Ketika Perempuan Menolak Menjadi Pajangan
Sastra | 2026-06-09 16:47:15
Pernikahan ideal sering kali digambarkan sebagai kebahagiaan, di mana seorang istri duduk manis mengurus rumah sementara suami bekerja. Melalui tokoh Sumartini (Tini), Armijn Pane menunjukkan bahwa pandangan lama itu tidak selalu benar. Tini menggambarkan perempuan modern yang tidak mau dibatasi dan memilih menentukan jalan hidupnya sendiri.
Ilusi Istri Ideal dan "Pajangan" Status Sosial
Pada masanya, menikah dengan Dokter Sukartono (Tono) seharusnya menjadikan Tini perempuan paling beruntung. Tono adalah pria terpandang, mapan, dan berpendidikan. Namun, Tini segera menyadari bahwa dalam pernikahan itu, ia tidak diposisikan sebagai rekan hidup yang setara, melainkan hanya sebagai atribut pelengkap status sosial suaminya.
Tono mendambakan sosok istri tradisional yang menyediakan kopi hangat saat ia pulang, mengurus rumah dengan takzim, dan selalu siap melayani. Tono mengagumi kecantikan Tini di depan publik, namun abai terhadap isi kepala dan ambisinya. Tini menolak peran pasif tersebut. Ia menolak menjadi "pajangan" indah yang kesepian di sudut rumah.
Menggugat Domestikasi Lewat Ruang Publik
Sebagai perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi, Tini memilih menyalurkan energinya ke luar rumah. Ia aktif memimpin organisasi sosial dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemanusiaan. Tini menggugat ketidakadilan tersebut lewat pertanyaannya yang tajam yaitu:
“Kalau dia pergi seorang diri, tiada sempat menemani aku, mengapa aku tiada boleh pergi seorang diri menyenangkan hatiku?"
Pertarungan Batin: Antara Kebebasan dan Rasa Bersalah
Namun, memilih jalan sebagai perempuan merdeka bukan berarti Tini tidak terluka. Di balik sikapnya yang dingin dan keras kepala, Armijn Pane dengan rapih menggambarkan sisi rapuh Tini yang sering kali dirundung rasa bersalah. Ia sadar betul bahwa keputusannya untuk tidak menjadi istri penurut telah menciptakan jarak yang lebar dengan Sukartono. Tini terjebak dalam dilema yang menyiksa: di satu sisi ia ingin diakui sebagai manusia seutuhnya, namun di sisi lain ada tuntutan batin untuk menjadi istri yang "baik" menurut standar masyarakat. Konflik psikologis inilah yang membuat karakter Tini terasa begitu manusiawi, membuktikan bahwa perjuangan melawan tradisi selalu menuntut harga mahal berupa kedamaian pikiran.
Keberanian Mengambil Keputusan Terpahit
Puncak perjuangan Tini terlihat di akhir cerita. Ketika mengetahui suaminya mencintai perempuan lain, Siti Rohayah, Tini berani mengambil keputusan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Alih-alih terjebak dalam lingkaran pernikahan beracun yang membelenggu jiwanya, Tini memilih untuk pergi dan bercerai. Bagi perempuan di tahun 1940-an, menjanda adalah bunuh diri sosial. Namun bagi Tini, kehilangan status pernikahan jauh lebih baik daripada kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
