Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ARMANDA WILDAN

Obat Bahan Alam: Populer Digunakan, Namun Masih Kurang Dipahami

Edukasi | 2026-06-12 19:00:24

Siapa yang tidak mengenal jamu? Mulai dari kunyit asam, beras kencur, hingga berbagai produk herbal kemasan, obat bahan alam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Banyak orang memilih produk herbal karena dianggap lebih alami, mudah diperoleh, dan memiliki efek samping yang lebih ringan dibandingkan obat modern.

Namun, di balik popularitasnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa obat bahan alam memiliki beberapa golongan dengan tingkat keamanan dan pembuktian ilmiah yang berbeda. Akibatnya, tidak sedikit orang yang mengonsumsi produk herbal hanya berdasarkan rekomendasi teman, keluarga, atau informasi dari media sosial tanpa mengetahui jenis dan cara penggunaannya secara tepat.

Apa sih itu obat bahan alam?

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat bahan alam di Indonesia dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Jamu merupakan obat tradisional yang manfaatnya diperoleh berdasarkan pengalaman penggunaan secara turun-temurun. OHT telah melalui uji praklinik pada hewan percobaan, sedangkan fitofarmaka merupakan produk herbal yang telah menjalani uji klinik pada manusia sehingga memiliki tingkat pembuktian ilmiah tertinggi.

Upaya edukasi mahasiswa

Sayangnya, perbedaan tersebut belum banyak diketahui masyarakat. Kondisi ini ditemukan dalam kegiatan edukasi mengenai penggolongan obat bahan alam yang dilaksanakan kepada kelompok lansia di Desa Ketapang Lor, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Sebelum penyampaian materi, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal terkait obat bahan alam.

Hasilnya cukup menarik. Nilai rata-rata pre-test hanya mencapai 52,32 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian peserta masih kesulitan membedakan antara jamu, OHT, dan fitofarmaka. Beberapa peserta bahkan belum mengetahui bahwa logo pada kemasan produk herbal memiliki arti penting yang menunjukkan tingkat pembuktian ilmiah suatu produk.

Padahal, pemahaman tersebut sangat penting. Laporan WHO Global Report on Traditional and Complementary Medicine menyebutkan bahwa penggunaan obat tradisional dan herbal terus meningkat di berbagai negara. Bersamaan dengan itu, World Health Organization (WHO) juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar penggunaan produk herbal tetap memperhatikan aspek keamanan, mutu, dan efektivitas (WHO, 2019).

Untuk menjawab permasalahan tersebut, peserta diberikan edukasi melalui metode ceramah interaktif, diskusi, serta media pendukung berupa leaflet, papan informasi, dan video edukasi. Suasana kegiatan berlangsung aktif karena banyak peserta yang baru mengetahui bahwa tidak semua obat herbal memiliki tingkat penelitian yang sama.

Setelah edukasi selesai, dilakukan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasilnya menunjukkan perubahan yang sangat positif. Nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 88,88 persen, dengan rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 36,56 persen.

Efek dari edukasi mahasiswa

Peningkatan ini menunjukkan bahwa edukasi sederhana yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami mampu memberikan dampak yang besar. Peserta menjadi lebih mengenali logo obat bahan alam, memahami perbedaan jamu, OHT, dan fitofarmaka, serta lebih memahami pentingnya membaca aturan pakai sebelum mengonsumsi produk herbal.

Hal yang tidak kalah penting adalah munculnya kesadaran bahwa istilah “alami” bukan berarti selalu aman untuk semua orang. Beberapa produk herbal dapat menimbulkan efek samping atau berinteraksi dengan obat lain apabila digunakan secara tidak tepat. Oleh karena itu, informasi yang benar menjadi kunci agar manfaat obat bahan alam dapat diperoleh secara optimal.

Melalui kegiatan edukasi seperti ini, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi pengguna obat bahan alam, tetapi juga menjadi pengguna yang cerdas. Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat memilih produk yang sesuai kebutuhan, memahami tingkat keamanan produk, dan menggunakan obat bahan alam secara lebih bijak.

Penulis: Armanda Wildan Yanuarta

Pembimbing: Susilo Harianto

Program Studi: D3 Keperawatan

Sumber: World Health Organization. WHO Global Report on Traditional and Complementary Medicine (2019); Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (2022).

Edukasi pada Lansia | Foto: Dokumentasi Pribadi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image