Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Amanda Yuliyanti

Harga Beras Cabai Masih Gila-gilaan Padahal Produksi Nasional Naik

Info Terkini | 2026-06-05 12:00:20

Pendahuluan

Belakangan ini kita sering mendengar harga beras dan cabai yang naik drastis dalam jangka waktu yang tak terduga. Tetapi kita juga mendengar berita soal pertanian Indonesia, dimana di tahun 2026 Kementerian Pertanian Republik Indonesia menginformasikan stok cadangan bulog mencetak rekor sepanjang sejarah. Lebih dari 5 juta ton per April-Mei 2026, yang berarti Indonesia sudah tidak impor beras lagi. Namun dilihat dari situs resmi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) harga beras saat ini mencapai Rp14.400- Rp16.650/kg, dan cabai rawit merah bisa tiba-tiba melonjak ke Rp80.000-Rp140.000/kg. Hal ini yang membuat Masyarakat bertanya-tanya dengan harga yang melonjak tinggi, padahal produksi nasional naik.

Isi Opini

Dengan produksi yang naik, stok melimpah, tapi harga di tingkat konsumen tetap “gila-gilaan”. Menurut penulis, masalah utamanya bukan di petani dan cuaca semata, tapi di rantai pasok dan struktur pasar yang belum adil sehingga menjadi penghambat ke tangan konsumen.

Hal ini bisa terjadi karena rantai pasok yang terlalu panjang dan banyak perantara. Petani menjual gabah atau hasil panen dalam jumlah kecil dan terpencar. Pembeli utama seperti tengkulak relatif sedikit dan memiliki harga tawar yang besar. Akibatnya, petani hanya mendapat sedikit bagian dari harga yang kita bayar. Sementara tengkulak dan perantara mengambil keuntungan yang besar.

Petani sulit mengetahui harga asli di pasar akhir atau permintaan konsumen. Petani membutuhkan uang dengan cepat, sehingga terpaksa menjual murah ke tengkulak. Sementara tengkulak bisa saja dengan menimbun barang dan menjual mahal saat harganya naik.

Beras dan cabai tentu memiliki sifat yang berbeda. Beras memiliki sifat tahan lama dan dapat disimpan lama, jadi ada yang sengaja menahan stok untuk dijual mahal nanti. Sementara, cabai bersifat cepat busuk dan sangat bergantung pada cuaca. Jika pasokan mengeluarkan cabai sedikit-sedikit saja, barang tersebut menjadi langka dan harganya langsung melonjak tinggi. Ditambah lagi biaya angkut antar daerah yang semakin mahal dan kurangnya gudang penyimpanan.

Kesimpulan

Meningkatkan produksi merupakan hal yang bagus dan patut kita syukuri. Tetapi jika jalur distribusinya masih bermasalah, hasilnya akan tetap sia-sia dan akan terus menerus seperti ini. Harga beras dan cabai yang tetap mahal meski produksi melimpah ini bukan hanya soal cuaca, tapi karena sistem perdagangan yang belum baik. Sehingga petani mendapatkan harga rendah, dan kita sebagai pembeli mendapatkan harga tinggi.

Kita sebagai konsumen harus memahami jalur distribusi dan memperbaiki jalur tersebut dari petani ke tangan konsumen dengan tepat. Caranya bisa dengan memperpendek rantai perdagangan, memakai teknologi agar petani bisa jual langsung ke pembeli, membangun gudang yang lebih baik, dan memperkuat kerjasama antar petani.

Jika dijalankan dengan benar, baru lah swasembada pangan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani dan rakyat biasa. Mari kita perbaiki bukan hanya ladangnya, tapi juga jalannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image