Era Menonton Tanpa Jadwal: Bagaimana Netflix Mengubah Kebiasaan Kita
Gaya Hidup | 2026-06-15 08:53:18oleh Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Masih ingat masa ketika kita harus menunggu pukul tujuh malam untuk menonton sinetron favorit atau bangun pagi demi menyaksikan kartun kesayangan, khususnya pada akhir pekan? Pada masa itu, jadwal televisi menentukan kapan kita bisa menikmati sebuah tayangan. Jika terlewat, kita harus menunggu siaran ulang atau sekadar mendengar cerita dari teman. Namun, pemandangan itu kini perlahan menjadi kenangan yang mungkin dirindukan.
Perkembangan internet dan teknologi digital telah mengubah cara manusia menikmati hiburan. Kehadiran platform streaming seperti Netflix membuat aktivitas menonton tidak lagi bergantung pada jadwal siaran. Film, serial, dokumenter, hingga acara realitas kini dapat diakses kapan saja, di mana saja, dan melalui berbagai perangkat. Kita tidak lagi menyesuaikan waktu dengan televisi. Justru, televisi dan platform digital yang menyesuaikan diri dengan waktu kita.
Perubahan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Netflix bukan sekadar menyediakan tontonan. Platform ini telah mengubah cara masyarakat mengelola waktu luang, menikmati cerita, bahkan membangun kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang oleh banyak peneliti disebut sebagai bagian dari “Netflix Effect”, yaitu perubahan pola konsumsi media akibat hadirnya layanan video berbasis internet.
Salah satu perubahan paling nyata adalah lahirnya budaya binge-watching atau menonton beberapa episode sekaligus dalam satu sesi. Jika dahulu satu episode serial harus ditunggu selama seminggu, kini satu musim penuh dapat diselesaikan dalam satu akhir pekan. Netflix bahkan merancang pengalaman menonton yang mendukung kebiasaan ini melalui fitur pemutaran otomatis dan rekomendasi tayangan yang dipersonalisasi.
Menariknya, kebiasaan menonton maraton ini tidak selalu berdampak negatif. Penelitian terbaru yang membandingkan pengalaman menonton Netflix dengan konsumsi video pendek di TikTok menemukan bahwa pengguna Netflix cenderung memperoleh pengalaman yang lebih mendalam. Mereka merasa lebih terlibat dengan cerita, lebih menikmati hiburan yang disajikan, dan memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih baik dibandingkan pengguna yang menghabiskan waktu lama menonton video pendek secara beruntun.
Temuan tersebut cukup mengejutkan. Di tengah kekhawatiran bahwa menonton terlalu lama dapat merugikan, penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengalaman ternyata lebih penting daripada sekadar lamanya waktu yang dihabiskan. Saat menonton serial di Netflix, penonton mengikuti alur cerita yang berkelanjutan, mengenal karakter lebih dekat, dan merasakan keterikatan emosional yang lebih kuat. Sebaliknya, video pendek cenderung menawarkan hiburan yang cepat, terputus-putus, dan kurang memberikan pengalaman naratif yang mendalam.
Perubahan berikutnya adalah meningkatnya kendali pengguna atas aktivitas menonton. Netflix memberikan kebebasan penuh untuk memilih apa yang ingin ditonton, kapan menontonnya, dan melalui perangkat apa. Seorang mahasiswa dapat melanjutkan serial favoritnya saat perjalanan menggunakan ponsel, sementara pekerja kantoran dapat menonton film pada malam hari melalui televisi pintar di rumah. Fleksibilitas semacam ini belum pernah dimiliki oleh generasi penonton sebelumnya.
Tidak hanya mengubah perilaku individu, Netflix juga mengubah lanskap industri media global. Saat ini platform tersebut hadir di lebih dari 190 negara dan menjadi salah satu simbol globalisasi media digital. Berbeda dengan televisi konvensional yang biasanya beroperasi dalam batas wilayah tertentu, Netflix mampu menghadirkan konten dari berbagai negara kepada audiens global dalam waktu yang hampir bersamaan. Tentunya, hal ini sangat menguntungkan seluruh pihak sebagai “siklus sehat” industri kreatif.
Fenomena ini membuka peluang baru bagi pertukaran budaya. Penonton Indonesia dapat menikmati serial Korea Selatan, drama Spanyol, dokumenter Amerika Serikat, atau film India hanya dengan beberapa klik. Sebaliknya, karya-karya dari berbagai negara juga memperoleh kesempatan menjangkau pasar internasional yang sebelumnya sulit dicapai. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak serial non-Barat berhasil menjadi tontonan global berkat distribusi melalui Netflix.
Namun, perubahan ini juga menghadirkan tantangan. Ketika algoritma menentukan rekomendasi tayangan, muncul pertanyaan mengenai keberagaman konten yang dikonsumsi masyarakat. Apakah pengguna benar-benar bebas memilih, atau justru diarahkan oleh sistem yang mempelajari kebiasaan mereka? Selain itu, semakin mudahnya akses terhadap hiburan digital juga memunculkan kekhawatiran mengenai berkurangnya interaksi sosial tatap muka dan meningkatnya waktu layar (screen time).
Meski demikian, sulit untuk menyangkal bahwa Netflix telah menghadirkan bentuk kebebasan baru dalam menikmati hiburan. Jika televisi dahulu mengajarkan disiplin mengikuti jadwal, Netflix mengajarkan kebebasan memilih waktu. Jika sebelumnya penonton harus menyesuaikan diri dengan media, kini media yang menyesuaikan diri dengan penonton.
Netflix telah menjadi lebih dari sekadar platform streaming. Netflix merupakan simbol perubahan budaya menonton pada era digital. Melalui akses tanpa batas waktu, kebebasan memilih konten, pengalaman menonton yang personal, serta jangkauan global yang luas, Netflix berhasil mengubah hubungan manusia dengan media audiovisual.
Kita kini hidup dalam era menonton tanpa jadwal. Sebuah era ketika hiburan tersedia kapan saja dan di mana saja, ketika satu episode dapat berlanjut menjadi satu musim dalam semalam, dan ketika pilihan tontonan berada di ujung jari. Pertanyaannya bukan lagi kapan sebuah acara ditayangkan, melainkan kapan kita ingin menontonnya. Di situlah letak revolusi terbesar yang dibawa Netflix, yaitu mengembalikan kendali menonton kepada penonton itu sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
