenarkan setiap opini. Yang perlu dibangun adalah budaya akademik yang menempatkan argumentasi di atas otoritas, serta menghargai proses berpikir sama besarnya dengan hasil akhir. Guru tidak harus selalu menjadi pemilik jawaban, melainkan fasilitator yang membuka ruang dialog. Di sisi lain, peserta didik perlu diyakinkan bahwa kesalahan dalam berpendapat bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai ujian atau banyaknya prestasi yang diraih. Pendidikan juga seharusnya melahirkan individu yang berani berpikir mandiri, mampu mengemukakan alasan atas pendapatnya, dan menghormati pandangan orang lain. Sebab, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang selalu sepakat, melainkan masyarakat yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan kemampuan untuk saling mendengarkan. Jika sekolah gagal menumbuhkan keberanian itu, maka yang lahir bukan generasi yang kritis, melainkan generasi yang terbiasa diam demi merasa aman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image