Korelasi Surat An-Nisa Ayat 103 dan Al-Ahzab Ayat 21
Agama | 2026-06-23 05:15:16Abdul Hadi Tamba.
Korelasi Surat An nisa ayat 103 dan Al ahzab ayat 21.
Dalam pandangan kami, QS. An-Nisa: 103 dimaknai sebagai perintah Dawamul-Dzikr (mengingat Allah tanpa putus) untuk mencapai ketenangan jiwa (zikir batin), sementara QS. Al-Ahzab: 21 menjadi landasan Ittiba' (meneladani ruhani Nabi) untuk mempraktikkan zikir dan tauhid secara sempurna.
Korelasi Tasawuf:
An-Nisa 103 dan Al-Ahzab 21.
Memerintahkan umat untuk terus berzikir dalam segala kondisi:
Berdiri, Duduk, atau Berbaring (baik dalam keadaan damai maupun perang/darurat).
Bagi kamii, ini adalah puncak ma'rifah, di mana batin seorang hamba senantiasa terhubung dengan Allah kapan pun dan di manapun.
Al-Ahzab ayat 21:
Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Uswah Hasanah (suri teladan utama) yang harus diikuti.
Keteladanan ini menuntut seorang Muslim mencontoh konsistensi Nabi dalam berzikir dan mengharapkan Allah SWT.
Kedua ayat ini bersinergi membentuk fondasi kesufian:
Zikir yang diperintahkan dalam An-Nisa: 103 adalah zikir yang juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diamanatkan dalam Al-Ahzab: 21.
Sumber Dalil Al-Qur'an dan Hadis PendukungAl-Qur'an: QS. Al-Baqarah: 152:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْلِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
(Artinya: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.")
QS. Ali 'Imran: 191:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ...
(Artinya: "Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring...").
Hadis Pendukung:Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda mengenai zikir: "Allah berfirman:
'Aku senantiasa bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.'"
(HR. Al-Bukhari).Dari Abdullah bin Busr :
Seseorang berkata,
Wahai Rasulullah, syariat Islam telah banyak bagiku.
Beritahu aku sesuatu yang bisa kupegang terus."
Beliau bersabda:
"Hendaklah lisanmu senantiasa basah untuk berzikir kepada Allah."
(HR. At-Tirmidzi).
Pandangan kami dan para Ulama Muktabar serta Para ulama tasawuf (Ahli Sunnah wal Jamaah) memadukan dimensi zikir (An-Nisa: 103) dengan keteladanan Nabi (Al-Ahzab: 21) sebagai jalan mencapai tingkatan spiritual tertinggi:
Imam Al-Ghazali (dalam kitab Ihya' Ulumiddin):Menekankan bahwa dzikrullah adalah buah tertinggi dari kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mengikuti sunnah (keteladanan) adalah satu-satunya cara membersihkan hati (tazkiyatun nafs) agar zikir yang dilakukan meresap dari lisan hingga ke lubuk hati terdalam.
Syaikh Ibnu 'Athaillah As-Sakandari (dalam Al-Hikam):
Menyatakan bahwa zikir bukanlah sekedar gerakan lisan, melainkan kehadiran hati bersama Allah.
Beliau menegaskan bahwa untuk sampai kepada makrifat, seorang hamba harus meneladani jejak Rasulullah SAW dalam setiap ibadah dan muamalahnya.
Fatwa Ulama Kontemporer (Majelis Ulama Indonesia/MUI):
Dalam berbagai putusan mengenai thariqah dan tasawuf, MUI mengakui bahwa zikir bersama, rabithah, dan muraqabah (metode pendekatan diri kepada Allah) adalah amalan yang sah dan dianjurkan, asalkan senantiasa berpedoman pada Al-Qur'an, Hadis, dan sesuai dengan akhlak serta tuntunan Rasulullah SAW sebagai uswah
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
