Mengapa Syariat Diturunkan? Menelusuri Jawaban Al-Syatibi
Agama | 2026-06-10 13:06:32Pernah Tidak Bertanya, "Kenapa Harus Begini?"
Saat mendengar aturan dalam Islam, sebagian orang mungkin pernah bertanya, "Kenapa harus salat lima waktu?", "Kenapa riba dilarang?", atau "Kenapa Islam begitu mengatur kehidupan manusia?".
Pertanyaan seperti itu sebenarnya bukan tanda kurang iman. Justru, rasa ingin tahu sering menjadi awal dari pemahaman yang lebih dalam. Sebab, di balik setiap aturan selalu ada alasan dan tujuan yang ingin dicapai.
Berabad-abad yang lalu, seorang ulama besar, Abu Ishaq al-Shatibi, mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dalam karyanya Al-Muwafaqat, ia menjelaskan bahwa syariat diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.
Syariat Bukan Sekadar Larangan dan Perintah
Bayangkan sebuah rambu lalu lintas. Rambu itu memang membatasi pengendara, tetapi tujuannya bukan untuk mempersulit perjalanan. Justru sebaliknya, rambu dibuat agar semua orang dapat berkendara dengan aman.
Menurut Al-Syatibi, syariat bekerja dengan cara yang hampir sama. Aturan-aturan dalam Islam hadir bukan untuk membebani manusia, melainkan untuk menjaga kehidupan agar berjalan dengan lebih baik.
Dengan kata lain, syariat tidak hanya berbicara tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Syariat juga berbicara tentang keselamatan, keadilan, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia.
Ketika Hukum Berbicara tentang Kebaikan
Al-Syatibi melihat bahwa berbagai aturan Islam memiliki satu benang merah, yaitu menghadirkan kebaikan dan mencegah kerusakan. Dalam pandangannya, seluruh ketentuan syariat bertujuan menjaga aspek-aspek mendasar kehidupan manusia, seperti agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Misalnya, larangan mencuri bukan hanya soal hukuman bagi pelaku. Aturan itu juga melindungi hak milik masyarakat. Larangan minuman keras bukan sekadar pembatasan kebebasan, tetapi upaya menjaga akal agar manusia dapat berpikir dengan sehat.
Dari sudut pandang ini, hukum Islam terlihat lebih hidup. Ia tidak berhenti pada teks, tetapi menyentuh realitas kehidupan sehari-hari.
Pelajaran yang Tetap Relevan Hari Ini
Meskipun hidup pada abad ke-14, pemikiran Al-Syatibi masih terasa relevan di era digital. Saat masyarakat menghadapi persoalan baru seperti penipuan daring, kebocoran data pribadi, hingga penyalahgunaan teknologi, pendekatan yang berorientasi pada kemaslahatan dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer.
Cara berpikir seperti inilah yang membuat pemikiran Al-Syatibi terus dipelajari hingga sekarang. Ia mengingatkan bahwa tujuan akhir hukum bukan sekadar kepatuhan formal, melainkan terciptanya kehidupan yang lebih adil, aman, dan bermartabat.
Penutup
Pertanyaan "mengapa syariat diturunkan?" telah dijawab Al-Syatibi berabad-abad lalu. Syariat hadir bukan untuk membatasi manusia tanpa alasan, melainkan untuk menjaga dan mengarahkan kehidupan menuju kebaikan.
Ketika kita mampu melihat tujuan di balik setiap aturan, syariat tidak lagi tampak sebagai sekumpulan kewajiban yang berat. Ia berubah menjadi petunjuk yang membantu manusia menjalani hidup dengan lebih bermakna, adil, dan sejahtera.
Pada akhirnya, syariat bukan hanya berbicara tentang hukum. Syariat berbicara tentang manusia dan kebaikan yang ingin diwujudkan dalam kehidupannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
