Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Idmar wijaya

Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H

Sejarah | 2026-06-15 19:48:07

Oleh Dr. Idmar Wijaya,S.Ag., M.Hum

Dosen Prodi KPI FAI UM Palembang, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Sumsel dan Wk. PDM Kota Palembang

Pengantar

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perjalanan fisik atau perpindahan geografis. Ia adalah titik balik besar dalam sejarah peradaban Islam yang membawa cetak biru (blueprint) perubahan sosial, karakter, dan manajemen organisasi yang luar biasa. Ketika kita memperingati pergantian Tahun Baru Islam, ada beberapa nilai fundamental yang bisa kita gali dan terapkan dalam kehidupan personal maupun profesional kita saat ini. Dimasa Rasulullah SAW saat hijrah dari Kota Mekkah ke Madinah hendaknya dimulai dari niat yang tulus, sebab saat itu ada salah seorang yang ikut hijrah bukan karena Allah dan Rasul melainkan karena ada wanta sang kekasih orang itu yang ikut hijrah sehingga hijrahnya karena termorivasi kekasihnya, maka ada asbabul wurud hadits tentang hijrah.

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه } رواه البخاري ومسلم{

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh (Umar bin Al-Khattab) radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu (bernilai pahala) menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu menuju apa yang ia niatkan tersebut." (Hadis Riwayat Al-Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907)

Dari pristiwa hijrah ada beberapa hal yang dapat kita petik dan bahkan memberikan perubahan, yaitu:

1. Transformasi Diri dan Adaptasi (Makna Esensial Hijrah)

Secara bahasa, hijrah berarti berpindah atau meninggalkan. Di era modern, nilai ini bertransformasi menjadi semangat untuk berubah menjadi lebih baik (continuous improvement).

v Meninggalkan Zona Nyaman: Berani meninggalkan kebiasaan buruk, lingkungan yang tidak produktif, atau pola pikir yang menghambat kemajuan.

v Adaptabilitas: Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan baru, teknologi baru, dan lingkungan baru demi mencapai tujuan yang lebih besar.

2. Perencanaan Matang dan Manajemen Risiko (The Power of Planning)

Seringkali kita melihat Hijrah hanya sebagai mukjizat, padahal Rasulullah SAW mencontohkan manajemen strategi yang sangat rapi dan penuh kehati-hatian:

v Beliau memilih rute yang tidak biasa (jalur selatan) untuk mengelabui pengejar.

v Beliau membagi peran dengan sangat spesifik (Sayyidina Ali sebagai pengalih perhatian di tempat tidur, Asma binti Abu Bakar sebagai penyuplai logistik, dan Abdullah bin Uraiqit sebagai penunjuk jalan profesional yang tahu medan).

v Pelajaran bagi kita: Keberhasilan sebuah visi besar—baik dalam hidup maupun organisasi—memerlukan perencanaan yang matang, penempatan orang yang tepat (the right man on the right place), dan perhitungan risiko yang cermat.

3. Solidaritas dan Integrasi Sosial (Persaudaraan Muhajirin & Anshar)

Salah satu langkah awal Rasulullah SAW setibanya di Madinah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dan kaum Anshar (penduduk lokal).

v Nilai Etika & Empati: Kaum Anshar dengan tulus membagi apa yang mereka miliki, dan kaum Muhajirin menjaga kehormatan diri dengan tidak menjadi beban, melainkan langsung aktif bekerja dan berdagang dan kegiatan lainnya.

v Kolaborasi Tim: Dalam konteks organisasi atau komunitas, nilai ini mengajarkan pentingnya membangun trust (kepercayaan), menghilangkan sekat-sekat ego kelompok, dan mengutamakan kolaborasi demi mencapai tujuan bersama.

4. Integritas dan Memegang Teguh Amanah

Ada satu detail menarik saat malam hijrah: Rasulullah SAW meminta Sayyidina Ali untuk tidur di ranjang beliau, salah satu tujuannya adalah untuk mengembalikan barang-barang titipan penduduk Makkah yang disimpan di rumah beliau.

v Meskipun penduduk Makkah saat itu memusuhi beliau secara ideologi, mereka tetap memercayakan harta mereka kepada Rasulullah karena sifat Al-Amin (dapat dipercaya) yang beliau miliki.

v Pelajaran bagi kita: Integritas, kejujuran, dan profesionalisme harus tetap dijaga di atas segalanya, bahkan dalam situasi penuh konflik atau tekanan sekalipun.

5. Momentum Review dan Penyusunan Strategi Baru (Self-Reflection)

Pergantian tahun baru Islam adalah kalender peradaban yang dimulai dari momen perjuangan, bukan momen kelahiran atau kematian. Ini memberi pesan kuat bahwa Islam sangat menghargai proses, aksi, dan progres.

v Momen ini adalah waktu terbaik untuk melakukan evaluasi total (muhasabah) atas apa yang sudah dicapai dan apa yang gagal dilakukan di tahun lalu.

v Menyusun kembali visi, target, dan rencana aksi baru (resolusi) yang lebih terukur untuk setahun ke depan.

Penutup.

Peristiwa Hijrah mengajarkan kita bahwa perubahan tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari niat yang lurus, direncanakan dengan akal yang cerdas, dieksekusi dengan keberanian, dan disempurnakan dengan tawakal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image