Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayyu Jaya dewantara

Menurunnya Budaya Membaca di Kalangan Remaja: Siapa yang Bertanggung Jawab

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-07 15:09:06

Budaya membaca di kalangan remaja sering dianggap mengalami penurunan akibat pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Banyak remaja lebih memilih menghabiskan waktu dengan gawai, menonton video pendek, atau bermain gim daripada membaca buku. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, dan memahami informasi secara mendalam dapat terhambat. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas menurunnya budaya membaca ini?

Menurut saya, keluarga merupakan pihak pertama yang memiliki tanggung jawab besar. Kebiasaan membaca umumnya dibentuk sejak usia dini melalui contoh dari orang tua. Jika anak tumbuh di lingkungan yang jarang menyediakan buku atau tidak melihat orang tuanya membaca, maka minat membaca akan sulit berkembang. Sebaliknya, keluarga yang membiasakan kegiatan membaca bersama cenderung menghasilkan anak yang lebih dekat dengan buku dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Selain keluarga, sekolah juga memegang peranan penting. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadikan membaca sebagai kewajiban akademik, tetapi juga sebagai budaya yang menyenangkan. Guru dapat menciptakan berbagai program literasi seperti pojok baca, tantangan membaca, diskusi buku, atau kegiatan resensi yang menarik bagi siswa. Ketika membaca hanya dipandang sebagai tugas yang harus diselesaikan untuk mendapatkan nilai, siswa akan kehilangan motivasi untuk menjadikannya sebagai kebutuhan pribadi.

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam menyediakan akses literasi yang merata. Ketersediaan perpustakaan yang nyaman, koleksi buku yang berkualitas, serta program literasi yang berkelanjutan sangat diperlukan. Data Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia memang mengalami peningkatan pada tahun 2024, tetapi masih berada pada kategori sedang. Artinya, upaya peningkatan budaya membaca masih perlu terus dilakukan.

Meski demikian, remaja sendiri tidak dapat sepenuhnya melepaskan tanggung jawab. Di era digital, informasi dan bahan bacaan sebenarnya semakin mudah diakses melalui buku elektronik, artikel ilmiah, maupun platform literasi digital. Tantangannya adalah bagaimana remaja mampu mengelola waktu dan memilih aktivitas yang bermanfaat. Kesadaran pribadi untuk membaca perlu dibangun karena pada akhirnya manfaat membaca akan dirasakan oleh diri mereka sendiri, baik dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, menurunnya budaya membaca bukanlah kesalahan satu pihak saja. Keluarga, sekolah, pemerintah, dan remaja memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan. Daripada saling menyalahkan, semua pihak perlu bekerja sama membangun ekosistem literasi yang mendukung. Dengan demikian, membaca tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang membosankan, melainkan sebagai kebutuhan dan bagian dari gaya hidup generasi muda di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image