Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image YASMINE AVINIA DJATMIKO

Fenomena Self-Diagnosis di Kalangan Remaja

Edukasi | 2026-06-10 14:44:57

"Aku sering overthinking. Apa aku anxiety, ya?"

Kalimat serupa kini semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari di kalangan generasi muda. Istilah psikologis yang dulunya menjadi ranah eksklusif para psikolog, psikiater, serta akademisi di bidang kesehatan mental, kini menjadi bagian darikosakata populer remaja. Kehadiran platform seperti TikTok, Instagram, dan berbagai media sosial lainnya telah mengubah cara generasi muda mengakses informasi tentang kesehatanmental secara drastis. Hanya dengan sekadar menggulir layar ponsel, pengguna dapat denganmudah menemukan beraneka konten yang membahas gejala depresi, kecemasan, trauma psikologis, bahkan hingga gangguan kepribadian. Kemudahan akses yang ditawarkan inilahyang kemudian menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber referensi utama bagiremaja dalam memahami kondisi kesehatan mental mereka.

Perkembangan ini sejatinya membawa pengaruh positif yang tidak bisa diabaikandalam dunia kesehatan mental. Pertama-tama, kehadiran konten-konten yang membahaskesehatan mental di platform media sosial telah memberikan kontribusi signifikan dalammeningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga kesehatan psikologis. Topik yang beberapa waktu lalu masih dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakansecara terbuka, kini semakin mendapat ruang untuk didiskusikan secara luas. Banyak remajayang akhirnya mulai berani menyuarakan perasaan mereka, mulai dari stres akibat tekananakademik, kecemasan dalam menghadapi ujian, hingga berbagai bentuk tekanan emosionallainnya yang selama ini mungkin mereka pendam seorang diri.

Selain itu, media sosial juga telah berhasil menjadi ruang terbuka bagi individu untuksaling berbagi pengalaman dan memberikan dukungan satu sama lain. Banyak penggunayang dengan tulus mengorbankan waktu mereka untuk menceritakan perjalanan kesehatanmental yang pernah atau sedang mereka alami. Dukungan emosional yang diberikan oleh para pengikut ini seringkali menjadi penguat semangat bagi mereka yang sedang menghadapimasa-masa sulit. Kondisi ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi digital telah berhasilmemperluas akses edukasi kesehatan mental, terutama bagi kalangan remaja yang notabenemerupakan generasi paling aktif menggunakan platform digital.

Akan tetapi, di balik berbagai manfaat positif yang telah dibahas sebelumnya, terdapatfenomena lain yang semakin hari semakin sering dijumpai, yaitu self-diagnosis ataudiagnosis diri. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak remaja yang mulaimencantumkan label seperti depresi atau gangguan psikologis tertentu pada diri merekasendiri, sekadar karena merasa cocok dengan konten yang mereka tonton di media sosial.

Perlu dipahami bahwa dalam dunia kedokteran dan psikologi klinis, diagnosis gangguan mental memerlukan serangkaian proses asesmen yang menyeluruh dan komprehensif, yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesional yang qualified sepertipsikolog atau psikiater. Proses ini melibatkan evaluasi mendalam terhadap berbagai aspekkehidupan individu, termasuk riwayat medis, pola perilaku, kondisi emosional, sertabagaimana kondisi tersebut memengaruhi fungsi sehari-hari. Namun, ketika informasi darimedia sosial dijadikan sebagai landasan utama untuk menilai kondisi diri sendiri, risikokesalahan interpretasi menjadi sangat besar. Hal ini terjadi karena konten di media sosialcenderung disederhanakan agar mudah dicerna dalam waktu singkat, sehingga nuansapenting dalam diagnosis seringkali terlewatkan.

Pada titik ini, media sosial tidak lagi berfungsi semata-mata sebagai sumber informasikesehatan mental, melainkan secara tidak langsung telah mengambil peran seperti psikologdigital bagi sebagian remaja. Fenomena self-diagnosis ini menjadi sangat penting untukdikaji lebih dalam, karena sejatinya fenomena ini berkaitan erat dengan bagaimana generasimuda memaknai dan memahami kesehatan mental di era digital saat ini.

Self-diagnosis dapat dipahami sebagai upaya yang dilakukan oleh seorang individuuntuk menyimpulkan bahwa dirinya mengidap suatu kondisi kesehatan tertentu, berdasarkansemata-mata pada informasi yang mereka miliki, tanpa melalui pemeriksaan profesional yang memadai. Definisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh White dan Horvitz (2009) dalam penelitiannya, yang mengungkapkan bahwa self-diagnosis merupakan proses penemuan diri terhadap kondisi kesehatan tanpa melibatkan bantuan tenaga ahli.

Sejalan dengan definisi tersebut, Wicaksana, Indiana, dan Putra (2026) menjelaskanbahwa self-diagnosis pada umumnya dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap gejalayang dirasakan oleh individu, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga profesionalyang kompeten. Dalam konteks ini, proses penilaian lebih banyak bertumpu pada bagaimanaindividu menafsirkan pengalaman pribadi mereka sendiri berdasarkan apa yang merekatemukan di berbagai platform daring, tanpa adanya validasi dari pihak yang qualified.

Fenomena self-diagnosis ini pun seolah tidak lepas dari radar pengguna media sosialdi Indonesia, khususnya pada kelompok usia dewasa awal. Penelitian yang dilakukan oleh Amrah, Murdiana, dan Ismail (2024) menunjukkan bahwa proses self-diagnosis ini seringkalidipicu oleh paparan konten kesehatan mental yang beredar di media sosial, serta adanyakecenderungan individu untuk mengaitkan pengalaman pribadi mereka dengan informasiyang mereka temukan secara daring. Ironisnya, kondisi ini dapat berujung pada peningkatankecemasan serta munculnya perilaku maladaptif ketika individu menafsirkan kondisi dirinyatanpa didasarkan pada asesmen profesional yang tepat dan komprehensif.

Fenomena self-diagnosis dalam konteks media sosial ini tidak hanya terbatas pada aspek aksesibilitas informasi, melainkan juga berkaitan erat dengan proses pembentukanidentitas psikologis individu secara lebih luas. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Corzine dan Roy (2024) mengungkapkan bahwa paparan konten kesehatan mental yang terus-menerus di media sosial dapat mendorong individu untuk mengadopsi label psikologistertentu sebagai cara untuk memahami diri mereka sendiri, meskipun hal tersebut belum tentudidasarkan pada asesmen klinis yang valid secara profesional.

Yang membuat fenomena ini semakin kompleks adalah kehadiran algoritma media sosial, terlebih lagi algoritma yang dimiliki oleh TikTok. Berbeda dengan era sebelumnyayang cenderung mengandalkan literatur medis atau konsultasi dengan tenaga profesionalsebagai sumber informasi utama, kini informasi kesehatan mental dapat dengan mudahdiperoleh hanya melalui video-video pendek berdurasi singkat. Sistem For You Page (FYP) yang dimiliki TikTok memungkinkan pengguna sering kali terpapar pada konten-konten yang serupa berdasarkan riwayat interaksi mereka sebelumnya. Paparan yang berulang dan konsisten ini tidak hanya meningkatkan atensi pengguna terhadap isu tertentu saja, tetapijuga secara perlahan membentuk cara individu tersebut memaknai dan mendefinisikandirinya sendiri melalui sebuah proses yang dalam ilmu psikologi komunikasi dikenal sebagaialgorithmic cultivation.

Menurut Romann dan Oeldorf-Hirsch (2025), algorithmic cultivation merupakanfenomena ketika algoritma media sosial secara tidak langsung membentuk persepsi dan pengalaman psikologis penggunanya. Ketika seorang pengguna seringkali berinteraksidengan konten yang membahas tentang anxiety, misalnya, algoritma akan lebih banyakmenampilkan konten serupa. Seiring berjalannya waktu, pengguna pun seolah hidup dalamekosistem informasi yang mengukuhkan keyakinan mereka tentang kondisi tertentu yang mereka yakini alami.

Dalam fenomena ini, terdapat salah satu proses psikologis yang sangat berperan aktif, yaitu confirmation bias. Menurut Komarijah dan Arvita (2025), confirmation bias merupakankecenderungan alami yang dimiliki oleh individu untuk mencari serta mengolah informasiyang sudah mendukung keyakinan yang sebelumnya mereka miliki, sekaligus cenderungmengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.

Kecenderungan ini semakin menjadi kuat karena mayoritas pengguna TikTok saat iniberasal dari kelompok usia remaja. Pada fase perkembangan ini, individu sedang beradadalam proses pencarian identitas diri atau identity search, serta berjuang memahami berbagaiperubahan emosional dan perilaku yang mereka alami seiring dengan transisi menuju dewasa. Tidak mengherankan jika kemudian konten kesehatan mental yang beredar di platform inikerap kali dianggap mampu memberikan jawaban atas pengalaman pribadi yang selama inisulit mereka pahami secara mandiri.

Akan tetapi, fenomena self-diagnosis tidak sepenuhnya dapat dipandang selalunegatif. Keberadaan konten kesehatan mental di TikTok telah memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesehatanpsikologis. Informasi yang sebelumnya hanya dapat diakses melalui buku atau konsultasidengan profesional, kini dapat dengan mudah dan praktis diperoleh hanya melaluigenggaman tangan di perangkat digital. Penelitian yang dilakukan oleh Febriana dan Amalia (2024) menunjukkan bahwa konten psikologi yang tersebar di TikTok telah membantuGenerasi Z mengenali berbagai isu kesehatan mental serta meningkatkan atensi merekaterhadap kondisi psikologis yang mungkin mereka alami.

Dalam beberapa kasus yang menyentuh hati, informasi yang mereka peroleh melaluiplatform ini bahkan menjadi langkah awal yang bermakna bagi individu untuk mencaribantuan profesional ketika mereka menyadari adanya gejala yang mulai menggangguaktivitas sehari-hari mereka. Selain itu, paparan informasi yang luas ini juga berpotensimeningkatkan literasi psikologis di kalangan masyarakat, sehingga individu menjadi lebihmampu mengenali kapan dirinya membutuhkan dukungan profesional.

Meskipun demikian, penting untuk menekankan bahwa self-diagnosis tetap perludisikap secara kritis dan penuh kewaspadaan, karena fenomena ini berpotensi menimbulkanberbagai dampak negatif yang tidak dapat dianggap enteng. Menurut Annury dkk. (2022), self-diagnosis dapat memengaruhi aspek kognitif, afektif, dan perilaku individu dengan carayang tidak selalu konstruktif. Dari aspek kognitif, terdapat risiko kesalahan dalam memahamikondisi diri sendiri yang dapat berujung pada diagnosis yang keliru dan penanganan yang tidak tepat sasaran. Paparan informasi kesehatan yang berlebihan dan cenderung tidakterkontrol juga dapat memicu cyberchondria, yaitu kecemasan berlebih terhadap kondisikesehatan yang dipicu oleh aktivitas pencarian informasi kesehatan di dunia maya.

Dari aspek afektif atau emosional, individu dapat mengalami perasaan ragu, takut, dan penuh ketidakpastian terhadap diri sendiri setelah melakukan self-diagnosis. Perasaan-perasaan ini muncul karena mereka menjadi terlalu fokus pada label negatif yang merekatemukan, tanpa memiliki kerangka profesional untuk memahaminya secara proporsional.

Sementara dari aspek perilaku, self-diagnosis yang dilakukan tanpa validasiprofesional dapat mendorong munculnya kekhawatiran berlebihan serta cara pandang yang negatif terhadap diri sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambatpemulihan dan bahkan memperburuk kondisi kesehatan mental yang sebenarnya mungkintidak sehebat yang dikira.

Di sisi lain, perlu diakui bahwa self-diagnosis juga dapat membuat individu menjadilebih peka terhadap kondisi dirinya sendiri dan mendorong budaya refleksi diri. Namun, manfaat semu ini tidak dapat dijadikan justifikasi untuk melakukan diagnosis secara mandiri, karena risiko kesalahan interpretasi akan selalu tinggi ketika informasi tidak diverifikasisecara profesional oleh tenaga ahli yang kompeten.

Pada akhirnya, fenomena self-diagnosis yang berkembang pesat melalui platform seperti TikTok telah membuka mata kita semua tentang bagaimana media sosial telah secarafundamental mengubah cara remaja memahami dan memaknai kesehatan mental. Di satu sisi, kemudahan akses terhadap informasi yang tidak terbatas dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya kesehatan psikologis mereka.

Namun di sisi lain, informasi yang diperoleh dari media sosial tidak dapat dan tidaksewajarnya dijadikan pengganti untuk proses asesmen yang dilakukan oleh tenagaprofesional yang qualified dalam bidang kesehatan mental. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis atau critical thinking serta literasi digital menjadi faktor yang sangat penting dan urgent untuk dimiliki oleh remaja, agar mereka dapatmenyikap konten-konten kesehatan mental yang beredar di media sosial secara lebih bijakdan proporsional.

Dengan demikian, media sosial dapat menjadi pintu yang baik bagi remaja untukmulai mengenal dan memahami konsep-konsep dasar kesehatan mental, sekaligus menjadiawal dari perjalanan pencarian bantuan profesional jika memang dibutuhkan, tetapi bukantempat yang tepat dan aman untuk menetapkan diagnosis terhadap kondisi psikologis dirisendiri.

Sumber Referensi

Annury, U. A., Yuliana, F., Suhadi, V. A. Z., & Karlina, C. S. A. (2022). Dampak self diagnose pada kondisi mental health mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. DalamProsiding Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial (SNIIS) (Vol. 1, hlm. 481-486).

Amrah, N., Murdiana, S., & Ismail, I. (2024). Gambaran self diagnose mental disorder pada dewasa awal pengguna media sosial. Jurnal Ilmiah Psikomuda (JIPM) Connectedness, 4(1), 36-47.

Corzine, A., & Roy, A. (2024). Inside the black mirror: Current perspectives on the role of social media in mental illness self-diagnosis. Discover Psychology, 4(1), 40.

Febriana, E., & Amalia, U. (2024). Dampak konten bertema psikologi dalam media sosialTikTok terhadap fenomena self diagnose pada Generasi Z. Lencana: Jurnal Inovasi IlmuPendidikan, 2(4), 239-250. https://doi.org/10.55606/lencana.v2i4.4063

Komariyah, F., & Arvita, R. (2025). Pengaruh bias kognitif dalam penyusunan anggaran: Tinjauan behavioral budgeting. JOURNAL OF ECONOMICS, BUSINESS, MANAGEMENT, ACCOUNTING AND SOCIAL SCIENCES, 3(5), 329-335. https://doi.org/10.63200/jebmass.v3i5.202

Romann, L. R., & Oeldorf-Hirsch, A. (2025). Exploring algorithmic cultivation–sensitive self-disclosure, self-diagnosis, and hazardous mental health communication on TikTok. Journal of Media Psychology.

White, R. W., & Horvitz, E. (2009, November). Experiences with web search on medical concerns and self diagnosis. Dalam AMIA annual symposium proceedings (Vol. 2009, hlm. 696).

Wicaksana, G. S., Indiana, N. M., & Putra, I. P. G. B. M. (2026). Media sosial dan self diagnostic remaja. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(1), 4512-4520. https://doi.org/10.61104/alz.v4i1.3600

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image