Sumartini dalam Novel Belenggu: Perempuan Modern yang Terlalu Maju pada Zamannya
Sastra | 2026-06-09 17:38:08Jauh sebelum isu kesetaraan perempuan ramai dibicarakan seperti sekarang, dunia sastra Indonesia sebenarnya sudah menghadirkan sosok perempuan modern melalui tokoh Sumartini dalam novel Belenggu karya Armijn Pane. Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1940 ini bukan hanya mengisahkan hubungan rumit antara Sukartono, Sumartini, dan Rohaya, tetapi juga memperlihatkan pergulatan batin seorang perempuan yang hidup di tengah perubahan zaman.
Tokoh Sumartini atau Tini menjadi salah satu karakter perempuan paling menarik dalam sastra Indonesia klasik. Ia berbeda dari gambaran perempuan pada umumnya di masa itu. Tini bukan sosok perempuan yang hanya diam di rumah, menunggu suami pulang, atau tunduk sepenuhnya pada aturan sosial patriarki. Ia hadir sebagai perempuan berpendidikan, aktif dalam kegiatan sosial, dan memiliki pandangan hidup yang modern.
Menurut Hanif Ivo Khusri Wardani dan Rina Ratih Sri Sudaryani dalam jurnal Citra Perempuan dalam Novel Kala, citra perempuan merupakan gambaran mengenai perempuan yang dapat dilihat dari aspek fisik, psikis, maupun sosial (Wardani & Sudaryani, 2020, hlm. 165). Ketiga aspek tersebut terlihat sangat kuat dalam diri Sumartini.
Cantik, Elegan, dan Menarik Perhatian
Dari segi fisik, Tini digambarkan sebagai perempuan yang cantik dan memiliki daya tarik tersendiri. Kecantikannya bahkan beberapa kali dipuji oleh tokoh lain dalam novel, termasuk oleh suaminya sendiri, Sukartono.
“Badannya masih cantik. Memang Tini cantik, pandai memakai sebarang pakaian. Suka mata memandang dia.” (Pane, 1988, hlm. 62)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Tini bukan hanya memiliki wajah yang cantik, tetapi juga mampu membawa dirinya dengan elegan. Ia pandai berpakaian dan mampu tampil menarik di hadapan orang lain. Dalam novel, kecantikan Tini tidak sekadar digambarkan dari parasnya, melainkan juga dari caranya membawa diri sebagai perempuan modern.
Namun, di balik penampilannya yang memikat, Tini menyimpan luka batin yang begitu dalam.
Perempuan yang Menyimpan Kesedihan
Jika dilihat dari aspek psikis, Sumartini merupakan sosok perempuan yang kompleks. Ia terlihat kuat dan mandiri dari luar, tetapi sebenarnya menyimpan banyak kesedihan dalam dirinya. Perasaan itu berkaitan dengan masa lalunya bersama Hartono, sosok yang pernah hadir dalam hidupnya sebelum ia menikah dengan Sukartono.
Kesedihan Tini tergambar dalam kutipan berikut:
“Kamu laki-laki tiada terasa padamu, betapa sedihnya bagi perempuan, kalau jiwanya layu.” (Pane, 1988, hlm. 125)
Dalam bagian lain, Tini kembali mengungkapkan perasaannya:
“Kalau didalam hati layu, perasaan kasih sayang hilang dalam hati perempuan, sudah menjadi beku, seolah-olah hatinya air beku saja.... perempuan itu, bukan perempuan lagi.....” (Pane, 1988, hlm. 126)
Melalui kutipan tersebut, terlihat bahwa Tini mengalami kehampaan emosional yang mendalam. Ia mengibaratkan dirinya seperti daun tua yang layu. Hatinya terasa dingin dan kehilangan rasa kasih sayang. Luka masa lalu membuat dirinya sulit membuka hati sepenuhnya kepada Sukartono.
Di sinilah menariknya tokoh Sumartini. Ia bukan perempuan yang digambarkan lemah atau sekadar emosional. Tini justru memperlihatkan bahwa perempuan juga memiliki pergulatan batin yang rumit, sama seperti laki-laki.
Perempuan Aktif yang Menolak Dikekang
Aspek lain yang membuat Sumartini terasa begitu modern adalah kehidupan sosialnya. Menurut Rahmah Purwahida dalam jurnal Citra fisik, psikis, dan sosial tokoh utama perempuan dalam novel Hujan dan Teduh, citra sosial perempuan dapat dilihat dari peran, status sosial, serta pandangan hidup tokoh perempuan di lingkungan masyarakat (Purwahida, 2018, hlm. 40).
Dalam novel Belenggu, Tini digambarkan sebagai perempuan yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia terlibat dalam perkumpulan dan bahkan menjadi utusan untuk menghadiri Kongres Perempuan di Solo.
“Dari nyonya Rusdio didengarnya Tini sangat giat dalam perkumpulan. Anak-anak di rumah piatu senang akan dia. Dia akan diutus ke kongres Perempuan Seumumnya di Solo.” (Pane, 1988, hlm. 102)
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa Tini bukan perempuan yang hanya berkutat dalam urusan rumah tangga. Ia aktif di ruang publik dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Pandangan hidup Tini juga menunjukkan pemikiran yang jauh melampaui zamannya. Ia percaya bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki.
Hal itu terlihat dalam kutipan berikut:
“Kalau dia pergi seorang diri, tiada sempat menemani aku, mengapa aku tiada boleh pergi seorang diri menyenangkan hatiku?” (Pane, 1988, hlm. 57)
Kemudian Tini melanjutkan perkataannya dengan sangat tegas:
“Kami lain, kami bimbing nasib kami sendiri, tiada hendak menanti rahmat laki-laki.” (Pane, 1988, hlm. 57)
Kalimat tersebut terasa sangat berani, terutama jika melihat latar waktu novel ini ditulis. Pada masa itu, perempuan masih sering dipandang sebagai sosok yang harus bergantung pada laki-laki. Namun Tini menolak anggapan tersebut. Ia ingin perempuan memiliki kebebasan menentukan hidupnya sendiri.
Sumartini dan Perempuan Masa Kini
Jika dipikirkan kembali, karakter Sumartini terasa sangat dekat dengan perempuan modern saat ini. Banyak perempuan masa kini yang aktif bekerja, mengikuti organisasi, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip hidup mandiri seperti Tini.
Namun, novel Belenggu juga memperlihatkan bahwa perempuan kuat bukan berarti tidak memiliki luka. Di balik sikap mandirinya, Tini tetap manusia biasa yang menyimpan kesedihan dan kekecewaan.
Inilah yang membuat tokoh Sumartini terasa hidup dan relevan hingga sekarang. Ia bukan tokoh perempuan sempurna, melainkan perempuan yang berusaha memahami dirinya sendiri di tengah tuntutan sosial dan hubungan yang rumit.
Melalui tokoh Tini, Armijn Pane seperti ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak untuk berpikir, memilih jalan hidup, dan menentukan masa depannya sendiri. Pemikiran tersebut terasa sangat maju untuk ukuran zamannya, bahkan masih relevan dibicarakan hingga hari ini.
Novel Belenggu akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang cinta dan rumah tangga, tetapi juga menjadi potret tentang perempuan, kebebasan, dan pencarian jati diri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
