Kami Memilih Bertumbuh di Jalan yang Berbeda
Kisah | 2026-06-16 12:12:32
Oleh: Cahya Amalia Priandhini
Ada masa ketika kita begitu yakin bahwa seseorang adalah tujuan akhir dari perjalanan yang sedang kita tempuh. Bersamanya, kita menyusun mimpi, merencanakan masa depan, dan percaya bahwa waktu akan selalu berpihak pada apa yang sedang diperjuangkan bersama.
Aku pernah berada di masa itu.
Tiga tahun lebih bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Dalam rentang waktu tersebut, banyak cerita yang tercipta, banyak tawa yang dibagikan, dan banyak pelajaran yang tanpa sadar membentuk cara pandang kami terhadap kehidupan. Kami tumbuh bersama, saling mendukung, dan menjadi saksi atas proses pendewasaan satu sama lain.
Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Pada suatu titik, kami menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipertahankan hanya dengan perasaan. Ada ego yang belum sepenuhnya mampu kami kendalikan, ada keadaan yang tidak dapat dipaksakan, dan ada mimpi yang menuntut untuk diperjuangkan secara berbeda. Bertahan dalam keadaan seperti itu justru membuat kami semakin sulit menemukan ruang untuk bertumbuh.
Akhirnya, kami memilih untuk berjalan di jalan yang berbeda.
Keputusan itu bukanlah keputusan yang mudah. Kami hanya sama-sama memahami bahwa ada hal yang perlu diselesaikan dalam diri masing-masing sebelum memikirkan tentang masa depan bersama.
Aku memilih fokus menyelesaikan pendidikan dan mengejar cita-cita yang sedang kubangun. Sementara itu, ia memilih menata masa depannya melalui pekerjaan dan perjuangan yang sedang dirintis. Kami melanjutkan perjalanan masing-masing dengan harapan yang sama yaitu menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa perpisahan tidak selalu berarti kegagalan. Terkadang, perpisahan justru menjadi ruang bagi dua orang untuk bertumbuh tanpa saling membatasi. Ada pelajaran yang hanya bisa dipahami ketika seseorang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Tentu saja, ada hari-hari ketika kenangan datang tanpa permisi. Ada lagu yang mengingatkan pada masa lalu, ada tempat yang membawa ingatan kembali berkelana, dan ada momen ketika aku bertanya-tanya bagaimana kabarnya hari ini. Namun, aku belajar untuk menerima bahwa tidak semua cerita harus dipaksakan berakhir sesuai keinginan.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Tidak ada yang bisa memastikan apakah dua jalan yang kini berbeda akan kembali bertemu di masa depan. Namun aku percaya, jika memang ditakdirkan untuk bersama, waktu akan menemukan caranya sendiri untuk mempertemukan kembali.
Sampai saat itu tiba, biarlah kami melanjutkan perjalanan masing-masing. Aku dengan mimpiku, dan dia dengan perjuangannya. Tidak lagi saling menggenggam, tetapi tetap saling mendoakan dari kejauhan.
Karena pada akhirnya, bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang mengikhlaskan, menghargai proses, dan percaya bahwa setiap pertemuan maupun perpisahan selalu membawa pelajaran yang berharga. dan aku ikhlaskan dia hidup dihatiku.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
