Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image shabrina nabiha

Melihat Perselingkuhan dari Sisi Sri: Ketika Rumah Tangga Menjadi Neraka Baginya

Sastra | 2026-06-02 08:10:33
Pada Sebuah Kapal (Edisi 50 Tahun GPU) - Gramedia Pustaka Utama (Sumber: https://gpu.id/data-gpu/images/img-book/94642/624202013.jpg)

Orang bilang, selingkuh itu selalu salah. Hitam putih. Tidak ada kata ‘maaf’ untuk itu. Tetapi Nh. Dini memiliki keberanian lain. Lewat novel Pada Sebuah Kapal, ia membisikkan sesuatu yang membuat pembaca menghela napas panjang: bagaimana jika perselingkuhan bukan awal dari kehancuran, melainkan akhir dari sesuatu yang sudah lama hancur?

Tokoh utama dalam novel Pada Sebuah Kapal ini berselingkuh. Apakah ia adalah tipikal perempuan yang tidak tahu terima kasih? Begitulah kira-kira kesan pertama. Tetapi makin membaca, makin sulit untuk membencinya. Bahkan muncul pertanyaan: salah siapa sebenarnya?

Sri adalah perempuan Jawa dari Semarang. Ia adalah seorang penari, yang pernah tampil di istana. Ia juga bekerja sebagai penyiar radio di Jakarta. Lalu ia pernah jatuh cinta kepada Saputro, seorang pilot. Tetapi Saputro gugur karena mengalami kecelakaan pesawat terbang. Sri patah hati. Lalu ia menikahi Charles Vincent, seorang diplomat Perancis. Terlalu cepat. Dan di situlah masalahnya dimulai.

Nh. Dini tidak memulai cerita dari kapal. Ia memulai dari rumah. Dari dinginnya pernikahan Sri dengan Charles.

Charles memang seorang diplomat yang mapan. Sri ikut suaminya ke Kobe, Jepang. Dari luar, hidupnya seperti mimpi: istri diplomat, rumah bagus. Tapi di dalam, Charles berubah menjadi dingin, otoriter dan pelit.

Sri tidak pernah mengetahui berapa gaji suaminya. Uang belanja hanya diberi sedikit. Dan setiap pengeluaran harus dipertanggungjawabkan. Charles melarangnya bergaul, cemburu buta, dan perlahan mengisolasi Sri. Yang paling menyakitkan adalah di saat Charles merendahkan tarian Jawa yang menjadi kebanggaan Sri. Hanya dianggapnya "kampungan."

Suatu malam, di depan teman-teman diplomat, Charles membentaknya. Hanya karena terlambat menyajikan minuman.

Empat tahun ia hidup seperti itu. Lalu Sri berkata:

"Aku sudah bersabar diri selama empat tahun. Dan selama empat kali tiga ratus enam puluh hari aku membiarkan hatiku tersiksa oleh perlakuan yang kasar dari orang yang telah mengawiniku." (hlm. 185)

Empat tahun. Bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam kesengsaraan.

Cinta Sri mati lebih dulu. Dibunuh pelan-pelan setiap hari. Bukan hanya karena ada laki-laki lain.

Lalu pada saat melakukan pelayaran dari Saigon menuju Marseille, Sri bertemu Michel Dubanton. Seorang kapten kapal. Ia pun tidak bahagia dengan istrinya. Mereka sama-sama lelah. Sama-sama mati perlahan di rumah masing-masing. Di atas kapal, mereka menemukan apa yang sudah lama hilang yaitu perhatian, kelembutan, dan rasa dihargai.

Nh. Dini tidak membenarkan perselingkuhan. Ia bahkan pakai istilah Jawa pagar ayu. Tetapi ia disini mengajak para pembaca untuk melihat ke belakang. Bagaimana kehidupan asli rumah tangga mereka? Dan apa penyebabnya?

Hal ini sangat relevan sampai sekarang di tahun 2026.

Setiap ada perempuan yang berselingkuh, publik akan dengan cepat menghakimi: "Wanita murahan!", "Dasar tidak tahu terima kasih!" Jarang ada yang bertanya: apa yang terjadi di dalam rumah tangganya? Mengapa ia melakukan hal itu? Apakah ia hidup dalam pernikahan yang dingin?

Sementara laki-laki yang berselingkuh sering mendapat pembelaan. "Godaan pria wajar." "Istri kurang perhatian." Standar ganda ini bukan hal baru.

Coba bayangkan. Jika rumah tangga yang hangat, ia dihargai dan dicintai, apakah ia akan mencari di tempat lain? Mungkin tidak.

Lewat tokoh Sri, Nh. Dini berbisik: untuk tidak menghakimi sebelum tahu tentang cerita lengkapnya. Karena yang disebut "perusak rumah tangga" belum tentu perempuan yang selingkuh. Bisa jadi rumah tangganya yang sudah lebih dahulu hancur. Dihancurkan oleh suaminya sendiri. Dengan sikap dingin, kekerasan emosional, dan pengabaian selama bertahun-tahun.

Sri tidak perusak. Ia adalah korban yang kehabisan jalan.

Bukan berarti perbuatannya dapat dibenarkan. Tetapi setidaknya, ia pantas dipahami.

Membaca Pada Sebuah Kapal di tahun 2026 ini seperti ditampar perlahan: berhentilah sejenak dari amarah. Jangan ikut-ikutan untuk menghakimi. Karena tanpa sadar, kita sedang ikut membunuh korban untuk kedua kalinya. Hanya dengan hujatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image