Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rudi Ahmad Suryadi

Menjemput Jejak Air Terakhir Pengantar Kepergian Rasulullah Saw

Agama | 2026-06-19 04:07:42

Langkah kaki bermula di bawah langit Madinah yang selalu menyimpan keteduhan, bahkan di saat matahari bersinar paling terik. Kota ini bukan sekadar hamparan tanah dan bangunan, melainkan untaian kisah masa lalu yang terus hidup di setiap sudutnya. Kali ini, sebuah pencarian spiritual dan historis menuntun langkah saya untuk menemukan salah satu jejak sunyi yang sarat makna: Bi’r Gharas, atau yang dikenal sebagai Sumur Ghars.

Sumber gambar: dokumen pribadi

Perjalanan ini dimulai dari kawasan Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw saat bermigrasi ke kota ini. Dari pelataran masjid yang megah dengan menara-menaranya yang putih bersih, saya mulai mengarahkan pandangan ke arah timur laut. Jaraknya tidak terlampau jauh, hanya sekitar satu kilometer, namun melangkah di atas bumi Madinah selalu memunculkan sensasi seperti sedang menembus lorong waktu.

Aroma kurma dan embusan angin gurun yang khas menemani perjalanan menyusuri jalanan modern Madinah. Di kanan dan kiri, pemandangan kota modern berpadu kontras dengan sisa-sisa perkebunan kurma tua yang masih bertahan. Saya mencoba membayangkan bagaimana ribuan tahun lalu kawasan ini mungkin berupa hamparan oasis hijau yang subur, tempat para sahabat berkumpul dan berteduh.

Navigasi digital dan ingatan atas catatan sejarah menuntun saya mendekati sebuah kawasan yang tampak lebih tenang dari pusat kota. Di area ini berdiri kompleks pendidikan Ma'had Darul Hijrah, sebuah bangunan yang menjadi penanda penting bahwa saya sudah berada di titik yang tepat. Di sinilah, di balik riuhnya aktivitas pendidikan modern, tersimpan sebuah warisan masa lalu yang sangat berharga.

Mata saya menyisir ke samping bangunan utama Ma'had Darul Hijrah, mencari struktur yang membedakan dirinya dari arsitektur modern di sekelilingnya. Akhirnya, pandangan saya tertuju pada sebuah bangunan beratap yang tampak bersahaja namun memancarkan aura magis tersendiri. Di bawah naungan atap itulah, Bi’r Gharas berada, menjaga rahasia dan kesucian airnya selama berabad-abad.

Ketika kaki melangkah memasuki area sumur, suasana seketika berubah menjadi hening. Bising kendaraan dari jalan raya seolah meredup, digantikan oleh kesunyian yang khusyuk. Ada getaran tak kasatmata yang menyergap dada perasaan bahwa tempat yang sedang saya pijak ini pernah disinggahi oleh sosok manusia paling mulia di muka bumi.

Saya mendekati bibir sumur yang kini telah dipagar dan dirawat dengan baik untuk menjaga kelestariannya. Struktur pelindung di atasnya memberikan keteduhan, seolah-olah sengaja dipasang untuk menghormati air yang ada di kedalamannya. Sumur Ghars tidak lagi dibiarkan terbuka telanjang di bawah terik matahari, melainkan dijaga layaknya sebuah permata bersejarah.

Melihat ke dalam kegelapan sumur, imajinasi saya melayang pada masa ketika tali-tali timba ditarik oleh tangan-tangan para sahabat. Air dari Sumur Ghars ini bukanlah air biasa; ia memiliki kedudukan yang sangat istimewa di hati Rasulullah saw. Dikisahkan dalam lembaran sirah nabawiyah bahwa Nabi saw sangat menyukai air dari sumur ini karena kesegaran dan kemurnian rasanya.

Rasulullah saw tidak hanya sekadar mengagumi, tetapi beliau juga kerap meminum air dari Sumur Ghars untuk melepaskan dahaga di tengah penatnya perjuangan mendakwahkan Islam. Membayangkan beliau duduk di sekitar tempat ini, memegang wadah air, dan mereguk kesegarannya, membuat tempat ini terasa begitu hidup. Setiap tetes air yang bersumber dari tanah ini telah menjadi saksi bisu kehidupan sang nabi.

Namun, daya tarik Bi’r Gharas yang paling menggetarkan jiwa bukan hanya karena airnya pernah membasahi tenggorokan suci beliau. Ada sebuah wasiat agung yang melekat pada sumur ini, sebuah pesan yang diucapkan menjelang akhir hayat Rasulullah saw. Beliau berpesan dengan penuh ketegasan agar kelak ketika wafat, jasad mulianya dimandikan menggunakan air yang bersumber dari Sumur Ghars ini.

Wasiat tersebut membawa dimensi emosional yang mendalam bagi siapa saja yang mengunjungi tempat ini. Tujuh timba air dari Sumur Ghars adalah air terakhir yang menyentuh fisik suci Rasulullah saw sebelum beliau dihantarkan ke liang lahad. Mengingat kisah itu di samping sumur ini membuat air mata rasanya tak terbendung, menyadari betapa setianya sumur ini menemani perjalanan terakhir sang kekasih Allah.

Saya teraku sejenak di tepi sumur, membiarkan pikiran meresapi setiap jengkal sejarah yang tertulis di sini. Angin sore berembus perlahan, menggoyang dedaunan di sekitar kompleks Ma'had Darul Hijrah. Tempat ini menjadi pengingat yang sunyi namun lantang tentang kefanaan dunia dan keabadian cinta kepada Rasulullah saw.

Eksplorasi ke Bi’r Gharas ini bukan sekadar perjalanan wisata pemandangan, melainkan sebuah ziarah hati. Melihat langsung tempat yang menjadi bagian dari wasiat akhir Nabi saw memberikan perspektif baru tentang bagaimana sejarah Islam mengakar begitu kuat pada detail-detail fisik yang ada di Madinah. Sumur ini adalah jembatan nyata yang menghubungkan umat masa kini dengan memori masa lalu.

Sebelum meninggalkan lokasi, saya sempatkan untuk memandang sekali lagi bangunan beratap yang melindungi Sumur Ghars. Ada rasa syukur yang membuncah karena situs-situs bersejarah seperti ini masih dirawat dan dapat dikunjungi, memungkinkan generasi hari ini untuk menyaksikan bukti fisik dari narasi-narasi sirah yang sering dibaca di dalam kitab.

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna keemasan yang menyepuh dinding-dinding di sekitar Ma'had Darul Hijrah. Saya melangkah pergi meninggalkan Bi’r Gharas dengan perasaan damai dan rindu yang semakin menebal. Langkah kaki membawa saya kembali menuju keramaian Madinah, namun sebagian dari hati dan pikiran saya rasanya tertinggal di kedalaman sumur bersejarah itu.

Wallahu A'lam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image