Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ZAHROTUZZAHIDAH ANISATUL FAIZAH

Ketika Scroll Lebih Menarik daripada Membaca: Potret Minat Baca di Era Media Sosial

Eduaksi | 2026-06-20 21:50:39
ilustrasi gambar (sumber: pinterest)

Ditengah kemudahan akses informasi melalui media sosial yang kian masif, kebiasaan membaca masyarakat justru menghadapi tantangan baru yang sangat krusial. Saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, khususnya generasi muda, lebih banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas scrolling media sosial daripada membaca buku atau artikel. Informasi yang serba cepat dan instan membuat aktivitas membaca di masyarakat semakin tergeser oleh budaya konsumsi konten media sosial yang dangkal. Fenomena ini membawa Indonesia ke dalam kondisi yang bisa disebut sebagai ”darurat membaca”. Berdasarkan laporan PISA (Programme for International Student Assessment) 2022, Indonesia secara konsisten menunjukkan Tingkat literasi yang rendah, berada di peringkat ke-74 dari 79 negara dengan skor literasi membaca hanya sebesar 380, angka yang jauh dibawah rata-rata internasional (Thalib et al., 2026). Data dari UNESCO bahkan mencatat indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, yang berarti dari 1000 orang hanya terdapat satu orang yang memiliki minat baca aktif (Mulasih & Hudhana, 2020).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:83), membaca berarti melihat dan memahami isi dari tulisan. Aktivitas membaca adalah suatu proses yang dilakukan pembaca untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis melalui bahasa tertulis. Dengan kata lain, membaca adalah usaha untuk mengambil dan memahami makna yang terkandung dalam test (Artana, 2016). Membaca juga merupakan keterampilan berbahasa yang penting dimiliki setiap individu untuk memperluas wawasan, menambah pengalaman dan juga mempertajam kemampuan berpikir. Membaca bisa menjadi sarana untuk kita mendapatkan berbagai informasi, selain itu juga aktivitas membaca bersifat kompleks karena melibatkan banyak proses, baik fisik maupun non-fisik (Pramayshela et al., 2023). Terdapat hubungan yang erat antara kekuatan minat baca dengan kualitas sumber daya manusia (SDM), dimana kemampuan membaca yang baik bisa meningkatkan daya pikir, kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah yang sangat dibutuhkan agar tidak tertinggal oleh kemajuan di era global ini (Thalib et al., 2026).

Kehadiran media sosial telah membawa perubahan drastis pada pola konsumsi masyarakat yang menjadi serba instan. Masyarakat kini lebih menyukai informasi singkat dan cepat yang tersedia di platform digital daripada harus membuka dan mendalami buku pengetahuan atau sejarah yang lebih membutuhkan konsentrasi tinggi. Media Hootsuite (Kanada) bersama We Are Social (Inggris) melaporkan peningkatan penggunaan internet global, termasuk Indonesia. Dari 268,2 juta penduduk, 150 juta menggunakan internet dan aktif sosial media, sementara jumlah smartphone sendiri mencapai 355,5 juta unit. Rata rata orang Indonesia bisa menghabiskan 8 jam 36 menit per hari untuk internet, 3 jam 26 menit di sosial media dan 2 jam 52 menit menonton video/TV dan 1 jam 22 menit mendengarkan musik (Febrianti et al., 2021). Hal ini bisa menunjukkan bahwa internet dan sosial media menjadi aktivitas utama masyarakat Indonesia. Anak-anak di zaman sekarang juga lebih tertarik pada hal-hal yang menurut mereka lebih menarik seperti game online, tiktok, atau media sosial yang lainnya daripada membaca buku. Padahal budaya membaca merupakan hal yang sangat penting untuk diajarkan kepada mereka, karena memiliki dampak positif yang sangat besar untuk masa yang akan datang.

Rendahnya minat baca di Indonesia dipicu oleh interaksi antara faktor internal dan eksternal yang saling mempengaruhi. Dilihat dari sisi internal, kurangnya motivasi dalam diri individu, rasa malas untuk membaca dan rendahnya kesadaran akan urgensi literasi bagi masa depan menjadi penghambat utama. Banyak individu merasa tidak memiliki waktu luang atau merasa tidak ada ketertarikan pada buku karena perhatian mereka sudah sepenuhnya tersita oleh dunia digital (Mulasih & Hudhana, 2020). Sedangkan faktor eksternalnya yaitu mencakup lingkungan keluarga dan sosial yang kurang memberikan dukungan atau teladan untuk membiasakan membaca buku. Keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, pendistribusian buku yang tidak sampai ke daerah-daerah terpencil dan harga buku yang cukup mahal juga memperparah krisis literasi (Thalib et al., 2026). Selain itu, fasilitas perpustakaan di berbagai belum memadai, data menunjukkan beberapa sekolah juga belum memiliki perpustakaan dalam kondisi baik (Thalib et al., 2026).

Dampak dari rendahnya minat baca ini sangat luas dan mengancam kualitas generasi masa depan. Konsekuensi yang paling nyata adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis dan analitis, sehingga masyarakat menjadi lebih mudah untuk terpapar oleh berita-berita palsu (hoax), informasi yang sengaja disebarkan tidak sesuai dengan faktanya dan menelannya mentah-mentah (Thalib et al., 2026). Rendahnya literasi membaca ini juga menyebabkan lemahnya kemampuan untuk berkomunikasi dan penalaran ilmiah. Akibatnya, beberapa siswa dan mahasiswa sulit untuk menyusun gagasan dan argumen yang logis dan sesuai dengan data, serta berbicara dan menulis dengan terstruktur. Hal ini berdampak pada kualitas akademik dan kompetensi mereka yang menurun, padahal dalam dunia kerja itu menuntut kemampuan kritis dan komunikasi yang baik. Individu dengan minat baca rendah biasanya memiliki literasi terbatas, sehingga kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan inovasi terhambat. Dalam pendidikan, hal ini membuat siswa sulit mencapai hasil belajar optimal dan menguasai konsep secara mendalam (Thalib et al., 2026).

Sebenarnya media sosial tidak selalu memberikan dampak buruk bagi dunia literasi apabila dimanfaatkan dengan strategi yang tepat. Saat ini, muncul para komunitas virtual yang dikenal sebagai ”Bookstagram” di platform Instagram yang aktif mengampanyekan minat baca melalui cara-cara yang menarik dan juga kreatif (Fahzaria et al., 2025). Para pemengaruh (Influencer) literasi skala nano dan mikro memainkan peran strategis sebagai perantara budaya yang mampu menjangkau audiens secara lebih autentik. Mereka memaksimalkan fitur-fitur seperti Reels untuk membuat video singkat tentang dunia buku dan literasi, menggunakan format Carousel untuk menyajikan ulasan lengkap, pengalaman akan suatu buku (seperti alasan layaknya suatu buku untuk dibaca, kelebihan dan juga kelemahan akan suatu buku) dan bisa juga untuk menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan membaca. Mereka juga menggunakan Instagram Story untuk membagikan pengalaman mereka dalam membaca buku, mengunjungi pameran literasi atau perpustakaan, serta dapat juga digunakan untuk memberikan informasi mengenai adanya sebuah event buku, dan lain sebagainya (Fahzaria et al., 2025). Melalui konten yang kreatif, interaktif dan menarik, para bookstagrammer berhasil mengubah citra membaca yang kaku menjadi aktivitas yang menyenangkan dan relevan dengan gaya hidup yang sekarang.

Untuk menumbuhkan kembali budaya membaca, diperlukan Upaya sinergis dari berbagai elemen masyarakat. Dari sisi individu, pembiasaan dapat dimulai dengan langkah kecil, seperti menyisihkan waktu lima belas menit untuk membaca lima lembar buku per hari secara konsisten. Keluarga memegang peran penting dalam menumbuhkan minat baca anak, karena merupakan lingkungan belajar pertama bagi anak selama masa keemasan (golden age). Orang tua harus menjadi teladan seperti dengan membiasakan ritual membaca dongeng sebelum tidur atau menyediakan akses buku dan mendampinginya seperti yang dipraktikkan di negara maju seperti Jepang, Belanda, Australia dan sebagainya (Mulasih & Hudhana, 2020). Di sekolah, lingkungan harus diciptakan seramah mungkin bagi literasi dengan mengadakan program yang mendukung literasi seperti misalnya setiap anak membaca 1 buku dalam beberapa hari kemudian anak-anak diminta untuk menceritakan buku apa yang dibacanya, dengan adanya program tersebut sekolah juga harus menyediakan buku bacaan yang layak dan menarik untuk menunjang program tersebut.

Pemerintah dan masyarakat luas juga memiliki tanggung jawab besar dalam memperluas jangkauan literasi di Indonesia, seperti pengadaan perpustakaan yang layak dan ramah anak misalnya. Karena anak-anak cenderung menyukai aktivitas bermain, maka perpustakaan sebaiknya dirancang sebagai ruang yang menyenangkan sekaligus edukatif (Mulasih & Hudhana, 2020). Dengan menyediakan wahana permainan di samping koleksi buku, anak-anak tidak hanya mendorong untuk membaca, tetapi juga bisa bermain sehingga suasana terasa lebih hidup dan menyenangkan. Hal ini bertujuan agar anak merasa betah berada di perpustakaan, menjadikannya tempat yang menarik sekaligus bermanfaat bagi perkembangan minat baca mereka. Untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh dari perpustakaan, perlu diadakannya perpustakaan keliling yang rutin berkunjung setiap minggunya, hal ini dapat memicu rasa senang dan bahagia masyarakat terhadap buku (Thalib et al., 2026). Selain itu, perlu adanya pembaruan distribusi buku di perpustakaan tiap-tiap daerah minimal 1 tahun sekali untuk menghindari perpustakaan yang berhenti beroperasi karena koleksi buku yang sudah usang (Thalib et al., 2026). Dan adanya program-program inovatif seperti tantangan membaca dengan penghargaan sederhana namun membanggakan dapat memotivasi anak-anak untuk membaca tanpa merasa terpaksa (Thalib et al., 2026).

Sebagai penutup, penting untuk kita sadari bahwa media sosial bukanlah musuk literasi yang harus dijauhi, melainkan sebuah alat yang harus kita kendalikan dengan baik. Tantangan yang sebenarnya di era digital ini adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sehingga budaya membaca tidak hilang begitu saja. Sebenarnya media digital bisa memberikan peluang baru untuk membangun komunitas yang terhubung secara emosional melalui layar ponsel untuk menyebarkan nilai-nilai literasi yang lebih luas lagi (Fahzaria et al., 2025). Dengan menjadikan membaca sebagai kebutuhan dan bagian dari identitas bangsa, Indonesia bisa berpeluang melahirkan generasi yang lebih kritis, kreatif dan siap menghadapi tantangan masa depan. Kolaborasi yang baik dari seluruh lapisan masyarakat adalah kunci untuk mentransformasi krisis ini menjadi kebangkitan budaya literasi yang baru.

Daftar Pustaka

Artana, I. K. (2016). Upaya menumbuhkan minat baca pada anak. Acarya Pustaka, 2(1), 1-13. https://doi.org/10.23887/ap.v2i1.10099

Fahzaria, N. A., Maulani, I. N. I., & Aldama, A. (2025). From Scroll to Book: Maximizing Instagram by Nano-Micro Influencers Bookstagram to Increase Reading Interest in Indonesia. Jurnal Komunikasi, 17(1), 26-49. https://doi.org/10.24912/jk.v17i1.32296

Febrianti, S., & Sudiar, N. (2021). Pengaruh media sosial Instagram terhadap minat baca masyarakat (studi kasus di akun@ KOMUNITASPEMBACABUKU). Jurnal El-Pustaka, 2(2), 43-57. https://doi.org/10.24042/el-pustaka.v2i2.10402

Mulasih, M., & Hudhana, W. D. (2020). Urgensi budaya literasi dan upaya menumbuhkan minat baca. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 9(2), 19-23. https://doi.org/10.31000/lgrm.v9i2.2894

Pramayshela, A., Tanjung, E. Y., Pasaribu, F. Y., & Pohan, R. I. (2023). Upaya Meningkatkan Minat Membaca Pada Anak Kelas 4 SD. Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia, 1(3), 111-125. https://doi.org/10.55606/jubpi.v1i3.1611

Thalib, N. R., Janna, R. T., Sumaila, N. S., Cahyani, R., Rahma, A. N. A., Tanango, A. S. P., ... & Efendi, F. K. (2026). Darurat Membaca di Indonesia: Implikasi Rendahnya Kemampuan Literasi terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia. MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 4(1), 1-6.https://doi.org/10.60126/maras.v4i1.1387

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image