Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Samuel

Apakah Media Sosial Membuat Manusia Kehilangan Jati Diri?

Gaya Hidup | 2026-06-14 17:34:42

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang membuka aplikasi media sosial beberapa kali dalam sehari, mulai dari sekadar melihat hiburan, mengikuti tren, hingga membagikan aktivitas pribadi. Namun, di balik kemudahan dan kesenangan tersebut, muncul sebuah pertanyaan: apakah media sosial perlahan membuat manusia kehilangan jati dirinya?

Tanpa disadari, media sosial menciptakan ruang di mana seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita melihat orang yang tampak sukses, cantik, produktif, dan bahagia setiap hari. Akibatnya, banyak orang mulai merasa hidupnya kurang menarik dibanding kehidupan orang lain di internet. Dari sinilah muncul tekanan sosial yang membuat seseorang berusaha menyesuaikan diri agar diterima lingkungan digital.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui sudut pandang sosiologi, khususnya konsep interaksi sosial dan konstruksi identitas. Dalam kehidupan sosial, manusia memang cenderung ingin diterima oleh kelompoknya. Namun, media sosial memperbesar dorongan tersebut. Banyak orang akhirnya membentuk “versi ideal” dirinya di internet, meskipun berbeda dengan kehidupan nyata. Mereka mulai mengatur cara berbicara, berpakaian, bahkan berpikir demi mendapatkan validasi berupa like, komentar, dan followers.

Akibatnya, identitas pribadi perlahan berubah menjadi identitas yang dibentuk oleh ekspektasi sosial. Seseorang bisa merasa takut menjadi dirinya sendiri karena khawatir dianggap aneh, tertinggal, atau tidak relevan. Tidak sedikit pula yang mengalami overthinking dan krisis percaya diri akibat terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Di sisi lain, media sosial sebenarnya bukan sepenuhnya buruk. Platform digital juga dapat menjadi tempat berekspresi, belajar, dan membangun relasi. Masalahnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya. Ketika media sosial dijadikan standar utama untuk menentukan nilai diri, saat itulah seseorang mulai kehilangan arah tentang siapa dirinya sebenarnya.

Pada akhirnya, manusia perlu menyadari bahwa kehidupan di internet hanyalah potongan kecil dari realitas. Tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan utuh. Menjadi diri sendiri mungkin terasa sulit di tengah tekanan sosial digital, tetapi itulah hal yang membuat seseorang memiliki identitas yang nyata.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image