Mengapa Kita Sering Menunggu Detik Terakhir
Eduaksi | 2026-06-10 18:05:43Kita semua pasti pernah terjebak dalam situasi ini: jarum jam sudah menunjuk ke angka 11 malam, tenggat waktu tinggal menghitung jam, dan rasa panik mulai menjalar. Di tengah keheningan, detak jam dinding mendadak terdengar sepuluh kali lebih keras dari biasanya. Sementara itu, layar laptop masih putih bersih, seolah-olah sedang menatap balik dan menantang kita untuk mengetik kata pertama.
Padahal, jauh-jauh hari kita sudah berjanji pada diri sendiri untuk mencicil laporan kerja atau tugas kuliah tersebut. Namun kenyataannya? Kita justru sibuk melakukan hal lain: tidur, mendadak rajin membersihkan kamar, asyik main game online, atau terjebak scrolling media sosial tanpa arah.
Fenomena inilah yang disebut prokrastinasi (procrastination) sebuah kecenderungan untuk menunda-nunda pekerjaan secara sengaja, meski kita sadar betul ada konsekuensi buruk yang menanti di depan mata. Mengapa kita begitu sering terjebak dalam siklus "menunggu detik terakhir" ini? Apa sebenarnya faktor psikologis di balik kebiasaan yang kerap menyiksa diri sendiri ini?
Selama ini kita pasti berpikir bahwa menunda pekerjaan tanda bahwa seseorang itu malas atau memiliki manajemen waktu yang buruk.Ternyata Berdasarkan penelitian dari Dr. Fuschia Sirois, seorang pakar riset prokrastinasi, akar masalah dari kebiasaan ini sepenuhnya adalah masalah regulasi diri secara emosional (emotional self-regulation).
Apa Itu Prokrastinasi yang Sebenarnya?
Sebelum masuk lebih dalam kita harus meluruskan dahulu definisi prokastinasi agar kita tidak salah pemahaman dengan penundaan biasa yang sifatnya bijak (sagacious delay). Pas mau nyuci baju, tiba-tiba langit di luar mendung banget dan ramalan cuaca bilang bakal hujan seharian. Akhirnya kita milih buat numpuk cucian sampai besok pas cuaca cerah. Penundaan seperti ini masuk akal.
Sederhananya, prokrastinasi itu kondisi di mana kita sengaja menunda tugas yang sebenarnya ingin kita kerjakan, meskipun kita tahu taruhannya bakal bikin kita kelabakan di kemudian hari. Makanya, perilaku ini sering disebut sebagai hal yang paling tidak masuk akal. Kita tahu betul kalau menunda-nunda itu cuma bikin susah diri sendiri atau orang sekitar. Tapi entah kenapa, saat mau mulai, badan dan pikiran rasanya kompak banget buat bilang: "Nanti aja deh."
Akar Masalah: Gagal Mengelola Emosi Buruk
Mengapa pikiran kita menolak? Jawabannya ada pada respons emosional kita terhadap tugas tersebut. Tugas yang kita tunda biasanya bukanlah hal yang menyenangkan atau langsung memberikan imbalan (reward). Tugas tersebut bisa jadi membosankan, sangat sulit, atau memicu kecemasan mendalam.
Saat berhadapan dengan tugas yang memicu stres, otak kita mengaktifkan respons primitif bernama fight-or-flight (lawan atau lari). Karena tugas tersebut dirasa mengancam atau tidak menyenangkan, kita memilih untuk "lari" darinya demi menyelamatkan suasana hati saat itu juga.
Ketika kita membiarkan tugas tersebut dan memilih melakukan tugas yang lain,kita akan merasakan kelegaan instan.Di sinilah ironinya: prokrastinasi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan eksternal untuk mengalihkan emosi negative Kita cenderung memprioritaskan stabilitas emosi jangka pendek (short-term mood regulation) dan menutup mata dari konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih besar.
Labirin Tanpa Ujung 'Shame Loop'
Sialnya, ketenangan semu itu cuma numpang lewat. Begitu kita teringat tumpukan tugas atau ada orang lain yang menyenggol soal hal tersebut emosi negatif yang tadinya kita hindari justru balik menyerang. Kali ini gelombangnya jauh lebih dahsyat karena sudah bercampur aduk dengan rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame).
Situasi ini diperparah oleh kultur sekitar yang gemar mengukur harga diri seseorang dari seberapa produktif dirinya. Imbasnya, menunda pekerjaan terasa seperti pelanggaran norma sosial yang fatal. Kita pun mulai main kucing-kucingan untuk menyembunyikannya, merasa menjadi satu-satunya orang yang paling gagal sedunia, lalu berakhir dengan menghakimi diri sendiri tanpa ampun.Rasa malu ini menciptakan lingkaran setan (shame loop):
1. Kita merasa cemas atau bosan dengan suatu tugas.
2. Kita menundanya untuk mencari kelegaan instan.
3. Kita tersadar telah menundanya, lalu muncul rasa malu dan bersalah.
4. Rasa malu ini meningkatkan beban emosional tugas tersebut, membuatnya terasa seperti "bola besi panas" yang makin mengerikan untuk disentuh.
5. Kita pun menundanya kembali demi menghindari rasa malu tersebut.
Solusi Praktis: Jinakkan Emosinya Dahulu
Jika prokrastinasi adalah masalah emosi, maka menyodorkan kalender baru atau aplikasi manajemen waktu yang canggih tidak akan menyelesaikan masalah. Anda harus menjinakkan bom emosinya terlebih dahulu agar rasionalitas Anda bisa kembali bekerja.
Berdasarkan riset Dr. Fuschia Sirois dan eksperimen psikologis, berikut dua cara praktis yang terbukti efektif menurunkan tingkat prokrastinasi:
1. Bingkai Ulang Tugas Secara Bermakna (Meaningful Reframing)
Saat terjebak dalam emosi negatif, pandangan kita cenderung menyempit secara konkret pada betapa tidak menyenangkannya tugas tersebut saat ini (misalnya: "Menulis laporan ini sangat membosankan").
Cobalah mengambil jarak dan melihat gambaran besarnya. Cari makna yang lebih tinggi dari tugas tersebut. Katakan pada diri sendiri: "Laporan ini penting karena akan menunjukkan kompetensi saya di depan direksi demi kelanjutan karier saya." Riset membimbing partisipan untuk melakukan penataan ulang makna ini terbukti nyata mengurangi intensitas prokrastinasi dalam beberapa hari setelahnya.
2. Terapkan Welas Asih pada Diri Sendiri (Self-Compassion)
Banyak orang takut memaafkan diri sendiri saat menunda karena khawatir mereka akan menjadi makin malas. Padahal, riset membuktikan sebaliknya: orang yang memiliki self-compassion tinggi justru jauh lebih termotivasi untuk memperbaiki kesalahannya.
Mengutip model dari psikolog Kristin Neff, ada tiga komponen utama yang bisa kita latih:
• Kebaikan pada Diri Sendiri (Self-kindness): Berhentilah mengkritik diri sendiri dengan kata-kata kasar. Akui bahwa Anda sedang kesulitan, alih-alih menghujat diri sendiri sebagai orang gagal.
• Kemanusiaan Bersama (Common humanity): Sadarilah bahwa menunda adalah pengalaman universal manusia. Anda bukan satu-satunya orang di dunia yang sedang bergulat dengan hal ini.
• Kesadaran Penuh (Mindfulness): Amati rasa bersalah atau rasa malu yang muncul dengan seimbang. Sadari bahwa itu hanyalah sebuah gelombang emosi sesaat di dalam otak yang tidak mendefinisikan siapa diri Anda yang sebenarnya.
3. Keluarkan dari "Lemari Rasa Malu"
Menyembunyikan fakta bahwa kita sedang menunda pekerjaan hanya akan membuat rasa malu itu makin membesar dan mengakar di dalam kegelapan. Melalui prinsip kejujuran radikal (radical honesty), cobalah terbuka kepada rekan kerja atau komunitas yang suportif.
Saat Anda berani berkata, "Saya sedang buntu dan menunda artikel ini selama seminggu karena cemas hasilnya buruk," Anda sedang membawa rasa malu tersebut ke dalam terang. Begitu emosi negatif itu terekspos dan divalidasi oleh sesama manusia, beban emosional dari tugas tersebut akan luruh, memberikan ruang bagi Anda untuk kembali mengendalikan tindakan secara sadar.
Abdillah Syah Fathan, mahasiswa Ekonomi Pembangunan Untirta
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
