Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ismail Suardi Wekke

Secangkir Teh di Andoolo dan Cita Baru Perguruan Tinggi Islam

Info Terkini | 2026-06-04 23:01:41
Photo Launching IAI Rawa Aopa Konawe Selatan (ISW)

Secangkir Teh di Andoolo dan Cita Baru Perguruan Tinggi Islam

Aroma pekat kopi menyeruak di antara gugusan perbukitan yang mengepung Andoolo, ibu kota Kabupaten Konawe Selatan. Samping guest house kampus, di sudut kota yang sedang bersolek ini, kepulan asap dari cangkir-cangkir tanah liat bukan sekadar penanda jeda dari rutinitas.

Kopi di Andoolo adalah medium konsolidasi sosial; tempat di mana para petani, birokrat lokal, hingga tetua adat duduk bersama merajut cerita tentang tanah, panen, dan masa depan anak-anak mereka.

Bagi masyarakat Andoolo, kopi bukan komoditas modern yang datang bersama gelombang korporatisasi. Ia adalah warisan tanaman yang dirawat dengan ingatan kolektif. Di sela-sela seruputan pertama, perbincangan kerap kali bergeser dari sekadar harga pupuk menuju keresahan yang lebih sublim: bagaimana generasi muda mereka tetap berpijak pada nilai-nilai luhur Kalosara (simbol adat Tolaki) di tengah gempuran zaman digital yang kian menepikan lokalitas.

Cangkir kopi di pusat kota ini menjadi saksi isu bagaimana modernitas fisik kota berdialektika dengan tradisi. Di luar dinding kedai, aspal trans-Sulawesi membentang membelah hutan dan perkebunan, membawa deru kendaraan yang membawa perubahan.

Namun di sela ritme kota, dinamika hidup tetap terjaga, khidmat, dan penuh rasa hormat terhadap sesama—sebuah cerminan nyata dari konsep medulu-mepokoaso (bersatu dan saling menguatkan).

Menariknya, dinamika secangkir kopi ini memancarkan sebuah kerinduan intelektual. Selama bertahun-tahun, anak-anak muda Andoolo dan Konawe Selatan pada umumnya harus merantau ke Kendari atau Makassar jika ingin mereguk jernihnya ilmu di menara gading.

Kopi yang kita minum di kampung halaman sering kali beraroma getir karena melepas kepergian tunas-tunas muda yang belum tentu kembali untuk membangun daerahnya sendiri.

Kini, dari cangkir kopi yang sama, narasi itu mulai berubah.

Kehadiran ruang-ruang diskusi di Andoolo menegaskan bahwa transformasi sosial tidak boleh mencerabut akar budaya lokal. Islam yang berkembang di sini adalah Islam yang karib dengan aroma tanah, santun terhadap tradisi setempat, dan meyakini bahwa wahyu langit selalu menemukan cara terbaik untuk membumi di atas hamparan bumi Tolaki.

Oase Intelektual Pertama di Bumi Konawe Selatan

Lahirnya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Konawe Selatan—yang dalam rekam jejak pengembangannya mengakar kuat sebagai embrio Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan—menjadi jawaban atas dahaga intelektual yang lama tertahan di daerah ini. Sebagai perguruan tinggi pertama sekaligus satu-satunya yang berdiri tegak hingga kini di Kabupaten Konawe Selatan, institusi ini memikul beban sejarah yang sangat masif.

Ia bukan sekadar deretan gedung perkuliahan dengan papan nama birokratif, melainkan mercusuar peradaban di tengah daerah yang sedang giat bersolek secara struktural dan kultural. Keberadaan kampus tunggal ini memotong rantai migrasi intelektual yang selama puluhan tahun menguras potensi terbaik daerah.

Sebelum kehadirannya, Konawe Selatan kerap kehilangan pemuda-pemuda potensialnya yang memilih menetap di kota-kota besar setelah menyelesaikan studi. Dengan adanya lembaga pendidikan tinggi di tanah sendiri, proses kaderisasi pemimpin lokal kini dapat berlangsung secara natural, organik, dan terarah tanpa harus memisahkan pemuda dari basis sosial dan realitas kultural masyarakatnya.

Sebagai pionir yang berjalan tanpa pesaing di wilayahnya, lembaga ini memikul mandat ganda yang tidak ringan. Di satu sisi, ia harus menegakkan standar akademik global demi melahirkan sarjana yang kompeten dan berdaya saing tinggi.

Di sisi lain, ia wajib berfungsi sebagai benteng moral sekaligus laboratorium kebudayaan yang menjaga khazanah lokal agar tidak tergilas oleh arus industrialisasi. Perguruan tinggi Islam di sini dituntut mampu menerjemahkan nilai-nilai universal Islam ke dalam dialek kebudayaan setempat, menjadikannya institusi yang inklusif namun tetap berkarakter kuat.

Tantangan terbesar bagi satu-satunya kampus di bumi Konawe Selatan ini adalah konsistensi dalam menjaga kualitas akademisnya di tengah keterbatasan fasilitas daerah. Menjadi yang pertama berarti siap menjadi rujukan utama bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan berbasis riset. Kampus ini dituntut membuktikan bahwa kajian-kajian keislaman—mulai dari hukum keluarga, ekonomi syariah, hingga manajemen pendidikan—bisa berjalan beriringan serta mampu memberi solusi konkret bagi problematika masyarakat agraris dan pesisir di sekitarnya.

Lebih jauh lagi, posisi sebagai satu-satunya perguruan tinggi menuntut lembaga ini untuk bersikap proaktif dalam menjemput bola, masuk ke desa-desa, dan menyentuh kantong-kantong komunitas adat. Pendidikan tinggi Islam di Konawe Selatan tidak boleh mengisolasi diri dalam kenyamanan teoritis ruang kelas.

Mahasiswa dan dosen harus menjadi aktor aktif yang mendampingi petani, memperkuat tata kelola pemerintahan desa, serta menggerakkan roda ekonomi umat melalui pendekatan-pendekatan yang berbasis pada nilai keadilan sosial Islam. Dalam konteks relasi kelembagaan, perguruan tinggi ini memegang peranan vital sebagai jembatan yang menghubungkan entitas lokal dengan jejaring nasional maupun internasional.

Melalui berbagai program kerja sama, seminar, dan penelitian, kampus tunggal ini membawa nama Konawe Selatan ke panggung akademis yang lebih luas. Hal ini membuktikan bahwa sebuah institusi yang lahir dari rahim daerah terpencil pun mampu memancarkan pengaruh intelektual yang signifikan jika dikelola dengan visi yang melompat ke depan.

Satu dekade terakhir juga memperlihatkan bagaimana kampus ini bertransformasi menjadi ruang dialog lintas sektoral yang paling dipercaya di Konawe Selatan. Ketika terjadi sumbatan komunikasi antara pemangku kebijakan, tokoh adat, dan masyarakat arus bawah, ruang akademis inilah yang kerap hadir menawarkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan moral.

Netralitas ilmiah yang dipadukan dengan kesantunan etika Islam membuat lembaga ini memiliki legitimasi kultural yang sangat kuat di mata masyarakat setempat. Pada akhirnya, eksistensi sebagai perguruan tinggi pertama dan satu-satunya ini adalah sebuah berkah sekaligus ujian sejarah yang panjang.

Kampus ini dituntut untuk terus melahirkan sarjana-sarjana yang tidak hanya memiliki kesalehan ritual di dalam masjid, tetapi juga kesalehan sosial yang berdampak nyata di tengah perkebunan, pasar, dan ruang-ruang publik Konawe Selatan. Keberadaannya menjadi jaminan bahwa masa depan daerah ini akan dikemudikan oleh nalar yang cerdas sekaligus hati yang terpaut pada nilai-nilai ketuhanan.

Masa Depan Perguruan Tinggi Islam di Tanah Tolaki

Masa depan perguruan tinggi Islam di Tanah Tolaki sangat bergantung pada kemampuannya melakukan "pribumisasi" pendidikan Islam. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang asing dari denyut nadi masyarakat sekitarnya. Sebaliknya menjadi menara air.

Alih-alih menganggap tradisi lokal sebagai bidah atau penghambat kemajuan, kampus Islam di Konawe Selatan harus menempatkan adat Tolaki—seperti konsep Mombaka Aka (musyawarah) dan Kalo (ikatan suci)—sebagai subjek kajian ilmiah yang memperkaya khazanah epistemologi Islam.

Lebih dari itu, integrasi keilmuan menjadi kunci utama. Di masa depan, kurikulum perguruan tinggi Islam di tanah ini idealnya mampu melahirkan sarjana yang tidak hanya fasih membaca kitab klasik, tetapi juga adaptif terhadap realitas agraria Konawe Selatan. Kita membayangkan lahirnya ahli ekonomi syariah yang mengerti manajemen pemberdayaan petani kopi Andoolo, atau sarjana pendidikan Islam yang mampu mengajar dengan pendekatan kultural yang menyentuh hati masyarakat adat.

Akhirnya, keberlanjutan institusi ini adalah tanggung jawab kolektif. Dukungan pemerintah daerah, para tokoh adat, dan elemen masyarakat sipil menjadi bahan bakar utama agar satu-satunya perguruan tinggi ini terus tegak berdiri.

Dari Andoolo, dari balik kepulan asap kopi yang menghangatkan diskusi, perguruan tinggi Islam di Tanah Tolaki harus terus berjalan maju: memancarkan cahaya spiritualitas Islam, sekaligus menjaga api kearifan lokal agar tetap menyala di hati generasi mendatang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image