Pembelajaran Bermakna di Era AI
Eduaksi | 2026-05-30 10:17:42
Ruang kelas hari ini tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Jika dulu siswa membuka buku ketika mendapat tugas, kini banyak yang langsung membuka artifisial
kecerdasan (AI). Dari membuat rangkuman, menjawab soal, hingga menyusun esai, semuanya
dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. AI perlahan menjadi “teman belajar” baru bagi
pelajar SMA.
Fenomena itu bukan sekadar kesan. Survei Tirto.id bersama Jakpat pada Mei 2024
terhadap 1.501 pelajar usia 15–21 tahun mencatat bahwa 86,21 persen dari mereka menggunakan
AI setidaknya sekali dalam sebulan untuk menyelesaikan tugas sekolah maupun kuliah (Tirto.id,
2024). Teknologi yang awalnya dianggap sebagai alat bantu belajar kini mulai menjadi bagian
dari kebiasaan belajar sehari-hari siswa.
Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi lahirnya pembelajaran yang
lebih inovatif, fleksibel, dan personal. Namun, di sisi lain, muncul permasalahan yang tidak
sederhana. Banyak siswa mulai terbiasa memperoleh jawaban secara instan tanpa benar
memahami proses berpikir di baliknya. Hasilnya, kemampuan menulis, menganalisis, dan
berpikir kritis perlahan melemah.
Oleh karena itu, persoalan utama pendidikan hari ini bukan lagi soal boleh atau tidaknya AI
digunakan di sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana sekolah mampu merancang
pembelajaran yang menjadikan AI sebagai alat berpikir, bukan sekedar alat menyalin. Di titik itu
Inilah pembelajaran inovatif menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.
AI dan Nalar
Ketergantungan terhadap AI mulai terlihat di ruang kelas. Banyak siswa yang mengaku kesulitan menyelesaikan tugas tanpa teknologi. Kekhawatiran itu bukan sekadar dugaan. Angka 86,21 persen bukan prestasi; itu alarm. Forum nasional EduALL x Indonesia Mengajar pada Mei 2026 bahkan mencatat angka yang lebih mempengaruhi: penggunaan AI diPelajar Indonesia telah mencapai 95 persen, tertinggi di kalangan 15 negara yang disurvei dalam Survei Pelajar Global 2025 (RRI.co.id, 2026; GoodStats, 2025). Dalam forum itu sama, perwakilan pelajar Matahati Sabri mengakui bahwa banyak siswa kini bergantung pada AI untuk mengerjakan tugas, sehingga sebagian dari mereka merasa kesulitan belajar mandiri tanpa bantuan teknologi.
Dampaknya lebih dari sekedar kebiasaan. Akademisi dari Universitas YARSI mengingatkan adanya risiko hutang kognitif penurunan kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan jangka panjang terhadap AI. Disebutkan bahwa penggunaan AI tanpa keterlibatan aktif dapat menurunkan aktivitas saraf hingga 47 persen dan meningkatkan kemampuan berpikir dalam proses belajar (Yarsi.ac.id, 2026). Semakin sering siswa Menyerahkan proses berpikir ke mesin, semakin menurunkan kemampuan berpikir mereka sendiri. Yang memperparah situasi ini adalah kenyataan bahwa banyak guru yang belum siap menghadapinya. Najelaa Shihab, pendiri Sekolah Cikal dan pemerhati pendidikan Indonesia,menekankan bahwa peran guru kini harus berevolusi dari sekadar pemberi informasi, menjadi (Suara.com, 2026). Sayangnya,perubahan itu belum merata. Banyak guru yang masih bertahan dengan pendekatan lama di tengah arus teknologi yang bergerak jauh lebih cepat.
Menjadikan AI Alat Berpikir
Solusinya bukan melarang AI. Solusinya adalah mengubah cara kita menggunakannya
di kelas. Model yang dibutuhkan adalah pembelajaran berbasis proyek yang
mengintegrasikan AI secara kritis. Siswa tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga
menyerapnya. Guru merancang tugas di mana siswa meminta AI menjelaskan suatu
konsep, lalu secara aktif membandingkan hasilnya dengan buku teks, berdiskusi
kelemahannya, dan merumuskan kesimpulan sendiri. Proses itulah yang melatih nalar, bukan
hanya mengoperasikan teknologi.
Najelaa Shihab (2021) menegaskan bahwa mengembangkan pola pikir kritis dan
Pemecahan masalah pada siswa dapat dilakukan melalui penyajian isu dan masalah dengan
pembelajaran bermakna berbasis proyek (Kompas.com, 2021). Semangat itulah yang perlu
dihidupkan kembali di era AI: bukan belajar untuk mendapat jawaban, melainkan belajar untuk
ajukan pertanyaan yang lebih baik.
Ki Hadjar Dewantara sejak lama telah mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah
proses yang menuntun bukan menuntut hasil (Dewantara, 1961). Di era AI, semangat itu justru semakin bertambah
relevan. Guru bukan menggantikan mesin, melainkan diperkuat olehnya agar lebih leluasa
mendampingi siswa berpikir, bertanya, dan bertumbuh sebagai manusia yang mandiri.
Keberhasilan belajar pun tidak lagi diukur dari seberapa cepat siswa memperoleh jawaban, tetapi
dari seberapa baik mereka menguji dan mengembangkannya.
AI sudah masuk kelas dengan atau tanpa izin kami. Pertanyaannya bukan lagi soal boleh
atau tidak, melainkan soal bagaimana kita mengelolanya secara bijak.
Dua langkah konkret perlu segera diambil. Pertama, rancang pembelajaran berbasis
proyek di mana AI menjadi alat berpikir, bukan alat menyalin. Kedua, pemerintah perlu
mempercepat pelatihan guru agar mampu bertransformasi menjadi desainer pembelajaran yang
adaptif bukan sekedar mengajar yang kehabisan peran di tengah gempuran teknologi.
AI tidak akan menentukan masa depan pendidikan. Cara kita menggunakannyalah yang
akan menentukan. Jika dua langkah itu berhasil, masuknya AI ke ruang kelas bisa menjadi
momen terbaik untuk mendefinisikan ulang apa artinya belajar lebih dalam, lebih bermakna, dan
lebih manusiawi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
