Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dania Dania

Mahasiswa D3 Keperawatan Edukasi Warga Mengenai Penggolongan Obat Berdasarkan Indikasi Klinis

Eduaksi | 2026-06-02 20:56:56
Dokumentasi bersama peserta edukasi

Di tengah maraknya penggunaan obat secara mandiri (self-medication) di masyarakat, pemahaman mengenai risiko dan penggolongan obat yang benar masih menjadi tantangan besar. Menjawab persoalan tersebut, Mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Airlangga menggelar kegiatan penyuluhan bertajuk “Edukasi Penggolongan Obat Berdasarkan Indikasi Klinis" di Jl. dr Wahidin Sudirohusodo Gang X1 G2 No.14, RT 01/RW 04, Kelurahan Dahanrejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Kegiatan dilaksanakan pada Jum’at, 1 Mei 2026 pukul 16.00-17.00 WIB.

Penyuluhan ini merupakan wujud implementasi proyek pembelajaran mata kuliah Farmakologi. Di bawah bimbingan dosen pengampu, Dr. Susilo Harianto, S.Kep., Ns., M.Kep., mahasiswa ditantang untuk membagikan (sharing) ilmu farmakologi yang kompleks dengan bahasa yang sederhana dan aplikatif tanpa mengurangi poin pentingnya. Tujuan utamanya adalah untuk membekali masyarakat awam dengan pengetahuan dasar mengenai penggolongan obat berdasarkan indikasi klinis dan penggunaan terapeutiknya yang aman.

Program edukasi ini dilaksanakan secara langsung oleh Kelompok 1 GR-2B yang beranggotakan delapan mahasiswa, yakni Amanda Gian Nur Rahma, Frida Dwi Lestari, Cantika Permata Ramadhani, Dania, Dzakiyyah Izzah Megali Hatibie, Muhammad Dzaky Afnan, Syakira Amalia Putri Prayogo, dan Mayliya Rosa.

Edukasi Penggolongan Obat dan Pelurusan Miskonsepsi di Masyarakat

Edukasi ini berfokus pada peningkatan pemahaman masyarakat dalam mengklasifikasikan obat berdasarkan fungsi pokoknya, meliputi analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), antihistamin (pereda alergi), antibiotik (penanganan infeksi bakteri) dan lain-lain. Dalam pemaparannya, materi disajikan dengan menyoroti berbagai miskonsepsi yang masih membudaya di masyarakat. Salah satu contoh utamanya adalah kebiasaan mengonsumsi antibiotik untuk mengatasi demam atau batuk pilek biasa, yang pada dasarnya merupakan penyakit akibat infeksi virus, bukan bakteri. Sesi yang dipandu secara interaktif oleh Amanda Gian dan Dania ini mendapat atensi penuh dari para peserta. Guna mengoptimalkan penyerapan informasi, pemateri memanfaatkan alat bantu visual berupa leaflet dan papan obat, yang terbukti efektif menjaga fokus dan antusiasme warga sepanjang kegiatan berlangsung. Selain itu, peserta juga diarahkan untuk melakukan pre-test sebelum pemaparan berlangsung.

Antusiasme Pada Sesi Tanya Jawab

Ketertarikan warga yang tinggi tidak hanya terlihat dari keseriusan mereka saat mendengarkan, tetapi juga memuncak ketika sesi diskusi dibuka. Suasana ruangan menjadi sangat interaktif dengan adanya pertanyaan yang dilontarkan.

Berbagai pertanyaan berdasarkan pengalaman pribadi mengalir begitu saja. Warga secara proaktif mengonsultasikan kebiasaan mereka, mulai dari kebingungan membedakan obat pereda nyeri lambung (antasida) dengan obat antinyeri otot, hingga kekhawatiran mengenai efek samping jika mengonsumsi sirup yang sudah berubah teksturnya.

Bagi mahasiswa, dinamika tanya jawab ini menjadi sarana uji kompetensi klinis yang berharga, melatih kemampuan komunikasi terapeutik mereka dalam memberikan asuhan keperawatan mandiri berupa edukasi kesehatan langsung di lapangan.

Peningkatan Literasi Farmakologi Masyarakat

Tingginya antusiasme selama acara berjalan berbanding lurus dengan hasil evaluasi kegiatan. Berdasarkan penilaian pasca-edukasi (post-test), tercatat adanya peningkatan pemahaman peserta yang signifikan dalam mengklasifikasikan obat sesuai dengan fungsi terapeutiknya.

Melalui publikasi reportase kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin cerdas dan kritis dalam memilih obat sesuai indikasi klinisnya. Pemahaman farmakologi dasar di tingkat keluarga adalah kunci utama dalam mencegah resistensi obat dan mewujudkan budaya pengobatan mandiri yang aman dan tepat guna.

Penulis: Kelompok 1 GR-2B

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image