Ketika Barat Membuat Hanafi Kehilangan Jati Diri
Sastra | 2026-05-29 08:47:44
Di tengah derasnya pengaruh budaya asing yang terus masuk ke Indonesia, novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis terasa tetap relevan meski ditulis hampir satu abad lalu. Novel klasik ini bukan sekadar kisah cinta tragis antara Hanafi dan Corrie, melainkan kritik sosial yang tajam tentang kegagalan seseorang memahami identitas dirinya sendiri.
Melalui tokoh Hanafi, pembaca diajak melihat bagaimana pendidikan Barat dan lingkungan kolonial membentuk cara pandang seorang pribumi hingga ia merasa malu terhadap budayanya sendiri. Hanafi menganggap adat Minangkabau kuno dan tidak modern. Ia lebih bangga menggunakan gaya hidup Eropa, mulai dari cara berpakaian, berbicara, hingga pola pikir. Sayangnya, upaya menjadi “orang Barat” itu justru membuatnya kehilangan tempat di dua dunia sekaligus.
Hanafi mengalami kegagalan asimilasi budaya. Ia tidak lagi diterima sepenuhnya oleh masyarakat pribumi karena dianggap terlalu kebarat-baratan. Namun di sisi lain, masyarakat Eropa juga tetap memandangnya sebagai pribumi. Posisi yang serba tanggung inilah yang akhirnya menghancurkan hidup Hanafi perlahan-lahan.
Konflik budaya dalam novel terlihat sangat kuat melalui hubungan Hanafi dengan Corrie. Awalnya, cinta mereka tampak mampu menembus batas ras dan budaya. Akan tetapi, perbedaan nilai hidup justru menjadi sumber pertengkaran. Corrie yang tumbuh dalam budaya Barat menjunjung kebebasan individu, sedangkan Hanafi masih membawa ego dan tekanan sosial Timur dalam dirinya. Hubungan mereka akhirnya berubah menjadi penuh kecurigaan, kemarahan, dan keterasingan.
Kekuatan novel ini terletak pada keberanian Abdoel Moeis mengkritik westernisasi berlebihan. Ia tidak menolak modernitas, tetapi mengingatkan bahwa meniru budaya asing tanpa memahami akar budaya sendiri hanya akan melahirkan keterasingan. Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan sekarang, ketika banyak orang mulai merasa lebih bangga pada budaya luar dibanding tradisinya sendiri.
Salah Asuhan adalah novel yang bukan hanya penting secara sastra, tetapi juga penting secara sosial. Kisah Hanafi menjadi pengingat bahwa modernitas seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan jati diri. Sebab, ketika seseorang terlalu sibuk menjadi orang lain, ia bisa lupa siapa dirinya sebenarnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
