Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image nabila astuti khairani

Darurat Literasi Herbal: Mengapa Masyarakat Masih Bingung Membedakan Jamu, OHT, dan Fitofarmaka?

Info Sehat | 2026-05-30 14:28:01
Media Papan Obat Kelompok 4 dalam Aksi Nyata memperkenalkan jenis Obat Bahan Alam kepada ibu-ibu PKK Graha Bunder Asri RW 11

Indonesia dianugerahi kekayaan hayati melimpah yang melahirkan budaya minum jamu sebagai warisan kesehatan turun-temurun di tengah masyarakat. Mengonsumsi obat yang berasal dari alam sering kali menjadi pilihan utama karena dinilai lebih mudah diakses dan memiliki efek samping yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan obat sintetis. Namun, di balik tingginya konsumsi tersebut, tersimpan sebuah masalah krusial di mana mayoritas masyarakat Indonesia ternyata belum memahami klasifikasi Obat Bahan Alam secara komprehensif, mulai dari pengertian hingga aspek keamanannya. Data Riskesdas mempertegas kesenjangan ini dengan mencatat bahwa meskipun penggunaan obat tradisional di tanah air mencapai lebih dari lima puluh persen, tingkat pemahaman mengenai jenis dan cara penggunaan yang benar hanya berkisar antara tiga puluh hingga empat puluh persen saja. Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak yang lebar antara tingginya angka konsumsi dan rendahnya pengetahuan tentang keamanan produk.

Kebingungan masyarakat terhadap penggolongan obat herbal modern ini dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Salah satunya adalah munculnya miskonsepsi luas bahwa segala sesuatu yang berbahan alami pasti aman tanpa perlu melalui proses standarisasi. Akibat pandangan keliru ini, masyarakat cenderung mengabaikan dosis yang tepat, aturan pakai yang benar, serta potensi interaksi dengan obat medis konvensional yang dapat memicu efek samping serius. Tantangan ini semakin diperberat oleh banjir informasi tidak tervalidasi di media sosial yang memberikan klaim khasiat berlebihan, sehingga mengaburkan batasan ilmiah antara jamu biasa dan herbal modern. Keadaan diperparah oleh praktik produsen nakal yang mencampurkan Bahan Kimia Obat secara ilegal demi memberikan efek instan. Di sisi lain, rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksa izin edar resmi serta logo khusu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan membuat produk-produk yang tidak aman masih memiliki pangsa pasar yang besar.

Untuk menjamin perlindungan konsumen, Badan Pengawas Obat dan Makanan menetapkan tiga kategori utama Obat Bahan Alam berdasarkan tingkat pembuktian ilmiah, keamanan, dan mutu produk. Tingkatan pertama dan yang paling akrab dengan keseharian adalah Jamu, yaitu obat tradisional asli Indonesia yang khasiatnya dibuktikan berdasarkan pengalaman empiris atau warisan turun-temurun. Jamu ditandai dengan logo gambar ranting daun berwarna hijau di dalam lingkaran. Contoh nyatanya dapat dilihat pada papan visual edukasi kelompok kami, seperti ramuan kunyit asam yang bermanfaat meredakan nyeri haid serta beras kencur dan temulawak. Meskipun berbahan alami, jamu memiliki keterbatasan berupa ketidakpastian dosis karena belum melalui uji ilmiah modern.

Kategori kedua adalah Obat Herbal Terstandar yang memiliki posisi lebih tinggi dan terukur jika dibandingkan dengan jamu biasa. Produk ini diproduksi oleh industri farmasi dengan bahan baku yang telah distandarisasi kandungan zat aktifnya, serta telah melewati uji praklinik pada hewan laboratorium untuk memastikan keamanan serta khasiat awalnya. Kelompok Obat Herbal Terstandar dikenali melalui logo gambar tiga bintang berwarna hijau pada kemasannya. Beberapa contoh produk populer yang masuk dalam golongan ini di antaranya adalah Antangin, Tolak Angin, Diapet yang memanfaatkan ekstrak daun jambu biji, serta Sidomuncul Natural Lingzhi yang mengandung ekstrak jamur herbal.

Tingkatan tertinggi dalam klasifikasi obat herbal di Indonesia ditempati oleh Fitofarmaka. Obat bahan alam ini diproduksi dengan proses standarisasi yang sangat ketat dan telah melalui uji klinik langsung pada manusia, sehingga keamanan dan efektivitasnya telah teruji secara ilmiah. Karena telah didukung oleh data klinis yang valid, fitofarmaka memiliki posisi yang setara dengan obat modern sintetis dan dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. Produk fitofarmaka dapat diidentifikasi melalui logo berupa gambar kristal es atau bintang di dalam lingkaran hijau. Beberapa contoh nyata dari produk fitofarmaka ini adalah Stimuno Forte yang memanfaatkan daun meniran untuk memperbaiki sistem imun tubuh, Rheumaneer sebagai herbal anti-rematik, serta Tensigard.

Menyikapi darurat literasi tersebut, Kelompok 4 dari Kelas GR-2B Program Studi D-III Keperawatan, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga, mengambil langkah nyata dengan menggelar aksi pengabdian masyarakat. Di bawah bimbingan dosen pengampu Dr. Susilo Harianto, S. Kep., Ns., M. Kep., tim mahasiswa yang beranggotakan Arya Prajna Dharma, Alicia Desyifa Ardianti, Aurellia Elviana, Gracela Yolanda Sitanggang, Nabila Astuti Khairani, Najwa Salsabila, dan Meida Aulia Lukmana ini menyusun sebuah proyek edukasi kesehatan yang terarah. Kegiatan sosialisasi ini menyasar kelompok Ibu PKK dan para lansia yang bertempat tinggal di lingkungan Perumahan Graha Bunder Asri, Kabupaten Gresik.

Pemilihan kelompok sasaran dan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan peran penting komunitas tersebut dalam pengelolaan kesehatan. Ibu PKK merupakan pengambil keputusan utama dalam penggunaan obat di tingkat rumah tangga, sedangkan lansia merupakan kelompok rentan yang sering mengonsumsi obat tradisional sehingga sangat membutuhkan pemahaman yang benar demi menghindari efek toksik. Untuk menyampaikan materi secara efektif, kelompok kami menerapkan metode ceramah interaktif berbantuan media PowerPoint terstruktur untuk menjelaskan konsep dasar penggolongan obat tradisional, aspek keamanan, hingga bahaya pencampuran Bahan Kimia Obat.

Edukasi tersebut diperkuat dengan metode demonstrasi menggunakan alat peraga visual berupa papan obat penggolongan bahan alam. Melalui demonstrasi ini, para peserta diajak melihat langsung contoh riil kemasan produk herbal dan membaca informasi detail mengenai nama asli bahan, nama generik, efek terapeutik, efek samping, hingga waktu konsumsi yang tepat. Di akhir sesi penyuluhan, tim membagikan media edukasi tambahan berupa leaflet yang berisi ringkasan materi beserta visualisasi logo ranting daun, tiga bintang, dan kristal es sebagai panduan praktis yang dapat dibawa pulang oleh warga. Keberhasilan program ini dievaluasi secara terukur melalui perbandingan nilai rata-rata peserta pada lembar kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan, yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan. Melalui inisiatif interaktif ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dan rasional dalam memanfaatkan kekayaan herbal demi menjaga ketahanan kesehatan keluarga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image