Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ACHSYANIA CAHYA RACHMADIA NANDAR

Kesepian di Era Media Sosial: Saat Terhubung Tapi Tetap Merasa Sendiri

Edukasi | 2026-06-07 23:04:38

Pendahuluan

Pernahkah kamu duduk sendirian di kamar, berniat hanya “scroll sebentar” di ponsel, tetapi tiba-tiba sudah dua jam berlalu? Layar penuh dengan notifikasi dari ratusan like, komentar, hingga cerita yang dibalas. Dari luar, segala sesuatu terlihat ramai. Ribuan pengikut di Instagram, ratusan kontak WhatsApp yang bisa dihubungi kapan saja seakan-akan tidak ada ruang untuk merasa kesepian.

Namun, ketika ponsel diletakkan, kenyataan berubah. Suasana kembali sunyi, dan di momen itu sering muncul rasa kosong yang sulit dijelaskan. Fenomena ini cukup sering dialami banyak orang di era digital saat ini. Hampir semua hal bisa dilakukan secara online berkomunikasi, berbagi cerita, hingga mengikuti kehidupan orang lain. Secara teknis, kita sangat terhubung. Namun pada saat yang sama, tidak sedikit orang justru merasa jauh secara emosional.

Memiliki banyak teman di media sosial tidak selalu berarti memiliki tempat untuk benar-benar bercerita. Interaksi terjadi setiap hari, tetapi tidak semuanya terasa dekat atau bermakna. Dalam keseharian, media sosial menjadi ruang yang selalu aktif selalu ada yang diposting, dilihat, atau direspons. Namun ketika seseorang mengalami hari yang berat, tidak semua orang memiliki ruang aman untuk bercerita secara jujur. Akhirnya, banyak yang memilih diam meskipun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

Fenomena ini menunjukkan bahwa koneksi di media sosial tidak selalu sama dengan kedekatan dalam kehidupan nyata. Muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang terhubung, atau justru perlahan kehilangan makna dari kata “terhubung” itu sendiri?

Fenomena ini bukan sekadar pengalaman individual, tetapi juga terlihat dalam skala global. Laporan World Health Organization (2025) menunjukkan bahwa sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan tingkat tertinggi pada remaja dan dewasa muda yaitu sekitar satu dari lima orang. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi memungkinkan individu untuk selalu terhubung, kebutuhan akan hubungan sosial yang bermakna belum tentu terpenuhi.

Di Indonesia, penelitian Ainunsiah, Wulandari, dan Yusaputra (2023) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berpengaruh signifikan terhadap perasaan kesepian pada remaja, dengan kontribusi sebesar 15,5%. Angka ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang nyata antara media sosial dengan tingkat kesepian di kalangan muda Indonesia.

Faktor Media Sosial terhadap Kesepian

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat memicu kesepian pada remaja maupun dewasa muda melalui beberapa faktor psikologis dan sosial. Penelitian Khairizal dan Primanita (2024) menemukan bahwa kesepian menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penggunaan media sosial secara berlebihan pada remaja. Sejalan dengan itu, Ziliwu dan kolega (2025) menunjukkan adanya hubungan positif antara intensitas penggunaan media sosial dan tingkat kesepian.

Faktor pertama yang perlu dipahami adalah social comparison atau perbandingan sosial. Hal ini menunjukkan kecenderungan seseorang untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain berdasarkan apa yang dilihat di media sosial. Saat seseorang terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna, hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memperparah perasaan kesepian (Ainunsiah et al., 2023). paparan berulang terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih menarik secara tidak sengaja membuat seseorang merasa bahwa kehidupannya sendiri kurang memadai.

Faktor kedua adalah rendahnya kualitas interaksi sosial di ruang digital. Gabriela dkk (2023) menunjukkan bahwa remaja dengan tingkat kesepian tinggi cenderung kesulitan membangun relasi sosial yang bermakna. Akibatnya, meskipun tampak aktif di media sosial, hubungan yang terbentuk sering tidak memiliki keintiman emosional yang cukup. Hal ini serupa dengan berada di tengah keramaian tetapi tetap merasa sendiri, ramai namun tidak kenal secara mendalam.

Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah intensitas penggunaan media sosial. Kaseger dan Sahrani (2024) menemukan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkaitan erat dengan meningkatnya loneliness pada dewasa muda, terutama ketika interaksi tidak memberikan kedekatan emosional yang memadai. Penggunaan yang berlebihan tanpa didasari hubungan yang mendalam justru dapat memperparah rasa kesepian.

Faktor keempat adalah penggunaan media sosial sebagai pelarian emosional. Muslikhah (2025) menemukan bahwa penggunaan media sosial saat bosan atau sedih merupakan bentuk coping sementara yang hanya memberikan kenyamanan sesaat. Setelah penggunaan dihentikan, rasa kosong dapat muncul kembali, bahkan lebih kuat. Pola ini menunjukkan adanya siklus yang berbahaya yaitu kesepian mendorong penggunaan media sosial, tetapi penggunaan yang tidak sehat justru memperkuat kesepian itu sendiri.

Dampak Kesepian

Kesepian dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada emosi sesaat, tetapi juga pada kesehatan mental secara lebih luas. Negara dkk (2023) menemukan bahwa individu dengan tingkat kesepian tinggi cenderung mengalami stres, kecemasan, dan gejala depresi lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki dukungan sosial yang baik. Kesehatan mental terganggu secara signifikan ketika kebutuhan akan hubungan sosial yang bermakna tidak terpenuhi.

Kesepian juga berdampak pada perilaku sosial. Individu yang mengalami kesepian cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan dan menghindari interaksi langsung. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempersempit jaringan sosial dan memperkuat aislamiento sosial.ironinya, semakin mereka menarik diri, semakin sulit mereka membangun koneksi yang sehat.

Selain itu, muncul ketergantungan pada media sosial sebagai pelarian emosional. Namun, efek ini hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah (Muslikhah, 2025). Media sosial hanya mampu memberikan distractions atau gangguan sementara, bukan solusi untuk rasa kesepian yang mendasar.

Dari sisi lain, paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain di media sosial dapat membentuk standar sosial yang tidak realistis. Hal ini memunculkan perasaan “tidak cukup baik” dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri, yang pada akhirnya memperkuat kesepian secara tidak langsung. Perbandingan yang terus-menerus dengan kehidupan yang tampak sempurna di layar dapat mengikis kepercayaan diri dan membuat seseorang merasa semakin jauh darirealitas.

Kesimpulan

Kesepian di era media sosial menunjukkan bahwa keterhubungan digital tidak selalu berarti keintiman emosional. Seseorang bisa terlihat sangat terhubung melalui memiliki banyak pengikut, pesan yang masuk tanpa henti, dan interaksi setiap hari namun tetap merasa tidak benar-benar dipahami. Jumlah koneksi tidak menjamin kualitas hubungan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya tentang seberapa sering media sosial digunakan, tetapi juga tentang kualitas hubungan yang dibangun. Perbandingan sosial, rendahnya kualitas interaksi, dan penggunaan media sosial sebagai pelarian emosional menunjukkan bahwa kesepian di era digital bukan sekadar tentang kehadiran orang lain, tetapi tentang kedalaman makna hubungan itu sendiri.

Pada akhirnya, yang perlu direnungkan bukan seberapa banyak koneksi yang dimiliki, tetapi seberapa hadir kita dalam setiap hubungan yang dijalani. Karena di balik layar yang penuh notifikasi, manusia tetap membutuhkan hal yang sama seperti sebelumnya didengar, dipahami, dan benar-benar terhubung sebagai manusia. Koneksi yang sejati tidak terletak pada jumlah pengikut, melainkan pada kedalaman hubungan yang dibangun dengan kesadaran dan keikhlasan. Kita perlu belajar untuk tidak hanya hadir secara virtual, tetapi juga hadir secara emosional karena pada akhirnya, menjadi manusia berarti membutuhkan kehadiran manusia lain yang nyata.

Sumber Referensi

Ainunsiah, S. (2023). Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Perasaan Kesepian Pada Remaja (Studi Pada Siswa-Siswi Kelas XI MAN 2 Parigi) (Doctoral dissertation, Universitas Tadulako). https://doi.org/10.33633/ja.v6i2.8968

Aderiani, N., & Primanita, R. Y. (2024). Dinamika Kesepian Pada Remaja Pecandu Sosial Media Dynamics of The Lonelinees in Teenagers Addicted to Social Media.

Gabriela, S., Kaseger, G. E. V., Nistleroy, K., Timothy, N., & Ninawati, N. (2023). Studi terhadap tingkat kesepian remaja sekolah menengah di Jakarta. Jurnal Serina Sosial Humaniora, 1(2), 208-216.

Kaseger, G. E. V., & Sahrani, R. (2024). Peranan gratitude sebagai moderator dalam hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan loneliness pada dewasa muda. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 8(2), 328-336. http

 
 
NAMA TOKOH
 

s://doi.org/10.24912/jmishumsen.v8i2.27398.2024

Muslikhah, M. C. Media Sosial sebagai Mekanisme Pelarian Emosional: Studi Kasus Kebiasaan Scroll Saat Kesepian.

Negara, A. N. C., Lyona, A., Dalimunthe, M., & Karmiyati, D. (2023). Faktor Kesepian pada Remaja: Tinjauan Sistematik. Nusantara Journal of Multidisciplinary Science, 1(4).

World Health Organization. (2025). From loneliness to social connection: Charting a path to healthier societies: Report of the WHO Commission on Social Connection.

Ziliwu, T. F., Alexander, N., Jesslyn, C., & Putra, A. I. D. (2025). HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN LONELINESS PADA SISWA SMP. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(6).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image