Belajar Ilmu Sosial: Untuk Memahami Kehidupan Sehari-hari
Guru Menulis | 2026-06-17 10:04:52Sultan Muhammad ShofwanProgram Studi Pendidikan Guru Madrasah IbtidaiyahUniversitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
“Ibu-ibu coba deh perhatiin anak-anak yang lagi main di taman komplek. Ada yang menangis karena rebutan ayunan, ada yang gantian mainnya sambil tertawa” .Berita terbarunya dari para ahli : Bukan karena anaknya baik atau nakal, tapi ada satu hal yang jarang diajarkan di les : “keterampilan Dasar ilmu sosial”.“ Nah kabar baiknya , keterampilan ini bisa dilatih di rumah looh.”
Melalui keterampilan sosial, anak-anak belajar mengamati,menanya, berkomunikasi, bekerjasama, dan berbagi dengan orang lain. Keterampilan ini tidak hanya mendukung interaksi sehari-hari tetapi juga meningkatkan perkembangan kognitif dan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, perlu mengembangkan keterampilan sosial sejak dini agar anak mampu beradaptasi, membangun hubungan yang sehat, dan menghadapi tantangan hidup di masa depan.
Keterampilan dasar dalam ilmu sosial adalah kemampuan anak untuk berpikir dan memahami kehidupan sosial. Kemampuan ini berakar dari konsep dasar interaksi sosial, yang berfungsi sebagai pedoman untuk berhubungan dengan orang lain dan untuk mempelajari Ilmu Sosial (IPS). Keterampilan ini mendorong anak untuk mencari, memproses, dan menganalisis informasi untuk mengatasi masalah sosial.
Dengan demikian, pembelajaran ilmu sosial tidak hanya berfokus pada pengetahuan tetapi juga pada proses berpikir kritis dan berhubungan dengan teman, keluarga,dan masyarakat. Keterampilan ini memiliki peran penting karena tidak hanya membantu memahami kehidupan sosial tetapi juga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah saya memahami apa itu keterampilan dasar ilmu sosial, saya jadi mengerti bahwasanya tidak cukup hanya memahami teori saja. Dari situ saya mulai ingin lebih memahami dalam lagi ada keterampilan apa saja dan bagaimana menerapkannya dalam sehari hari.
Pendekatan saintifik itu bagaimana sih?Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran dirancang menggunakan pendekatan ilmiah yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif. Artinya siswa terlibat langsung bukan hanya menerima materi saja. Pendekatan ini ada lima tahap : mengamati,menanya, penalaran, memperoleh informasi, dan menyajikan informasi. Tahapan tersebut menjadikan pembelajaran lebih bermakna, dan melatih berpikir kritis.
Ayo Mengamati!Melalui pengamatan, siswa diajak untuk lebih aktif, merasa tertantang, dan mengembangkan rasa ingin tahu yang kuat tentang materi yang dipelajari. Lebih lanjut, metode ini membantu siswa menemukan hubungan antara objek yang diamati dan konsep pembelajaran. Untuk pengamatan yang efektif, diperlukan perencanaan, menentukan objek, data yang dibutuhkan, lokasi serta cara pelaksanaannya.
Contoh: “ ibu saya mengajak aku ke pasar, kemudian bilang: “coba tebak nak ibu yang pake baju kuning di depan penjual sayur itu lagi apa?”. Biar dia merhatiin dulu . “ Kira-kira kenapa harus di timbang?”. Biar dia mikir kenapa harus di timbang . Dari pasar anak bisa melihat proses jual beli, tawar menawar, hubungan sosial antara pembeli, pedagang, dan lainnya.Dengan demikian, anak bisa mulai memahami konsep ekonomi tanpa harus menghafal definisinya. Saya melihat bahwa keterampilan sosial lebih mudah dipahami, mengamati bukan hanya tentang melihat, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung antara konsep yang mereka pelajari dengan apa yang diamati.
Menanya itu apa yah?Melalui pertanyaan, guru tidak hanya menguji pemahaman tetapi juga membimbing siswa dalam berpikir kritis dan mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Menariknya pertanyaan tidak harus berbentuk kalimat tanya tetapi juga dapat berupa pernyataan yang mendorong siswa untuk merespons. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, meningkatkan fokus, mendorong keterlibatan aktif, dan menentukan hasil belajar siswa.
Agar efektif, pertanyaan harus disajikan dengan jelas, ringkas, dan sesuai dengan kemampuan siswa. Selain itu, lingkungan diskusi terbuka sangat penting agar siswa merasa nyaman bertanya dan menjawab pertanyaan. Guru juga perlu mengatur arah pertanyaan dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa. Ketika siswa mengalami kesulitan, guru dapat menyederhanakan pertanyaan atau menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Dengan cara ini, bertanya tidak hanya mengajukan pertanyaan tetapi menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif .
Contoh: saat kegiatan ekonomi di pasar , guru bisa bertanya: “ mengapa harga barang di pasar bisa berbeda-beda? “.pertanyaan sederhana ini dapat mendorong siswa berpikir kritis, menghubungkan pengalaman mereka dan menyampaikan pendapat.
Apa itu Menalar?Kegiatan penalaran mengajak siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, sementara guru berperan sebagai pembimbing. Untuk mengembangkan kemampuan ini, pembelajaran perlu distrukturkan secara bertahap dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks, disampaikan dengan instruksi yang jelas dan contoh yang mudah dipahami, tanpa terlalu bergantung pada metode ceramah. Proses pembelajaran juga harus berfokus pada hasil yang dapat diamati, disertai dengan koreksi langsung terhadap kesalahan. Latihan dan pengulangan sangat penting untuk memastikan pemahaman menjadi kebiasaan.
Contoh :“ Nak kenapa tanaman di depan rumah yang sering di siram kelihatan lebih segar berbeda sama yang nggak disiram?”. Anak pasti mulai berpikir mencari alasan dan menyampaikan pendapatnya.Kemudian saya kaitkan dengan pengalaman sehari-hari “ kira-kira kenapa tumbuhan bisa layu?”. Dari sini anak mulai memahami tumbuhan membutuhkan air. Saya tidak perlu menjelaskan banyak-banyak, cukup kasih pertanyaan, contoh, dan arahan sedikit.Dari situlah saya melihat anak-anak bukan hanya menghafal, tapi benar-benar berpikir mencari jawabannya sendiri dan itulah yang disebut menalar.
Memperoleh informasi di lingkungan sekitarMenurut saya, kemampuan memperoleh informasi sebenarnya sangat penting, terutama dalam studi sosial. Informasi bisa kita dapatkan mulai dari buku, media ,hingga lingkungan sekitar. Misalnya, ketika membaca buku, kita tidak hanya membaca; kita juga perlu memahami isinya, memahami poin-poin utama pembahasan, mencatat, dan menarik kesimpulan. Lebih lanjut, media massa juga membantu kita mendapatkan informasi yang cepat dan terkini, memungkinkan kita untuk tetap mengetahui peristiwa yang terjadi di tempat lain. Namun, tidak semua informasi langsung akurat, jadi perlu teliti dan berpikir kritis .Contoh :“ Saya melihat anak saya sedang membaca buku tentang pasar, ia tidak hanya cuman membaca tetapi memahami ada siapa saja di dalam pasar,cara tawar menawar, dan mencatat hal-hal penting yang ada di pasar seperti jual beli”.Dalam pembelajaran Ips, ini sangat penting karena sumber belajar tidak hanya berasal dari buku teks di kelas tetapi juga dari kehidupan nyata di sekitar kita, membuat pembelajaran lebih nyata dan lebih mudah dipahami.
Menyampaikan informasiKeterampilan penyajian informasi juga merupakan bagian penting dari pembelajaran ilmu sosial, terutama bagi siswa. Siswa tidak hanya dituntut untuk memahami materi, tetapi juga mampu menyampaikan informasi yang telah mereka pelajari dengan jelas dan menarik. Misalnya, siswa dapat menyajikan pengamatan mereka melalui gambar,benda, atau cerita sederhana. Pendekatan ini membantu mereka menjelaskan apa yang telah mereka pelajari dengan lebih mudah dan membangun kepercayaan diri mereka.
Contoh : Bisa juga dengan menggambar “ nak gambarkan apa yang kamu lihat tadi di pasar dan jelasin ke ibu yah! “.
Dari situ anak mulai berpikir apa saja informasi yang didapat dalam pasar tadi dan menjelaskan pemahamannya sendiri. Walaupun sederhana tetapi hal tersebut membantu melatih keberanian, cara berbicara, dan menyampaikan informasi yang telah di dapat anak.
Dalam prosesnya, siswa belajar menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain. Dengan demikian, keterampilan penyajian informasi tidak hanya melatih pemahaman tetapi juga menumbuhkan keterampilan komunikasi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan keterampilan dasar ilmu sosial punya peran penting , terutama bagi anak-anak. Melalui mengamati, menanya, menalar, memperoleh informasi, dan menyajikan informasi, anak tidak hanya belajar cara berpikir, tetapi juga belajar memahami lingkungan sekitarnya dan berinteraksi dengan orang lain.Hal ini menunjukkan, keterampilan tidak hanya membantu dalam pembelajaran di sekolah, tetapi juga membantu dalam kehidupan sehari-hari . Oleh karena itu peran orang tua dan guru sangat penting untuk membimbing dan membiasakan keterampilan tersebut agar anak mampu bekerjasama, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan baik.
Sumber bacaan :https://ejournal.unikama.ac.id/index.php/JPPI/article/view/6742/4006 https://www.catholicearlyedcare.qld.edu.au/why-developing-social-skills-is-important-for-young-children/ https://id.scribd.com/document/442149556/MAKALAH-KETERAMPILAN-DASAR-ILMU-SOSIAL-pdf#google_vignette
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
