Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wardah Azahra

Batik dan Tabung: Serunya Mengajarkan Anak SD Menabung dengan Karya Tempel

Eduaksi | 2026-06-25 18:20:18
Sesi Foto bersama Mahasiswa Unpam dan siswa Sekolah Dasar setelah kegiatan PKM. ( Dok.Pribadi )

Di tengah maraknya gaya hidup konsumtif dan kemudahan akses belanja digital, anak-anak usia sekolah dasar kini menghadapi tantangan besar dalam mengelola uang. Banyak dari mereka lebih paham cara membeli barang secara daring daripada memahami pentingnya menyisihkan uang untuk masa depan. Jika kebiasaan ini dibiarkan, maka generasi mendatang akan kesulitan membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar keinginan sesaat.

Menanamkan budaya menabung sejak dini menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya agar anak memiliki tabungan, tetapi juga agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bijak, disiplin, dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan.

Berbekal kepedulian tersebut, kami, Kelompok 3 yang terdiri dari A'la Aulia Latifah, Melisa Aulia, Wardah Azahra, dan Zaskya Kiranni Putri, mahasiswa Program Studi Akuntansi S1 Universitas Pamulang (Unpam) Kampus 1 Pusat, melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertempat di SDN Pondok Petir 01, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok. Sasaran kegiatan kami adalah siswa-siswi kelas 5C, yang sedang berada dalam fase emas pembentukan karakter dan kebiasaan finansial.

Merangkai Edukasi Budaya dan Finansial dalam Satu Kegiatan

Kami merancang kegiatan ini dengan konsep edutainment (edukasi dan hiburan) agar anak-anak tidak merasa bosan. Ada tiga sesi utama yang kami bawakan, yang menggabungkan pengenalan budaya bangsa dengan pengajaran literasi keuangan secara praktis.

1. Mengenal Batik sebagai Warisan Budaya Leluhur

Sebelum memulai praktik, kami terlebih dahulu menjelaskan secara interaktif apa itu batik. Kami mengenalkan sejarah singkat batik Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Anak-anak kami ajak untuk mengenali berbagai motif batik khas Nusantara, seperti motif Kawung dari Yogyakarta, Parang, hingga Megamendung dari Cirebon. Kami menekankan bahwa batik bukan hanya kain biasa, melainkan simbol filosofi kehidupan dan kebanggaan identitas bangsa. "Kalian semua adalah generasi penerus, sudah sepantasnya kita bangga dan melestarikan budaya sendiri," tutur salah satu anggota tim kami di hadapan para siswa yang antusias.

2. Edukasi Menabung dan Cara Mengatur

Dengan bahasa yang ringan dan penuh canda, kami mengajak mereka membuat daftar skala prioritas saat menerima uang jajan dari orang tua. "Kalau uangnya hanya Rp 5.000, mana yang harus dibeli dulu, nasi goreng atau permen dan stiker?" tanya kami. Anak-anak pun berlomba menjawab dan mulai paham bahwa menabung berarti mendahulukan kebutuhan, lalu menyisihkan sisanya untuk keinginan dan masa depan.

3. Praktik Kreatif Pembuatan Celengan Batik dari Bahan Besi

Puncak kegiatan yang paling dinantikan adalah sesi praktik membuat celengan. Berbeda dari biasanya, kami menggunakan bahan dasar besi yang sudah dibentuk menyerupai celengan (bisa berupa kaleng bekas yang dilapisi atau seng yang dirangkai). Kami membagikan kertas-kertas bermotif batik, lem, serta gunting kepada para siswa.

Anak-anak dengan sangat antusias mulai menempelkan kertas batik ke seluruh permukaan celengan besi tersebut. Mereka bebas memilih motif batik favorit dan mengkreasikan potongan kertas sesuai bentuk celengan. Momen ini menjadi sangat istimewa karena selain melatih motorik halus dan kreativitas, kegiatan ini juga mengajarkan konsep daur ulang (mengubah barang berbahan besi menjadi benda bernilai guna). Celengan batik yang mereka buat bukan sekadar kerajinan, melainkan simbol komitmen nyata untuk mulai menabung mulai hari itu juga.

"Celengannya keren banget, Bu! Saya mau taruh di kamar dan saya isi setiap hari dari sisa uang jajan," ujar salah satu siswa kelas 5B dengan mata berbinar, memegang erat celengan batik buatannya.

Harapan untuk Masa DepanKebutuhan

Memasuki sesi inti literasi keuangan, kami menjelaskan secara mendalam apa itu menabung dan mengapa kebiasaan ini sangat penting. Tidak berhenti di situ, kami juga mengajarkan anak-anak cara mengatur kebutuhan sehari-hari. Kami perkenalkan konsep sederhana membedakan antara kebutuhan (hal-hal wajib yang harus dipenuhi, seperti makanan bergizi, alat tulis, dan seragam sekolah) dengan keinginan (hal-hal tambahan yang bersifat konsumtif, seperti jajanan mahal, mainan kekinian, atau aksesoris yang tidak mendesak).

Sebelum memulai praktik, kami terlebih dahulu menjelaskan secara interaktif apa itu batik. Kami mengenalkan sejarah singkat batik Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Anak-anak kami ajak untuk mengenali berbagai motif batik khas Nusantara, seperti motif Kawung dari Yogyakarta, Parang, hingga Megamendung dari Cirebon. Kami menekankan bahwa batik bukan hanya kain biasa, melainkan simbol filosofi kehidupan dan kebanggaan identitas bangsa. "Kalian semua adalah generasi penerus, sudah sepantasnya kita bangga dan melestarikan budaya sendiri," tutur salah satu anggota tim kami di hadapan para siswa yang antusias.

Respons positif dan antusiasme luar biasa dari siswa-siswi SDN Pondok Petir 01 menjadi bukti bahwa edukasi menabung tidak harus membosankan. Dengan menggabungkan nilai budaya dan praktik kreatif, kami berhasil menanamkan benih-benih kebaikan: kecintaan pada budaya Indonesia, pemahaman tentang pengelolaan uang, serta kesadaran untuk hidup hemat dan terencana.
Kami berharap kegiatan ini menjadi titik awal perubahan kebiasaan bagi para siswa. Celengan batik berbahan besi yang mereka hias sendiri akan selalu mengingatkan mereka akan pentingnya menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membanggakan warisan leluhur. Dengan generasi muda yang cakap finansial dan berbudaya, masa depan Indonesia akan semakin cerah dan berkarakter. Menabung itu mudah, batik itu keren, dan masa depan ada di tangan kalian!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image