Menolak Dikurasi: Menggugat Realitas Semu Gen Z di Tangan Algoritma
Gaya Hidup | 2026-06-22 08:21:50
Generasi Z (kelahiran 1997–2012) kerap diberi label sebagai generasi yang paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Namun, jika kita bersedia menatap sedikit lebih lama ke balik kilau layar gawai mereka, kita akan menemukan sebuah ironi besar: konektivitas digital yang masif ini sering kali dibayar mahal dengan keterasingan psikologis. Sebagai digital natives murni yang menyusu pada informasi digital sejak buaian, media sosial bagi Gen Z bukan lagi sekadar alat (tool), melainkan ekosistem.
Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar subjek yang mengendalikan teknologi tersebut, atau justru objek yang sedang dikendalikan? Jika dibedah menggunakan kacamata teori komunikasi, kita akan melihat bahwa ruang digital yang dihuni Gen Z saat ini adalah sebuah labirin psikologis yang dirancang dengan sangat rapi
Ilusi Kendali dalam Uses and Gratifications
Secara optimis, teori klasik Uses and Gratifications (Katz, Blumler, & Gurevitch) selalu menempatkan audiens sebagai agen yang aktif. Teori ini percaya bahwa Gen Z membuka TikTok atau Instagram secara sadar untuk memenuhi kebutuhan mereka—baik itu mencari hiburan (diversion), membangun identitas, atau mencari komunitas kelompok (find their tribe) yang gagal mereka temukan di dunia nyata.
Namun, dalam opini saya, premis "audiens aktif" ini mulai bias di era modern. Garis batas antara "memenuhi kebutuhan" dan "ketergantungan akut" telah kabur. Gen Z mungkin merasa mereka yang memilih konten, tetapi realitasnya, dopamin instan yang didapat dari setiap scroll telah menjebak mereka dalam siklus candu. Media sosial tidak lagi sekadar memuaskan kebutuhan psikologis; platform tersebut kini mendikte dan menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru yang sebelumnya tidak pernah ada, seperti kebutuhan untuk selalu terlihat estetik atau kebutuhan untuk divalidasi oleh orang asing melalui angka likes.
Jerat Teori Kultivasi di Dunia Nyata
Efek jangka panjang dari konsumsi media ini paling tepat dijelaskan oleh Teori Kultivasi (George Gerbner). Jika dulu paparan televisi secara terus-menerus membuat orang percaya bahwa dunia nyata sekejam film aksi, maka paparan media sosial hari ini mengkultivasi keyakinan dalam benak Gen Z bahwa "semua orang hidupnya jauh lebih beruntung, lebih kaya, dan lebih bahagia daripada saya."
Di sinilah fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan krisis kesehatan mental massal berakar. Gen Z disuguhi realitas yang telah dikurasi hanya menampilkan puncak keberhasilan, liburan mewah, dan wajah-wajah tanpa cela berkat filter digital. Budaya flexing yang terkultivasi ini menetapkan standar kelayakan hidup yang tidak realistis. Ketika realitas kehidupan nyata mereka yang penuh dengan kegagalan biasa, jerawat, dan dompet yang tipis tidak mampu mengejar standar digital tersebut, runtuhlah kesehatan mental mereka.
Media sosial telah berhasil mengonstruksi realitas baru dalam benak Gen Z. Teori-teori komunikasi di atas membuktikan bahwa pengaruh media sosial bukan lagi sekadar dampak permukaan seperti "lupa waktu," melainkan rekonstruksi cara pandang terhadap diri sendiri dan kehidupan.
Gen Z tidak bisa, dan tidak perlu, dipisahkan dari dunia digital. Solusinya bukan lari ke masa lalu, melainkan merebut kembali kedaulatan berpikir mereka dari cengkeraman algoritma. Gen Z harus mulai sadar dan kritis: bahwa apa yang mereka lihat di layar adalah komoditas ekonomi yang dirancang untuk menahan perhatian mereka sedalam mungkin.
Sudah saatnya Gen Z berhenti menjadi konsumen pasif yang pasrah dikultivasi oleh algoritma, dan mulai menjadi individu merdeka yang tahu kapan harus mematikan layar demi merayakan kehidupan yang nyata, seberantakan apa pun itu. Kesadaran kritis inilah satu-satunya benteng pertahanan komunikasi yang tersisa bagi generasi ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
