Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Nurfajri

Fenomena Media Sosial dan Perilaku Komunikasi

Pendidikan dan Literasi | 2026-05-31 13:26:17

Fenomena Media Sosial dan Perilaku KomunikasiOleh: Ahmad Mirzam Fuadi dan M. Guntur Akbar, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari, Jombang

https://www.pinterest.com/

Sebuah komunikasi bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Di sekolah, komunikasi terjalin antara guru dan murid, antar teman sekelas, bahkan antara siswa dan penjaga sekolah. Di rumah, komunikasi hadir dalam percakapan sederhana antara anak dan orang tua, kakak dan adik, atau sekadar sapaan kecil saat hendak tidur. Di lingkungan kerja, komunikasi menjadi penghubung antara atasan dan bawahan, sesama rekan kerja, hingga relasi profesional lainnya.Kini, perkembangan teknologi menghadirkan bentuk komunikasi baru melalui media sosial.

Kehadiran Instagram, TikTok, WhatsApp, X, dan berbagai platform digital lainnya membuat komunikasi semakin mudah dilakukan. Seseorang bisa berbicara dengan orang lain tanpa harus bertemu secara langsung. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, informasi menyebar sangat cepat, dan manusia dapat mengetahui kehidupan orang lain hanya melalui layar ponsel.

Media Sosial sebagai Gaya HidupMedia sosial sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Bangun tidur membuka WhatsApp, sebelum tidur melihat TikTok, saat makan membuka Instagram, bahkan ketika berkumpul bersama keluarga pun tak sedikit yang tetap sibuk dengan gawainya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah perilaku komunikasi manusia secara perlahan.

Pada dasarnya, media sosial memberikan banyak kemudahan. Komunikasi jarak jauh terasa dekat, silaturahmi tetap terjaga, informasi mudah didapatkan. Bahkan media sosial mampu menjadi sarana belajar, berdakwah, dan bekerja.Akan tetapi, di balik kemudahan tersebut, media sosial juga membawa perubahan besar terhadap cara manusia berinteraksi. Tidak sedikit komunikasi yang akhirnya kehilangan makna kedekatan karena terlalu bergantung pada dunia digital.

Bahaya Oversharing di Media SosialFenomena ini tampak pada kasus Clara Shinta yang mengunggah dugaan perselingkuhan suaminya lengkap dengan bukti percakapan dan video di Instagram. Awalnya ia mendapatkan dukungan dari netizen sehingga merasa didengar dan diperhatikan. Akan tetapi, semakin banyak orang yang ikut membahas masalah tersebut, konflik pribadi itu berubah menjadi konsumsi publik. Banyak komentar dari netizen justru memperkeruh keadaan dan memperluas persoalan yang awalnya bersifat pribadi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi perilaku komunikasi seseorang. Seseorang cenderung lebih terbuka atau melakukan oversharing karena merasa media sosial adalah tempat untuk meluapkan emosi dan mencari dukungan sosial. Padahal, komunikasi yang terlalu terbuka di ruang publik dapat menimbulkan dampak negatif, seperti kesalahpahaman, rusaknya hubungan interpersonal, hingga tekanan sosial dari lingkungan sekitar.

Penyebaran Hoaks di Era DigitalContoh lain terjadi beberapa tahun lalu, masyarakat di berbagai daerah Indonesia sempat dihebohkan dengan pesan berantai yang menyebutkan adanya komplotan penculik anak yang berkeliaran menggunakan mobil tertentu. Pesan tersebut biasanya disertai foto orang yang dituduh pelaku penculikan dan imbauan agar masyarakat berhati-hati. Banyak orang langsung mempercayai informasi itu lalu menyebarkannya ke grup keluarga, RT, sekolah, hingga media sosial tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

Akibat penyebaran informasi tersebut, masyarakat menjadi panik dan curiga terhadap orang asing. Bahkan di beberapa daerah sempat terjadi salah paham hingga ada orang yang dituduh penculik lalu diamankan warga, padahal belum tentu bersalah. Setelah ditelusuri oleh pihak kepolisian, banyak dari informasi tersebut ternyata tidak benar atau merupakan hoaks yang sudah lama beredar ulang di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial mampu menyebarkan informasi dengan sangat cepat karena setiap pengguna dapat menjadi penyebar pesan hanya dalam hitungan detik. Perilaku komunikasi masyarakat di media sosial sering dipengaruhi rasa takut dan emosi sehingga orang lebih mudah percaya dan langsung membagikan informasi tanpa verifikasi.

Dampak pada Komunikasi KeluargaTidak hanya itu, media sosial juga mulai mengubah pola komunikasi dalam keluarga. Fenomena ini pernah menjadi perhatian pemerintah ketika Menteri Koordinator PMK, Pratikno, menyoroti kondisi "satu keluarga kumpul tapi tidak saling bicara" karena masing-masing sibuk dengan gadgetnya sendiri.Kasus ini menunjukkan perubahan perilaku komunikasi dalam keluarga modern. Dahulu, waktu berkumpul digunakan untuk berbagi cerita dan mempererat hubungan emosional. Namun kini, banyak anggota keluarga lebih fokus pada media sosial seperti TikTok, Instagram, atau game online sehingga komunikasi langsung menjadi berkurang.

Dalam kajian komunikasi, kondisi ini disebut sebagai penurunan komunikasi interpersonal, yaitu berkurangnya interaksi tatap muka antar anggota keluarga. Akibatnya, hubungan menjadi kurang hangat, muncul sikap individualis, dan anggota keluarga bisa merasa kesepian meskipun tinggal dalam satu rumah.Penutup: Keseimbangan adalah KunciDengan demikian, fenomena media sosial tidak hanya memengaruhi cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi kedekatan emosional dan kualitas hubungan dalam keluarga.

Media sosial memang mendekatkan yang jauh, tetapi terkadang juga menjauhkan yang dekat. Manusia menjadi lebih mudah berbicara melalui layar dibanding berbicara secara langsung. Padahal, komunikasi bukan sekadar menyampaikan kata-kata, melainkan juga tentang perhatian, empati, dan kehadiran.Oleh karena itu, penggunaan media sosial perlu diimbangi dengan etika dan kesadaran dalam berkomunikasi. Kita perlu memahami kapan harus berbicara, apa yang pantas dibagikan, serta bagaimana menjaga perasaan orang lain dalam dunia digital. Cause pada akhirnya, komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu menghadirkan pengertian, kenyamanan, dan hubungan yang sehat antar manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image