Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Affan Arsyad

Sampai Kapan Kita Selalu Mencari Kambing Hitam?

Humaniora | 2026-08-11 01:52:04

Image source: Pngtree

Oleh: Moh Affan Arsyad (Pegiat Literasi)

Kerap kali kita menemukan narasi di media sosial penuh dengan unsur kebencian. Ketika sebuah kasus korupsi dari salah satu tokoh publik terkuak, mayoritas masyarakat kita dengan sigap langsung menghardik pelaku dan tindakan tersebut. Masyarakat kita, barangkali masyarakat paling suci; mereka lihai dalam menilai tindakan orang lain, namun lupa akan tindakannya sendiri.

Seruan demi seruan terus digaungkan. "Korupsi adalah tindakan DOSA!. Semua pejabat sama saja, maruk, doyan wanita, tukang korupsi, pelanggar konstitusi". Sayang seribu sayang. Bukan hanya para pejabat yang berperilaku buruk. Dalam realita yang ada, masyarakat kita juga merupakan salah satu masyarakat paling hipokrit di dunia ini.

Image source: Depositphotos

Para pejabat mengambil uang rakyat karena mereka mempunya kesempatan. Sedangkan masyarakat saling sikut menyikut, menyalahi aturan yang ada. Dari melanggar peraturan lalu lintas, hingga terima uang panas dari calon kepala desa. Masyarakat kita paling hafal soal dalil-dalil keagamaan. Namun, tak jarang pula merekalah yang paling masif dalam menyebarkan ujaran kebencian. Korupsi dicaci maki, padahal untuk menghindarinya pun mereka ragu.

Agaknya, penilaian masyarakat kita terhadap tindakan korupsi masih dalam pemahaman uang dan barang. Padahal jauh lebih dalam, arti korupsi tak sesempit itu. Karena mereka yang telat datang saat rapat, mereka yang tidak memakai helm ketika berkendara, mereka yang memakai jalan raya sebagai tempat hajatan, dan mereka yang memalsukan data agar dapat bantuan dari pemerintah, juga berperan sebagai koruptor dalam tindakannya.

Terlihat berbeda, namun mempunyai makna yang sama. Masyarakat kita hanya tak mempunyai jalan menuju korupsi di tingkat elit. Karena itulah mereka membenci pejabat yang melakukan hal tersebut. Bukan karena mereka ingin korupsi berhenti, namun karena mereka tak berada di posisi yang sama. Posisi yang paling diuntungkan.

Selama masyarakat dan para pejabat masih saling menyalahkan satu sama lain, tanpa merefleksikan peran dan posisi mereka masing-masing. Maka selama itulah harapan sebuah negeri yang katanya ingin bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, hanyalah imajinasi belaka.

God Bless Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image