Palestina dalam Pusaran Ambisi Israel Raya
Agama | 2026-06-14 22:20:37Di tengah penderitaan yang belum berakhir, rakyat Palestina kembali dihadapkan pada ancaman baru. Rencana Israel memperluas kontrol hingga mencakup sekitar 70 persen Jalur Gaza memicu kecemasan besar, terutama bagi warga yang tinggal di dekat zona pembatas dan terancam terusir dari tanah mereka sendiri (MetroTv, 5/6/2026)
Ambisi Israel untuk memperluas penguasaan atas Palestina semakin tampak melalui berbagai kebijakan dan tindakannya. Di Gaza, agresi militer terus berlangsung meski berbagai upaya gencatan senjata telah dilakukan. Serangan yang berulang menunjukkan bahwa penyelesaian damai belum menjadi prioritas, sementara rakyat Palestina terus menjadi korban. Pada saat yang sama, ribuan permukiman Yahudi di Tepi Barat terus diperluas sebagai bagian dari strategi memperkuat kontrol atas wilayah pendudukan. Akibatnya, tanah Palestina semakin menyusut dan sebagian besar wilayahnya berada di bawah kendali entitas Zionis.
Tak hanya wilayah Palestina yang menjadi sasaran, Masjid Al-Aqsa juga terus menghadapi berbagai ancaman. Pengibaran bendera Israel di kawasan Al-Aqsa merupakan simbol penegasan kekuasaan dan dominasi entitas Zionis atas tanah yang suci bagi umat Islam. Penjajahan di Gaza, ekspansi permukiman di Tepi Barat, dan berbagai provokasi di Al-Aqsa menunjukkan pola yang saling terkait, yakni memperkuat penguasaan atas Palestina sekaligus menegaskan klaim Israel atas wilayah dan simbol-simbol penting yang menjadi bagian dari identitas umat Islam.
Ambisi Israel Raya
Berbagai tindakan yang dilakukan entitas Zionis di Palestina menunjukkan adanya upaya sistematis untuk memperluas penguasaan wilayah dan mengukuhkan dominasinya di kawasan. Gaza dihancurkan melalui serangan militer yang terus berlangsung, sementara di Tepi Barat pembangunan dan perluasan permukiman Yahudi dilakukan secara masif. Di saat yang sama, rakyat Palestina menghadapi pengusiran, perampasan tanah, dan berbagai bentuk kekerasan yang telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Rangkaian tindakan ini adalah sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk mewujudkan ambisi Israel Raya dengan mengubah peta demografi dan geopolitik Palestina secara permanen.
Apa yang terjadi di Palestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan tragedi kemanusiaan yang memperlihatkan wajah kebiadaban penjajahan modern. Pembunuhan warga sipil, penghancuran permukiman, blokade yang menimbulkan kelaparan, serta perampasan hak-hak dasar rakyat Palestina merupakan bentuk kekejaman yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. inilah kejahatan kemanusiaan terbesar yang masih berlangsung di era modern. Ironisnya, tindakan tersebut terus berlanjut karena mendapat dukungan politik, diplomatik, ekonomi, bahkan militer dari Amerika Serikat yang selama ini menjadi sekutu utama Israel.
Dukungan Amerika Serikat tidak hanya tampak dalam bantuan militer dan perlindungan diplomatik di forum internasional, tetapi juga melalui berbagai skema politik yang menguntungkan kepentingan Israel. Salah satunya adalah dorongan terhadap solusi dua negara yang dalam praktiknya belum mampu menghentikan pendudukan dan justru sering dijadikan legitimasi atas fakta-fakta baru yang diciptakan Israel di lapangan. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian penguasa negeri-negeri Muslim memilih mengikuti arah kebijakan tersebut, bahkan menjalin hubungan yang semakin erat dengan Israel, alih-alih mengambil langkah nyata untuk menghentikan penjajahan yang menimpa rakyat Palestina.
Akibatnya, penderitaan Palestina terus berulang tanpa penyelesaian yang mendasar. Selama negeri-negeri Muslim berjalan sendiri-sendiri dan para penguasanya lebih mengutamakan kepentingan politik masing-masing daripada membela saudara seiman yang tertindas, Palestina akan tetap berada dalam posisi yang lemah. Ketiadaan persatuan politik umat Islam telah membuka ruang bagi kekuatan-kekuatan besar untuk menentukan nasib Palestina sesuai kepentingan mereka. Karena itulah, tragedi Palestina sejatinya bukan hanya cermin kebrutalan penjajah, tetapi juga cermin lemahnya persatuan dan kepemimpinan dunia Islam dalam menghadapi salah satu persoalan terbesar umat saat ini.
Persatuan Umat untuk Membebaskan Palestina
Dalam pandangan politik Islam, ambisi Israel Raya tidak cukup dilawan dengan kecaman diplomatik, bantuan kemanusiaan, atau perundingan yang berulang kali gagal menghentikan penjajahan. Yang dibutuhkan adalah kekuatan nyata yang mampu melindungi kaum Muslim dan menjaga wilayah-wilayah suci umat Islam. Karena itu, persatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan politik adalah kebutuhan mendesak agar umat memiliki kekuatan yang mampu menghadapi berbagai bentuk agresi dan penjajahan.
Atas dasar itu, tegaknya Khilafah haruslah menjadi prioritas perjuangan umat. Khilafah merupakan bentuk persatuan politik umat Islam yang dapat menyatukan potensi negeri-negeri Muslim yang saat ini tercerai-berai oleh batas-batas nasional. Dengan bersatunya umat dalam satu kepemimpinan, kekuatan ekonomi, politik, dan militer kaum Muslim akan dapat diarahkan untuk melindungi kepentingan umat dan menghentikan berbagai bentuk penjajahan yang menimpa negeri-negeri Islam.
Khilafah akan menghilangkan sekat nasionalisme yang selama ini membuat negeri-negeri Muslim lebih mengutamakan kepentingan masing-masing daripada kepentingan umat secara keseluruhan. Persatuan politik akan menutup peluang terjadinya kerja sama atau keberpihakan sebagian penguasa Muslim kepada pihak-pihak yang merugikan kaum Muslim. Dengan demikian, sikap dan kebijakan dunia Islam akan lebih terarah dan memiliki tujuan yang sama dalam membela kepentingan umat.
Seorang khalifah memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan wilayah Islam dan melindungi kaum Muslim yang tertindas. Karena itu, pembebasan Palestina merupakan salah satu kewajiban yang harus diupayakan oleh kepemimpinan Islam yang bersatu. Dengan adanya kepemimpinan yang kuat, Palestina tidak akan dibiarkan berjuang sendirian menghadapi penjajahan, melainkan memperoleh dukungan nyata dari seluruh potensi umat Islam yang dipersatukan dalam satu kepemimpinan global. Hanya dengan persatuan yang kokoh dan kepemimpinan yang mampu menggerakkan kekuatan umat secara menyeluruh, penjajahan atas Palestina dapat diakhiri dan Masjid Al-Aqsa dapat kembali berada dalam perlindungan kaum Muslim.
Wallahu a’lam bisshawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
