Seminar Pendidikan dan Launching Balanced Scorecard serta Kerjasama, PWM DIY: Pendidikan Harus Berilmu dan Berkarakter
Eduaksi | 2026-06-02 10:23:27
REPUBLIKA NETWORK, YOGYAKARTA - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Seminar Pendidikan bertajuk Transformasi Tata Kelola Kinerja, sekaligus meluncurkan resmi instrumen penilaian Muhammadiyah Balanced Scorecard dan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Marshall Cavendish Education. Acara berlangsung di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026), dihadiri jajaran pimpinan pusat dan wilayah, kepala sekolah, serta tenaga pendidik.
Ketua PWM DIY, Muh. Ikhwan Ahada, menegaskan kegiatan ini sebagai langkah strategis menjawab tantangan pendidikan masa depan. Kerjasama dengan pihak mitra internasional difokuskan pada penguatan kompetensi siswa dan guru dalam pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI), pembelajaran coding, serta peningkatan standar mutu matematika agar pendidikan Muhammadiyah tetap relevan dan berdaya saing global.
Meski mendorong kemajuan teknologi dan manajemen modern, Muh. Ikhwan Ahada mengingatkan agar jati diri pendidikan tidak hilang. Instrumen Balanced Scorecard yang diluncurkan berfungsi memetakan jenjang sekolah dari tahap bertumbuh, berkembang, hingga unggul, namun tidak boleh menjadi satu-satunya acuan.
“Pendidikan Muhammadiyah bertujuan menciptakan manusia seutuhnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari fasilitas atau nilai akademik, tapi seberapa besar kontribusi lulusan bagi agama dan bangsa, seberapa kuat karakternya, dan manfaatnya bagi masyarakat. Kemajuan harus beriringan dengan penguatan akhlak,” tegas Muh. Ikhwan Ahada.
Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, Achmad Muhammad, membuka acara dengan menyapa peserta luring maupun daring, serta menyampaikan permohonan maaf jika ada yang terlewatkan. Ia mengajak mengimplementasikan tiga pilar persyarikatan: Schooling (Pendidikan), Feeding (Sosial), dan Healing (Kesehatan), sebagai wujud kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Dalam paparannya, Achmad Muhammad menekankan kedudukan ilmu yang sangat tinggi dalam Islam. Ia mengingatkan, kata ‘ilmu’ dan turunannya disebutkan sebanyak 800 kali dalam Al-Quran, jumlah yang melebihi jumlah surat, menegaskan ilmu sebagai entitas utama agama. Wahyu pertama yang diturunkan pun bermakna ilmu, yakni Iqra’ atau bacalah.
“Pendidikan Islam bukan hanya Ta’lim atau penguasaan ilmu, tapi juga Tarbiyah atau pengasuhan untuk memanusiakan manusia. Rasulullah SAW menggabungkan keduanya. Ilmu saja tidak cukup, harus ada karakter dan keadaban di dalamnya,” ujar Achmad Muhammad.
Ia juga mengingatkan bahwa ilmu yang diajarkan haruslah ilmu yang bermanfaat. “Banyak orang berilmu luas, tapi ilmunya merugikan kemanusiaan. Tujuan kita melahirkan manusia berilmu sekaligus berkeadaban, yang ilmunya menjadi rahmat bagi semesta alam,” tambahnya.
Terkait penerapan instrumen penilaian, Achmad Muhammad menekankan keseimbangan indikator kuantitatif dan kualitatif. Data angka seperti jumlah siswa, prestasi, dan kelancaran administrasi tetap diperlukan agar objektif. Namun, kekhasan Muhammadiyah ada pada nilai kualitatif yang harus ditonjolkan.
“Lulusan kita dinilai dari jiwa kepemimpinan dan kemampuan berorganisasi. Kami harap lulusan SMA aktif memimpin di perguruan tinggi. Jangan sampai KPI menghilangkan nilai-nilai emas ini,” pesannya.
Ia juga menyinggung tata kelola keuangan. Dana besar tidak menjamin kemajuan jika tidak dikelola sesuai prioritas. “Keuangan harus transparan, jelas penggunaannya, dan tepat sasaran. Jangan sampai dana habis tanpa dampak nyata bagi sekolah dan lingkungan,” jelasnya.
Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Didik Suhardi, memberikan apresiasi atas inovasi sistem penilaian PWM DIY. Menurutnya, langkah ini penting agar pendidikan persyarikatan terus berkemajuan dan terukur. Namun, ia mengingatkan agar instrumen tidak menjadi tujuan akhir yang mematikan nilai karakter.
“Angka penting untuk tahu posisi, tapi bukan segalanya. Kekuatan Muhammadiyah ada pada pembentukan akhlak dan kader pemimpin bangsa. Jangan sampai sibuk mengejar data, lalu melupakan substansi pendidikan memanusiakan manusia,” tegas Didik Suhardi.
Di akhir kegiatan, Achmad Muhammad berharap arahan pimpinan dan instrumen baru ini menjadi amanah bagi seluruh sekolah dan madrasah Muhammadiyah untuk melakukan perbaikan kinerja secara sistematis dan komprehensif di semua lini.
Dengan kegiatan ini, Muhammadiyah DIY kembali menegaskan diri sebagai pelopor pendidikan yang memadukan manajemen modern, teknologi, serta nilai karakter, demi mewujudkan pendidikan berkemajuan yang berkualitas dan berakhlak mulia. (mas)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
