Trauma Sediaan Sirup: Mengapa Sebagian Orang Tua Masih Takut dan Memilih Puyer?
Edukasi | 2026-05-30 14:37:05
Krisis kepercayaan terhadap sediaan obat cair atau sirup anak sempat mengguncang dunia kesehatan beberapa waktu lalu. Kasus kontaminasi zat berbahaya seperti Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) yang memicu lonjakan kasus gagal ginjal akut pada anak meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi para orang tua. Secara sosiologis, fenomena ini melahirkan sebuah kecemasan kolektif. Meski pengawasan regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah diperketat secara masif, sisa-sisa trauma tersebut nyatata belum sepenuhnya pudar.
Dampak dari kecemasan psikologis ini mengubah pola perilaku masyarakat dalam memilih bentuk sediaan obat bagi buah hati mereka. Banyak orang tua yang kini memilih untuk memutar haluan ke sediaan obat tradisional berbentuk padat yang digerus, atau yang akrab disebut puyer. Format puyer dinilai memberikan rasa aman yang lebih tinggi bagi para ibu karena dianggap bebas dari kandungan pelarut cair yang pernah menjadi sumber petaka. Dilema ini menempatkan masyarakat pada posisi yang sulit: di satu sisi mereka membutuhkan efikasi obat yang cepat dan mudah dikonsumsi anak, namun di sisi lain, bayang-bayang keamanan sediaan cair masih terus menghantui.
Rendahnya literasi mengenai keragaman sediaan farmasi serta aspek keamanannya mempertegas adanya kebutuhan mendesak akan intervensi edukasi di akar rumput. Kesalahan pemahaman ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena setiap bentuk sediaan obat diciptakan dengan tujuan, efektivitas, dan penanganan yang berbeda-beda.
Langkah Nyata Mahasiswa Vokasi Airlangga di Gresik
Bergerak dari keresahan publik terkait pemahaman sediaan obat, Kelompok 4 Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga yang beranggotakan Alicia Desyifa Ardianti, Arya Prajna Dharma, Aurellia Elviana, Gracela Yolanda Sitanggang, Nabila Astuti Khairani, Najwa Salsabila, dan Meida Aulia Lukmana mengambil peran aktif dalam mengurai benang kusut literasi kesehatan ini. Di bawah bimbingan langsung dosen pengampu Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B., tim mahasiswa menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi kesehatan yang menyasar komunitas Ibu-Ibu PKK di Perumahan Graha Bunder Asri (GBA), Kabupaten Gresik.
Kegiatan yang dilaksanakan di Balai RW 06 ini dikemas dalam bentuk ceramah interaktif guna menjembatani jarak komunikasi dan membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap tata cara pengobatan yang aman. Fokus utama dari edukasi ini adalah memperluas wawasan warga bahwa sediaan obat tidak terbatas pada bentuk oral (diminum) seperti sirup atau puyer saja, melainkan terdapat sediaan obat khusus atau sediaan lain yang memiliki efektivitas tinggi dan rute pemberian yang spesifik.
Mengenalkan Sediaan Obat Khusus Melalui Alat Peraga Kreatif
Untuk mempermudah pemahaman para ibu PKK yang memegang kendali atas manajemen kesehatan keluarga, Kelompok 4 mengoptimalkan visualisasi edukasi menggunakan alat peraga berupa "Papan Obat Penggolongan Sediaan Obat Lain atau Khusus". Berdasarkan dokumentasi pada berkas Screenshot (465).png, papan peraga karton tersebut dihias secara interaktif dan memuat contoh bentuk fisik obat asli agar peserta dapat mengenali karakteristik sediaan secara langsung.
Terdapat tiga sediaan obat khusus yang dipaparkan secara mendalam kepada warga melalui demonstrasi alat peraga, yaitu sediaan inhalasi, patch transdermal, dan implan. Sediaan inhalasi, yang dicontohkan melalui produk Vicks Inhaler dan Ventolin Inhaler, bekerja dengan cara dihirup langsung ke saluran pernapasan untuk memberikan efek terapi yang cepat pada penderita asma dengan efek samping minimal. Sementara itu, sediaan patch transdermal seperti Salonpas diaplikasikan berbentuk plester pada permukaan kulit yang bersih untuk menyalurkan zat aktif secara perlahan (sustained release) langsung ke aliran darah tanpa mengiritasi lambung. Terakhir, warga juga diperkenalkan dengan sediaan implan melalui alat peraga Gliadel Wafer, sebuah inovasi obat yang ditanam di bawah jaringan kulit oleh tenaga medis untuk menghantarkan terapi jangka panjang secara konstan dan terkontrol tanpa perlu konsumsi harian.
Selain diperlihatkan alat peraga fisik, para ibu PKK dibekali dengan leaflet edukasi yang memuat panduan ringkas prosedur penggunaan obat yang benar serta prinsip dasar DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) sebagai pedoman mandiri di rumah. Warga diajarkan teknik krusial seperti pentingnya menahan napas selama kurang lebih 10 detik setelah menghirup inhaler agar obat mengendap optimal di paru-paru, serta keharusan memindahkan lokasi penempelan patch transdermal berikutnya guna menghindari iritasi kulit.
Keberhasilan Edukasi dan Harapan Pemulihan Literasi
Efektivitas dari metode ceramah serta demonstrasi visual ini diukur secara objektif melalui instrumen lembar kuesioner pre-test dan post-test yang diisi oleh seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya lompatan pemahaman yang sangat signifikan. Ibu-ibu PKK yang awalnya awam mengenai tata cara pemakaian dan penyimpanan obat sediaan khusus, kini mampu mendemonstrasikan kembali langkah-langkah penggunaan yang tepat, aman, dan sesuai indikator keberhasilan medis.
Melalui program edukasi terintegrasi ini, Kelompok 4 Vokasi Universitas Airlangga tidak hanya berhasil meningkatkan kemandirian kesehatan komunitas di Graha Bunder Asri, tetapi juga meletakkan fondasi penting bagi pemulihan literasi obat masyarakat. Pemahaman yang menyeluruh mengenai karakteristik sediaan obat—baik sediaan konvensional maupun khusus—diharapkan dapat mengikis sisa trauma masa lalu, meluruskan kecemasan psikologis yang keliru, dan menuntun para orang tua untuk menjadi konsumen yang cerdas dan rasional dalam menentukan pengobatan terbaik bagi keluarga.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
