GEMAS: Dakwah Nyata Masjid Atasi Stunting
Agama | 2026-06-06 19:15:10Oleh: Abu Shaffa
Bogor – Berdasarkan data Pemerintah Kota Bogor, masih tercatat 1.491 anak stunting di kota ini — angka yang menjadi alarm kritis bagi seluruh elemen masyarakat. Melihat kenyataan itu, Masjid Raya Taman Yasmin mengambil langkah: pada Selasa, 12 Mei 2026 lalu, secara resmi meluncurkan GEMAS (Gerakan Masjid Atasi Stunting). Bukan sekadar program seremonial, melainkan komitmen nyata bahwa masjid bukan hanya tempat shalat — tetapi juga garda terdepan pemberdayaan umat.
Fokus awal GEMAS menyasar Kelurahan Cilendek Timur, Kecamatan Bogor Barat, di mana teridentifikasi 12 anak rawan stunting. Belasan anak ini menjadi prioritas agar dapat tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi generasi unggul.
Mengapa Stunting Perlu Ditangani Serius?
Data Kementerian Kesehatan RI (2024) menunjukkan prevalensi stunting Jawa Barat masih di angka 20,2%, di atas rata-rata nasional. Stunting bukan hanya perawakan pendek, tetapi juga menghambat perkembangan otak, menurunkan kekebalan tubuh, dan mengancam produktivitas masa depan. Dampak ekonomi stunting diperkirakan mencapai 2–3% dari PDB nasional akibat hilangnya produktivitas tenaga kerja.
Secara spesifik, Cilendek Timur memiliki tantangan sosial-ekonomi yang khas. Riset IPB & PLAN International (2003) mencatat kelurahan ini sebagai salah satu wilayah konsentrasi penduduk berpenghasilan rendah di Bogor Barat — dan kondisi struktural tersebut masih relevan hingga kini, tercermin dari data posyandu setempat yang menunjukkan tingginya angka balita berisiko. Mayoritas kepala keluarga bekerja sebagai buruh dengan tingkat pendidikan formal terbatas. Kondisi ini berdampak langsung pada akses dan pengetahuan keluarga terhadap pola asuh dan gizi seimbang.
Kolaborasi Tiga Pilar: Masjid, Kelurahan, Puskesmas
GEMAS dirancang sebagai kolaborasi strategis, bukan program satu institusi. Tiga pilar berjalan bersama:
1. DKM Masjid Raya Taman Yasmin (penggerak),
2. Kelurahan Cilendek Timur (penyedia data dan kader), dan
3. Puskesmas Gang Kelor (pendamping medis).
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Masjid punya kedekatan dengan masyarakat, kelurahan punya data, dan puskesmas punya kompetensi medis. Tiga-tiganya harus berjalan beriringan,” ungkap pengurus DKM saat peluncuran. Kolaborasi ini mengadopsi pendekatan holistik: intervensi gizi spesifik (medis) dan sensitif (pendidikan, lingkungan, sosial) — sebagaimana direkomendasikan UNICEF. Keunikan GEMAS adalah menjadikan masjid sebagai pusat koordinasi sekaligus motivasi spiritual.
Empat Pilar Aksi GEMAS
Agar tidak mencampuradukkan aspek spiritual dan medis, DKM merancang empat kegiatan utama:
1. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Menggunakan bahan pangan lokal bergizi: telur, ikan teri, tempe, kacang hijau, sayuran hijau. Menu berdasarkan pedoman “Isi Piringku” Kemenkes. PMT diberikan kolektif di lingkungan masjid atau melalui kader posyandu dengan pendampingan Puskesmas.
2. Tausiyah Singkat (Tazkiyatun Nafs) untuk Ibu
Fokus pada penyucian jiwa: kesabaran mengasuh anak, syukur, tawakal, dan menjauhi putus asa. Tujuannya menguatkan mental-spiritual keluarga agar istiqomah merawat anak di tengah keterbatasan.
3. Pemaparan Gizi & Tumbuh Kembang Anak
Dipandu tenaga kesehatan atau ahli gizi. Materi teknis mencakup: 1.000 Hari Pertama Kehidupan, cara membaca KMS, MPASI berbahan lokal, tanda bahaya stunting, serta higiene sanitasi. Sesi interaktif dengan demo masak dan buku saku bergambar.
4. Kunjungan Rumah Rawan Stunting (Takmir + Kader)
Tim gabungan dari takmir masjid dan kader kelurahan/puskesmas mengunjungi rumah 12 anak sasaran secara berkala. Tujuannya: memastikan pemahaman orang tua, memeriksa sanitasi, memberi motivasi, dan melaporkan perkembangan ke puskesmas.
Dengan pendekatan ini, masjid menjaga fungsi pembinaan ruhiyah, sementara edukasi medis diserahkan kepada ahlinya. Keduanya berjalan beriringan, saling menguatkan: jiwa yang tenang dan tubuh yang sehat.
Dari Masjid untuk Umat : Target Besar dan Dukungan Jamaah
Masjid adalah rumah kedua umat. Dari masjid, kita jaga sholat kita. Dari masjid juga, kita jaga generasi kita. GEMAS sejalan dengan konsep masjid sebagai pusat peradaban (tamadun), sebagaimana dicontohkan pada masa Rasulullah SAW: tidak hanya shalat, tetapi juga pusat edukasi, sosial, dan penanganan krisis kesehatan.
Target besar yang dicanangkan adalah Cilendek Timur Nol Stunting dalam 12 bulan pertama, diukur melalui pemantauan berat dan tinggi badan bulanan 12 anak sasaran bersama Puskesmas Gang Kelor. Keberhasilan ditandai dengan seluruh anak mencapai kurva pertumbuhan normal (z-score) sesuai standar WHO. Inisiatif ini menjadi langkah awal menuju Bogor BEST (Bebas Stunting) — dan kelak dapat direplikasi masjid-masjid lain yang memiliki jaringan sosial kuat dan kepercayaan masyarakat tinggi.
Program ini mengajak setiap individu berperan. Tidak harus menjadi dokter atau ahli gizi. Menjadi relawan bisa dimulai dari:
- Mendampingi PMT,
- Menjadi pendamping ibu balita saat sesi pemaparan,
- Menjadi donatur rutin bahan pangan,
- Atau sekadar menyebarkan informasi ke tetangga.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)
GEMAS tidak berhenti di Cilendek Timur. Setiap masjid bisa memulainya: kenali anak stunting di sekitar Anda, bangun kolaborasi dengan puskesmas dan kelurahan, lalu jalankan empat pilar aksi GEMAS. Satu masjid, satu wilayah, satu generasi yang diselamatkan. Dari masjid, kita wujudkan Indonesia bebas stunting.
penulis adalah jamaah masjid di yasmin
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
