Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Juan albi farel

Pancasila: Masih Relevan atau Hanya Sekadar Hafalan Upacara?

Eduaksi | 2026-06-07 16:48:59

"Pancasila ada lima sila..."

Hampir semua orang Indonesia pernah mengucapkan kalimat itu. Sejak SD, kita menghafalnya, menuliskannya di buku pelajaran, bahkan mengucapkannya saat upacara bendera. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian kita, atau hanya menjadi hafalan yang perlahan dilupakan?

ilustrasi anak main hp

Di era media sosial seperti sekarang, pertanyaan tersebut terasa semakin penting. Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak sangat cepat. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat dilihat ribuan orang. Sayangnya, kecepatan informasi sering kali tidak diiringi dengan kebijaksanaan dalam menyikapinya. Tidak sedikit orang yang mudah terprovokasi oleh berita palsu, menyebarkan ujaran kebencian, atau bahkan menyerang orang lain hanya karena berbeda pendapat.

Jika diperhatikan lebih dalam, masalah-masalah tersebut sebenarnya berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Ketika seseorang menghormati keyakinan orang lain, ia sedang mengamalkan sila pertama. Saat membantu korban bencana tanpa memandang suku dan agama, ia sedang menerapkan sila kedua. Ketika masyarakat tetap bersatu meskipun memiliki pandangan politik yang berbeda, sila ketiga sedang dijalankan. Saat keputusan diambil melalui diskusi dan musyawarah, sila keempat hidup dalam tindakan nyata. Dan ketika seseorang memperjuangkan keadilan bagi sesama, sila kelima tidak lagi hanya menjadi tulisan di dinding kelas.

Sayangnya, banyak orang menganggap Pancasila sebagai sesuatu yang kuno. Padahal justru sebaliknya. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya semakin dibutuhkan di tengah berbagai tantangan zaman modern. Teknologi memang berkembang pesat, tetapi tanpa etika dan rasa kemanusiaan, kemajuan tersebut dapat menimbulkan perpecahan.

Generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga agar Pancasila tetap relevan. Bukan dengan menghafal teksnya setiap hari, melainkan dengan menerapkan nilainya dalam kehidupan nyata. Menghargai perbedaan, tidak menyebarkan hoaks, menggunakan media sosial secara bijak, dan peduli terhadap lingkungan sekitar merupakan bentuk pengamalan Pancasila yang sederhana tetapi bermakna.

Pancasila tidak membutuhkan pidato panjang untuk membuktikan keberadaannya. Ia cukup terlihat melalui tindakan kecil yang dilakukan setiap hari. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau kekayaan alamnya, melainkan oleh nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakatnya.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat Pancasila sebagai sekadar materi pelajaran. Karena sesungguhnya, Pancasila bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dijalankan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image