Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Haifa Aulia Hana Hanifah

Perempuan yang tidak Pernah Benar-benar Merdeka

Sastra | 2026-05-29 08:30:41
Novel berjudul Belenggu Karya Armijn Pane yang berjudul Belenggu tidak hanya sekadar mengisahkan hubungan cinta segitiga antara Sukartono, Tini, dan Rohayah. Di balik konflik keluarga yang rumit, novel ini menyimpan kritik sosial yang masih sangat relevan hingga saat ini, terutama terkait dengan peran wanita dalam masyarakat.Walaupun ditulis pada masa kolonial sekitar tahun 1940-an, Belenggu mengangkat isu perempuan yang sangat relevan hingga sekarang: keinginan untuk bebas, diakui, dan mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Contohnya, karakter Tini terlihat sebagai wanita yang terdidik dan ingin berperan aktif di luar rumah, tidak ingin hanya dilihat sebagai "istri yang menunggu suami pulang". Tini sering kali dianggap terlalu berani oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, perjuangannya sebenarnya sangat mendasar: hak untuk menjadi individu yang dapat memilih jalannya sendiri.Di sisi lain, masyarakat waktu itu masih memandang wanita dengan standar tradisional. Seorang istri dianggap baik jika bersikap patuh, tinggal di rumah, dan melayani suami. Ketika Tini mencoba melawan norma tersebut, ia justru dianggap menentang kodratnya. Dari sini terlihat bagaimana budaya patriarki bekerja secara halus namun kuat, membatasi wanita melalui norma-norma sosial.Karakter Rohayah juga menunjukkan sisi lain dari penderitaan perempuan. Ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dan hidup dalam kesepian. Rohayah mencari kebahagiaan, tetapi keadaan sosial menghalanginya untuk mencapai kebebasan yang sebenarnya. Ia akhirnya hidup dengan luka emosional yang mendalam. Melalui Rohayah, Armijn Pane menunjukkan bahwa banyak wanita sering kali terpaksa menerima jalur hidup yang bukan merupakan keinginan mereka.Para pria dalam novel ini juga mengalami masalah. Sukartono sebagai suami merasakan kehilangan kenyamanan dalam keluarga, tetapi ia juga gagal memahami kebutuhan emosional istrinya. Masalah dalam hubungan mereka bukan hanya disebabkan oleh kehadiran orang ketiga, tetapi juga karena kurangnya komunikasi dan pemahaman satu sama lain. Hal ini menjadikan Belenggu berbeda dari novel cinta lainnya. Persoalan yang dihadapi tidak hanya tentang cinta, tetapi juga bagaimana sikap terhadap peran perempuan dan laki-laki saling bertentangan.Membaca Belenggu saat ini mengingatkan kita bahwa isu kesetaraan gender bukanlah hal yang baru. Sejak lama, perempuan telah berjuang untuk membebaskan diri dari batasan sosial yang menghalangi mereka. Sayangnya, hingga saat ini, perempuan yang terlalu mandiri, aktif, atau vokal masih sering dianggap negatif oleh masyarakat.Karena itu, Belenggu tetap relevan untuk dibaca oleh generasi sekarang. Novel ini mengajarkan bahwa hubungan yang sehat tidak hanya berdasarkan cinta, tetapi juga penghormatan terhadap kebebasan dan identitas masing-masing. Armijn Pane seolah ingin menekankan bahwa manusia akan terus terjebak dalam “belenggu” selama ketidakadilan terhadap perempuan masih ada.Belenggu bukan hanya merupakan cerita tentang kegagalan dalam rumah tangga, melainkan juga cermin sosial yang menggambarkan perjuangan perempuan untuk didengar di tengah dunia yang masih lebih memberikan kesempatan kepada laki-laki.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image