Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Naura Nashifa Partia

Makna Diksi Kemiskinan dan Kelaparan dalam Cerpen Jawa Baru Karya Idrus

Sastra | 2026-06-01 23:01:42
Buku Kumpulan Cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Sumber; Dokumen Pribadi)

Cerpen Jawa Baru merupakan salah satu cerpen karya Idrus yang termuat dalam kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Cerpen ini menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa pendudukan Jepang yang dilanda kesulitan ekonomi dan krisis pangan. Salah satu kekuatan cerpen tersebut terletak pada penggunaan diksi yang lugas dan realistis dalam menggambarkan penderitaan rakyat. Melalui pilihan kata yang berkaitan dengan kemiskinan dan kelaparan, Idrus tidak hanya menyampaikan keadaan sosial masyarakat, tetapi juga membangun suasana tragis yang mampu menggugah emosi pembaca.

Hal tersebut terlihat dalam kutipan, “Beras sudah tiga rupiah satu liter. Susah didapat pula. Setiap orang hanya mendapat seperlima liter sehari”. Pada kutipan tersebut, diksi “susah didapat” dan “seperlima liter sehari” digunakan untuk menunjukkan keterbatasan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok. Idrus tidak menggunakan ungkapan yang bersifat kiasan, melainkan memilih kata yang konkret dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat membayangkan secara langsung kondisi kekurangan pangan yang dialami rakyat. Diksi “susah” memberikan kesan bahwa kesulitan hidup telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, sedangkan frasa “seperlima liter sehari” menegaskan betapa minimnya jatah makanan yang mereka terima.

Makna kelaparan diperkuat melalui kutipan, “Tapi rakyat banyak yang mati kelaparan”. Diksi “mati kelaparan” memiliki daya ekspresif yang kuat karena menunjukkan akibat paling ekstrem dari kemiskinan. Idrus memilih kata “kelaparan” daripada sekadar “lapar” untuk memberikan kesan penderitaan yang berlangsung terus-menerus dan terjadi dalam skala yang luas. Penggunaan diksi tersebut menimbulkan efek emosional yang mendalam karena pembaca tidak hanya memahami bahwa rakyat kekurangan makanan, tetapi juga menyadari bahwa kondisi tersebut telah mengancam keberlangsungan hidup mereka.

Penggambaran kemiskinan juga tampak pada kutipan, “Banyak pengemis-pengemis yang setengah telanjang dan setengah mati meminta sedekah ke rumah-rumah”. Dalam kutipan tersebut terdapat beberapa diksi yang saling menguatkan, yaitu “pengemis”, “setengah telanjang”, dan “setengah mati”. Diksi “pengemis” menunjukkan ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Sementara itu, diksi “setengah telanjang” menggambarkan kemiskinan yang tidak hanya berkaitan dengan kekurangan makanan, tetapi juga ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar lainnya seperti pakaian. Adapun diksi “setengah mati” memberikan penegasan mengenai penderitaan fisik yang dialami rakyat akibat kondisi hidup yang serba kekurangan. Melalui pilihan kata tersebut, Idrus berhasil menghadirkan gambaran kemiskinan secara konkret sehingga pembaca dapat merasakan suasana penderitaan yang dialami tokoh-tokohnya.

Puncak penderitaan masyarakat terlihat dalam kutipan, “Ada yang memakan bangkai karena tidak ada makanan lain yang dapat dimakan”. Diksi “bangkai” menjadi salah satu pilihan kata yang paling kuat dalam cerpen ini. Secara denotatif, bangkai berarti tubuh hewan yang telah mati. Namun, dalam konteks cerpen, diksi tersebut memiliki makna konotatif yang menunjukkan kondisi kemiskinan dan kelaparan yang sangat ekstrem. Idrus sengaja memilih kata “bangkai” karena mampu menimbulkan efek kejut bagi pembaca. Diksi ini menunjukkan bahwa masyarakat telah berada pada titik paling rendah dalam mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, penggunaan kata “bangkai” tidak hanya menggambarkan kekurangan pangan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kemiskinan dapat menghilangkan batas-batas kehidupan yang layak bagi manusia.

Selain menggambarkan penderitaan rakyat, Idrus juga menampilkan kontras sosial melalui kutipan, “Orang-orang Nippon mendapat lima liter sehari”. Diksi “lima liter sehari” membentuk pertentangan dengan frasa “seperlima liter sehari” yang diterima rakyat. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Melalui penggunaan angka yang sangat berbeda, Idrus menegaskan kesenjangan yang terjadi antara kelompok penguasa dan masyarakat biasa. Pilihan diksi tersebut memperkuat gambaran kemiskinan yang dialami rakyat sekaligus memperlihatkan bahwa penderitaan mereka berlangsung di tengah kondisi yang tidak setara.

Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa Idrus cenderung menggunakan diksi yang konkret, lugas, dan realistis dalam menggambarkan kemiskinan dan kelaparan. Diksi seperti “kelaparan”, “mati kelaparan”, “pengemis”, “setengah telanjang”, “setengah mati”, dan “bangkai” tidak hanya berfungsi menjelaskan kondisi sosial masyarakat, tetapi juga membangun makna yang lebih mendalam mengenai penderitaan dan hilangnya kualitas hidup manusia akibat kemiskinan. Pilihan kata yang digunakan Idrus mampu menciptakan suasana tragis sekaligus memperkuat pesan sosial yang ingin disampaikan dalam cerpen Jawa Baru.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image