Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kezia Fidelia Sharon

Mengapa ASEAN Tetap Relevan dalam Arsitektur Indo-Pasifik Abad ke-21?

Edukasi | 2026-06-11 13:38:58
Sumber: Universitas Airlangga, 2023.
Sumber: Universitas Airlangga, 2023.

Kawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi pusat dinamika politik dan ekonomi global. Lebih dari setengah perdagangan dunia melintasi kawasan ini, sementara berbagai kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India, dan Australia terus berupaya memperluas pengaruhnya. Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik tersebut, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menghadapi tantangan untuk mempertahankan relevansinya sebagai organisasi regional yang selama hampir enam dekade menjadi pilar stabilitas Asia Tenggara.

Munculnya berbagai inisiatif baru seperti AUKUS dan Quadrilateral Security Dialogue (Quad) memunculkan pertanyaan mengenai apakah ASEAN masih memiliki posisi sentral dalam arsitektur kawasan. Namun, hingga saat ini ASEAN tetap menjadi forum utama yang mempertemukan negara-negara besar dan negara berkembang dalam berbagai mekanisme kerja sama regional.

Artikel ini menggunakan perspektif Institusionalisme Liberal untuk menjelaskan mengapa ASEAN tetap relevan dalam arsitektur Indo-Pasifik abad ke-21 serta bagaimana organisasi tersebut menghadapi berbagai tantangan geopolitik dan pembangunan berkelanjutan di kawasan.

ASEAN dalam Perspektif Institusionalisme Liberal

Institusionalisme Liberal berpendapat bahwa kerja sama antarnegara dapat terwujud melalui institusi internasional yang mampu mengurangi ketidakpastian, membangun kepercayaan, dan menciptakan aturan bersama. Menurut Robert Keohane, institusi internasional membantu negara-negara mencapai kepentingannya tanpa harus bergantung pada penggunaan kekuatan militer semata.

Dalam konteks Asia Tenggara, ASEAN merupakan contoh institusi regional yang berhasil memfasilitasi kerja sama antarnegara dengan latar belakang politik, ekonomi, budaya, dan tingkat pembangunan yang berbeda. Sejak berdiri pada tahun 1967, ASEAN telah berkembang dari organisasi yang berfokus pada stabilitas politik menjadi komunitas regional yang mencakup kerja sama ekonomi, sosial-budaya, dan keamanan.

Melalui berbagai mekanisme seperti ASEAN Regional Forum (ARF), East Asia Summit (EAS), dan ASEAN Defence Ministers' Meeting Plus (ADMM-Plus), ASEAN berhasil menciptakan ruang dialog yang mempertemukan berbagai aktor internasional dalam satu forum yang inklusif.

Sumber: Quipper Blog, 2023.
Sumber: Quipper Blog, 2023.

ASEAN Centrality dalam Arsitektur Indo-Pasifik

Konsep ASEAN Centrality menjadi salah satu alasan utama mengapa ASEAN tetap relevan. Konsep ini mengacu pada posisi ASEAN sebagai pusat berbagai mekanisme kerja sama regional di kawasan Asia Pasifik dan Indo-Pasifik.

Berbeda dengan aliansi keamanan yang bersifat eksklusif, ASEAN mengedepankan pendekatan yang inklusif dan terbuka bagi seluruh negara yang memiliki kepentingan di kawasan. Pendekatan tersebut diperkuat melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang diluncurkan pada tahun 2019.

AOIP menekankan pentingnya kerja sama, keterbukaan, penghormatan terhadap hukum internasional, serta penyelesaian sengketa secara damai. Melalui pendekatan ini, ASEAN berupaya mencegah kawasan Indo-Pasifik menjadi arena konflik terbuka akibat persaingan antarnegara besar.

Keberhasilan ASEAN mempertahankan sentralitasnya terlihat dari fakta bahwa berbagai negara besar masih menjadikan forum-forum ASEAN sebagai sarana utama untuk berdialog mengenai isu keamanan, ekonomi, dan pembangunan kawasan.

Analisis Kasus Aktual: ASEAN di Tengah Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok

Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi tantangan terbesar bagi ASEAN dalam beberapa tahun terakhir. Kedua negara berusaha memperkuat pengaruhnya melalui perdagangan, investasi, teknologi, serta kerja sama keamanan.

Bagi negara-negara ASEAN, kondisi ini menciptakan dilema strategis. Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar bagi ASEAN, sementara Amerika Serikat tetap menjadi mitra penting dalam bidang investasi, teknologi, dan keamanan. Akibatnya, sebagian besar negara ASEAN berupaya mempertahankan hubungan baik dengan kedua negara tanpa harus berpihak secara terbuka.

Salah satu contoh nyata terlihat pada sengketa Laut Tiongkok Selatan. Beberapa negara anggota ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei memiliki klaim wilayah yang tumpang tindih dengan Tiongkok. Meskipun sengketa tersebut belum terselesaikan, ASEAN tetap berperan sebagai forum utama dalam mendorong perundingan Code of Conduct (CoC) antara ASEAN dan Tiongkok.

Selain itu, pembentukan AUKUS pada tahun 2021 juga menjadi ujian bagi ASEAN. Kerja sama keamanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran mengenai meningkatnya perlombaan senjata di kawasan. Dalam menghadapi situasi tersebut, ASEAN tetap menegaskan pentingnya stabilitas regional dan penyelesaian perbedaan melalui dialog.

Kemampuan ASEAN untuk mempertahankan komunikasi antara berbagai pihak menunjukkan bahwa organisasi ini masih memiliki fungsi strategis dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Aktor yang Terlibat

Relevansi ASEAN dalam arsitektur Indo-Pasifik melibatkan berbagai aktor internasional.

Pertama, negara-negara anggota ASEAN sebagai aktor utama yang menentukan arah kebijakan organisasi. Kedua, Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai kekuatan besar yang memiliki kepentingan geopolitik dan ekonomi di kawasan. Ketiga, organisasi internasional dan forum regional seperti ASEAN Regional Forum dan East Asia Summit yang berfungsi sebagai wadah dialog multilateral.

Selain itu, perusahaan multinasional juga memainkan peran penting melalui investasi dan integrasi rantai pasok regional. Organisasi masyarakat sipil dan lembaga non-pemerintah turut berkontribusi dalam isu pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, serta perlindungan hak asasi manusia.

Interaksi berbagai aktor tersebut menunjukkan bahwa ASEAN tidak hanya berfungsi sebagai organisasi antarnegara, tetapi juga sebagai platform yang menghubungkan berbagai kepentingan dalam tata kelola kawasan.

Analisis Kritis

Meskipun ASEAN masih relevan, organisasi ini menghadapi sejumlah tantangan serius. Prinsip konsensus yang menjadi dasar pengambilan keputusan sering kali memperlambat respons ASEAN terhadap berbagai krisis regional.

Krisis politik Myanmar sejak kudeta militer tahun 2021 menjadi contoh nyata keterbatasan ASEAN. Meskipun organisasi ini telah mengadopsi Five-Point Consensus sebagai upaya penyelesaian konflik, implementasinya masih menghadapi berbagai hambatan.

Selain itu, perbedaan kepentingan antarnegara anggota dalam menyikapi rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok berpotensi memengaruhi soliditas ASEAN. Ketergantungan ekonomi yang berbeda-beda terhadap kedua negara tersebut membuat ASEAN tidak selalu memiliki posisi yang seragam dalam menghadapi isu strategis kawasan.

Namun demikian, kelemahan tersebut tidak menghilangkan relevansi ASEAN. Justru dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, keberadaan forum dialog yang inklusif menjadi semakin penting. ASEAN tetap menjadi satu-satunya organisasi regional yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan besar dalam satu mekanisme kerja sama yang diterima oleh semua pihak.

Kesimpulan

ASEAN tetap relevan dalam arsitektur Indo-Pasifik abad ke-21 karena mampu menjalankan fungsi sebagai pusat dialog, kerja sama, dan stabilitas kawasan. Melalui perspektif Institusionalisme Liberal, ASEAN menunjukkan bahwa institusi regional dapat membantu negara-negara mengelola perbedaan kepentingan dan mengurangi potensi konflik.

Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, ASEAN berhasil mempertahankan sentralitasnya melalui berbagai forum regional yang mempertemukan negara-negara besar dalam satu wadah dialog. Meskipun menghadapi tantangan seperti krisis Myanmar dan meningkatnya persaingan geopolitik, ASEAN tetap memiliki posisi strategis dalam membentuk tatanan Indo-Pasifik yang inklusif dan berkelanjutan.

Kemampuan ASEAN untuk mempertahankan sentralitas, memperkuat solidaritas internal, dan menyesuaikan diri dengan dinamika global akan menjadi faktor utama yang menentukan relevansinya di masa depan.

Kezia Fidelia Sharon

Laboratory of International Relations and Sustainable Development Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (LIRSUST Legion/Rangers UKI)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image