Ketika Dolar Berulang Tahun, Rupiah Menangis Diam-Diam
Sastra | 2026-06-16 21:42:51
Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali layar ponsel menyala di pagi hari, bukan karena alarm yang terlambat berbunyi, melainkan karena angka yang terpampang di aplikasi keuangan itu tampak seperti sedang berlomba memanjat tembok: dolar Amerika naik, rupiah menunduk, dan kita yang berdiri di antara keduanya hanya bisa menghela napas panjang sambil menyeruput kopi yang harganya pun diam-diam sudah ikut naik.
Rupiah, mata uang yang namanya begitu syahdu diucapkan, berasal dari kata Sanskerta rūpya yang bermakna perak, kini seolah sedang menjalani ujian kesabaran yang tidak pernah ada dalam kurikulumnya. Ia tidak menjerit. Ia tidak protes di jalanan. Ia hanya turun, pelan-pelan, dengan keanggunan yang menyedihkan, seperti daun yang gugur dari pohon beringin di halaman istana: jatuh dengan cara yang indah, tetapi tetap saja jatuh.
Sementara itu, dolar melangkah dengan dada membusung. Bukan karena ia lebih gagah atau lebih bijaksana, melainkan karena dunia telah lama sepakat untuk menjadikannya penguasa tak bertahta yang tetap berkuasa. The Fed menaikkan suku bunga dan dunia bergolak. Investor Amerika bersin maka pasar keuangan Asia masuk angin berhari-hari. Inilah ironi terbesar dari globalisasi: kita diajarkan bahwa semua bangsa setara, tetapi dalam bahasa ekonomi, ada yang lebih setara dari yang lain.
Di pasar-pasar tradisional, percakapan antar pedagang kini tak lagi sekadar membicarakan cuaca atau hasil panen. Mereka membicarakan kurs. Seorang pedagang bahan baku di Pasar Senen bisa dengan fasih menyebut angka-angka yang dulu hanya dibicarakan di ruang-ruang rapat berdasi. Itulah bukti bahwa volatilitas mata uang bukan semata-mata urusan para ekonom bertampang serius di televisi. Ia sudah lama turun ke bumi, masuk ke dapur, menyusup ke dalam kalkulasi belanja mingguan ibu rumah tangga di Magelang, di Palangka Raya, di Kupang.
Yang menarik dan sekaligus menggelitik adalah bagaimana kita kerap merespons kabar pelemahan rupiah dengan dua kutub yang sama-sama ekstrem. Sebagian sibuk menyalahkan siapa saja yang bisa disalahkan, seolah ada satu orang yang bangun pagi lalu memutuskan untuk memperlemah rupiah sambil sarapan nasi uduk. Sebagian lain bersikap terlalu tenang, berserah dengan kalimat "ini siklusnya" atau "nanti juga pulih", seperti dokter yang mendiagnosis pasien demam tinggi lalu hanya menyarankan banyak minum air putih. Padahal kebenaran selalu ada di antara kedua kutub itu, di ruang abu-abu yang membutuhkan pikiran jernih, bukan sekadar retorika yang meyakinkan.
Kita juga perlu jujur pada diri sendiri: ada sebagian dari kita, tidak banyak tetapi cukup untuk disebut, yang justru diuntungkan ketika rupiah melemah. Mereka yang mengantongi penghasilan dalam dolar, mereka yang bekerja untuk klien luar negeri dari kamar kos yang sewanya masih dibayar dalam rupiah. Maka pelemahan mata uang ini bukan sepenuhnya tragedi bagi semua orang secara merata. Ia adalah tragedi yang tidak adil distribusinya, yang paling keras menghantam mereka yang paling tidak punya pelindung: rakyat berpenghasilan tetap, pelaku usaha kecil yang bahan bakunya bergantung pada impor, dan keluarga-keluarga yang mengikat sabuk tanpa tahu kapan harus melepasnya kembali.
Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya pandai bermimpi, tetapi juga tahu cara bangun dari tidur. Maka mungkin sudah waktunya kita sebagai bangsa tidak hanya mahir berdebat tentang siapa yang salah ketika rupiah melemah, tetapi juga mulai membangun sesuatu yang lebih kokoh: fondasi ekonomi yang tidak terlalu mudah gemetar hanya karena angin bertiup dari Washington. Kedaulatan ekonomi, seperti juga kedaulatan dalam makna yang sesungguhnya, tidak datang dari pidato. Ia datang dari kerja keras yang sunyi, dari kebijakan yang konsisten, dan dari keberanian untuk memilih jalan panjang ketimbang jalan pintas yang menggiurkan.
Sebab pada akhirnya, rupiah bukan sekadar angka di papan nilai tukar. Ia adalah cermin dari seberapa serius kita memandang diri sendiri sebagai bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
