Perasaan Lelah yang tidak Terlihat: Stres di Kalangan Remaja Masa Kini
Eduaksi | 2026-06-22 16:19:19
"Aku capek banget."
Tiga kata itu mungkin terdengar biasa saja, sebuahkeluhan ringan yang kerap kita dengar dari remaja di mana-mana. Namun di balik ungkapan sesederhana itu, sering kali tersimpan kelelahan yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Banyak remaja yang secara kasatmata tampak baik-baik saja aktif di sekolah, menuntaskan tugas, bercengkerama dengan teman, bahkanceria di media sosial, sementara di saat bersamaan merekadiam-diam menanggung beban emosional yang tidakdiketahui siapa pun di sekitar mereka.
Fenomena ini bukanlah sekadar keluhan sesaat. Dalambeberapa tahun terakhir, stres pada remaja telah menjelmamenjadi isu yang semakin mendesak untuk mendapatperhatian serius. Kombinasi antara perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, tingginya tuntutan dunia pendidikan, dan derasnya arus media sosial menciptakanlapisan tekanan yang kompleks dan saling berjalin. Yang lebih memprihatinkan, kelelahan ini sering kali tidakdisadari baik oleh remaja itu sendiri maupun oleh orang-orang terdekat mereka.
Masa remaja merupakan masa peralihan menujupencarian jati diri. Pada fase ini, individu mulai membentukidentitas dan mengevaluasi dirinya sendiri. Remaja juga memiliki karakteristik yang masih berkembang sehinggasangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Hal inidapat memunculkan ketidakpercayaan diri sertakebingungan dalam menentukan arah hidup (Rais, 2022).
Secara psikologis, stres dapat dimaknai sebagai reaksiindividu terhadap tuntutan yang dirasakan melampauikapasitasnya untuk menghadapinya (Lazarus & Folkman, 1994). Dalam takaran yang tepat, stres sesungguhnyamemiliki fungsi adaptif, ia dapat mempertajam fokus, meningkatkan kewaspadaan, dan memantik motivasi. Namun ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa jedapemulihan yang memadai, dampaknya dapat merembet keberbagai aspek kehidupan dari gangguan tidur dan kesulitanberkonsentrasi hingga menurunnya kualitas kesejahteraanpsikologis secara keseluruhan.
Remaja menempati fase perkembangan yang uniksekaligus rentan. Mereka tengah menjalani proses pencarianjati diri, membangun identitas, dan memetakan posisimereka dalam lingkungan sosial yang terus berubah. Menurut Arnett (2000), periode remaja akhir hingga awalmasa dewasa merupakan fase eksplorasi identitas yang saratdengan ketidakpastian. Pada tahap ini, individu mulaibergulat dengan sejumlah pertanyaan besar yaitu ke mana arah pendidikan dan karier mereka, bagaimana membangunrelasi yang bermakna, dan apa sebenarnya tujuan hidupyang hendak mereka kejar. Ketidakpastian itulah yang kerapmenjelma menjadi sumber tekanan psikologis yang signifikan.
Di atas kerentanan perkembangan tersebut, tekananakademik hadir sebagai salah satu sumber stres yang paling dominan. Sekolah tidak hanya menuntut penguasaan materipelajaran, tetapi juga mengejar angka nilai yang tinggi, memenuhi tenggat pengumpulan tugas, serta aktif dalamberbagai kegiatan ekstrakurikuler. Banyak remaja terjebakdalam keyakinan bahwa mereka harus memenuhi standartertentu agar layak disebut "berhasil". Ketika standar ituterasa tak tergapai, yang muncul kemudian adalah rasa cemas, goyahnya kepercayaan diri, bahkan perasaan gagalyang perlahan menggerus harga diri.
Tekanan ini kian berat di era digitalisasi. Batas antarawaktu belajar dan waktu istirahat kini nyaris lenyap: tugasdapat dikirimkan kapan saja melalui platform daring, arusinformasi akademik tak pernah berhenti mengalir, dan komunikasi antara siswa, guru, serta teman berlangsunghampir tanpa jeda. Kondisi ini menciptakan perasaan bahwaremaja harus senantiasa "siap" dan "terhubung" sebuahtekanan tersendiri yang sulit dihindari.
Penelitian Emaniar dan Utami (2023) mengungkapbahwa penggunaan media digital berpotensi memperparahstres pada remaja, terutama karena tingginya paparaninformasi yang datang silih berganti dan tuntutan untukmerespons segalanya dengan cepat. Temuan ini diperkuatoleh Putri dan Aviani (2023) yang menunjukkan adanyakorelasi antara intensitas penggunaan media sosial dan peningkatan tingkat stres, khususnya saat remaja terpapartekanan sosial berupa perbandingan diri dan ekspektasi darilingkungan pergaulan.
Media sosial memang telah berevolusi jauh melampauifungsinya sebagai sarana komunikasi biasa. Ia kini menjadipanggung perbandingan sosial yang beroperasi sepanjangwaktu. Remaja tanpa henti menyaksikan pencapaian, penampilan, dan "kehidupan sempurna" orang lain yang dikurasi dengan cermat di dunia digital. Proses perbandingan yang terus-menerus ini memunculkanperasaan tidak cukup baik, tertinggal, atau tidak layak. Dalam jangka panjang, kondisi ini menjadi pupuk suburbagi berkembangnya stres dan kecemasan yang mengakar.
Lebih jauh, Novita dan Utami (2024) menemukanbahwa stres digital memiliki hubungan erat denganmeningkatnya risiko kecemasan, kelelahan mental, hinggakecanduan media sosial pada remaja. Ketika paparantekanan berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihanyang cukup, remaja cenderung tergelincir ke dalamkelelahan psikologis yang sulit dikenali. Inilah yang banyakdisebut sebagai "kelelahan yang tidak terlihat" hadir nyatadalam diri seseorang, namun tidak tampak dari luar.
Dampak stres pada remaja tidak hanya bermuara pada gejolak emosional semata. Secara fisik, stres dapat merusakpola tidur dan menguras cadangan energi. Secara kognitif, iadapat melemahkan konsentrasi dan menyulitkan proses belajar. Secara sosial, stres dapat mengganggu kualitashubungan dengan teman maupun keluarga. Manik, Nisa, dan Gannika (2024) bahkan memperlihatkan bahwa stresakademik yang diperparah oleh penggunaan media sosialsecara berlebihan berhubungan langsung dengan penurunankualitas tidur pada remaja, sebuah efek domino yang tidakbisa dianggap sepele.
Faktor lingkungan keluarga turut memainkan peranyang tidak kecil. Pola komunikasi yang tertutup, ekspektasiyang terlalu tinggi tanpa ruang dialog, serta minimnyadukungan emosional dapat memperburuk kondisi stres yang sudah ada. Sebaliknya, keluarga yang mampu menciptakanrasa aman dan memberikan dukungan nyata dapat berfungsisebagai pelindung yang amat berharga bagi remaja. Hal inisejalan dengan temuan Widiani et al. (2022) yang menegaskan bahwa dukungan sosial memiliki hubunganyang signifikan dengan tingkat stres akademik pada remaja.
Melihat betapa luasnya dampak yang ditimbulkan, strespada remaja jelas tidak bisa dipahami sebagai masalahpribadi yang harus diselesaikan sendirian. Ia merupakanhasil interaksi antara tekanan akademik, tuntutan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika lingkungankeluarga, sebuah persoalan sistemik yang membutuhkanrespons yang sama kompleksnya.
Salah satu langkah krusial adalah membangun literasikesehatan mental, baik pada remaja itu sendiri maupun pada orang-orang di sekitar mereka. Remaja perlu memahamibahwa stres adalah bagian dari perjalanan hidup yang wajarnamun tetap memerlukan pengelolaan yang tepat. Merekajuga perlu belajar mengenali sinyal-sinyal kelelahan mental dalam diri sendiri yaitu mudah lelah tanpa sebab jelas, sulitmemusatkan perhatian, rasa cemas yang berlebihan, ataukehilangan gairah terhadap hal-hal yang biasanyamenyenangkan.
Di sisi praktis, keterampilan manajemen waktu menjadibekal penting yang perlu diasah. Remaja perlu belajarmendistribusikan waktu mereka secara lebih seimbangantara belajar, beristirahat, dan bersosialisasi. Selain itu, membangun kebiasaan digital yang lebih sehat juga tidakkalah penting: membatasi durasi penggunaan media sosial, menghindari layar gawai menjelang tidur, dan memberi dirisendiri ruang untuk sejenak berhenti tanpa distraksi daridunia digital.
Sekolah pun dituntut untuk berperan lebih aktif. Pendekatan pendidikan yang terlalu berorientasi pada perolehan nilai semata, tanpa memperhatikan kesejahteraansiswa secara keseluruhan, justru berisiko memperburuktekanan yang sudah ada. Institusi pendidikan perlu bergesermenuju lingkungan yang lebih suportif yang memberi ruangbagi siswa untuk bertumbuh tanpa rasa takut gagal, sekaligus memastikan ketersediaan layanan konseling yang mudah diakses oleh siapa pun yang membutuhkan.
Sementara itu, peran orang tua tidak bisa diremehkan. Komunikasi yang terbuka, kemampuan berempati, dan penerimaan tanpa syarat merupakan fondasi dukunganemosional yang mampu membuat remaja merasa cukupaman untuk berbagi beban. Alih-alih mengukur keberhasilananak semata dari hasil akhir, orang tua dapat menggeserfokusnya pada proses dan usaha yang telah dilakukan karenadi sanalah letak perjuangan sesungguhnya.
Pada ujungnya, tanggung jawab mengenali dan merespons "kelelahan yang tidak terlihat" ini bukan hanyamilik remaja itu sendiri. Ia adalah tanggung jawab Bersama keluarga, sekolah, dan Masyarakat untuk lebih pekaterhadap apa yang tidak selalu tampak di permukaan. Tidak semua kelelahan meninggalkan bekas fisik yang terlihat. Banyak remaja yang tampak ceria dan berfungsi normal di luar, padahal di balik itu semua sedang berjuang sendirianmenghadapi tekanan yang begitu berat.
Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisiini, kita dapat hadir memberikan dukungan yang lebih tepatsasaran. Stres mungkin tidak sepenuhnya bisa dihilangkandari kehidupan remaja. Namun dengan ekosistem dukunganyang kuat dan strategi pengelolaan yang tepat, mereka dapatbelajar menghadapi tekanan itu secara lebih tangguh dan adaptif. Upaya ini bukan sekadar investasi untukkesejahteraan mereka hari ini, melainkan juga untukmelahirkan generasi yang lebih sehat secara mental di masa mendatang.
Daftar Referensi
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.
Emaniar, R., & Utami, R. H. (2023). Gambaran stres digital pada remaja awal. Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya, 3(6), 1459–1463.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1994). Stress, appraisal, and coping. New York, NY: Springer.
Manik, S. Y., Nisa, K., & Gannika, L. (2024). Hubunganstres akademik dan penggunaan media sosial terhadapkualitas tidur pada remaja.
Novita, T., & Utami, R. H. (2024). Hubungan digital stress terhadap social media addiction pada remaja akhirsebagai pengguna aktif media sosial. Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya, 4(5), 859–867.
Putri, F. R., & Aviani, Y. I. (2023). Pengaruh penggunaansosial media terhadap tingkat stres pada remaja di masa pandemi. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 5(2), 110–114.
Rais, M. R. (2022). Kepercayaan diri (self confidence) dan perkembangannya pada remaja. Al-Irsyad: JurnalPendidikan dan Konseling, 12(1), 40–47.
Widiani, N. L. P. W., Antari, G. A. A., & Sanjiwani, I. A. (2022). Hubungan efikasi diri dan dukungan sosialteman sebaya dengan stres akademik pada remaja. Coping Community Publ. Nurs, 10(3), 310.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
