Refleksi Hari Nakba, 15 Mei
Politik | 2026-06-05 08:44:03
Oleh: Dhevi Firdausi, ST.
Tepat pada bulan Mei ini, Yahudi telah menjajah Palestina selama 78 tahun. Hari nakba merupakan hari dimana entitas Zionis merebut paksa wilayah Palestina dari penduduk aslinya. Perampasan tanah tersebut bisa terjadi karena mereka mendapatkan dukungan penuh dari Inggris (retizen.id, 04/05/2026).
Anehnya, para pemimpin muslim dunia hanya diam, tidak melakukan tindakan apapun. Sampai saat ini, umat IsIam di Palestina masih terus berjuang sendirian, mengusir penjajah. Tidak hanya para pemudanya, wanita dan anak-anak pun ikut menjadi pejuang IsIam.
Sekuler Kapitalisme Melanggengkan Penjajahan
Peringatan Hari Nakba, bukan sekedar untuk mengenang sejarah masa lalu. Tragedi kekerasan dan perampasan wilayah terus terjadi hingga hari ini. Bahkan, Gaza pun berencana dibumihanguskan melalui program BoP milik Amerika.
Belum terbebasnya Palestina dari penjajahan Zionis menunjukkan kegagalan sistem sekuler kapitalisme. Sistem kehidupan yang berasal dari barat tersebut sudah rusak sejak awal, tidak mungkin mampu mewujudkan perdamaian dunia. Justru, adanya sekat nasionalisme membuat negara-negara muslim tidak bisa membantu Gaza.
Lembaga internasional seperti PBB bersikap membiarkan kebengisan Zionis. HAM yang selama ini mereka suarakan tidak berlaku untuk rakyat Palestina. Negara adidaya yang memimpin lembaga tersebut justru berupaya untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat IsIam.
Khilafah, Pembebas dari Penjajahan
Palestina semakin hari semakin menderita, mereka membutuhkan bantuan untuk segera dibebaskan dari penjajahan. Umat IsIam di seluruh dunia harus bersatu dan berjihad mengusir Yahudi dari wilayah Gaza dan sekitarnya. Persatuan umat ini memerlukan adanya kepemimpinan IsIam, di bawah naungan daulah khilafah.
Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah memberikan contoh nyata, IsIam pernah menjadi negara adidaya. Daulah IsIam mampu memberikan perlindungan atau junnah dari penjajahan negara lainnya. Khilafah harus diperjuangkan untuk segera tegak kembali, sehingga IsIam yang rahmatan lil'alamin dapat tercapai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
