Skill yang Tidak Diajarkan Dosen, Tapi Bisa Dipelajari dari Kegiatan Volunteer
Eduaksi | 2026-05-29 00:00:27Surabaya, 29 Mei 2026 - Kalau teman-teman pernah duduk di ruang sidang skripsi dan panik menjawab pertanyaan penguji, teman-teman tahu rasanya berpikir cepat di bawah tekanan. Tapi ada satu jenis tekanan yang berbeda dan lebih kompleks, yang jarang dilatih di dalam kampus manapun, yaitu tekanan untuk tetap tenang dan produktif ketika teman-teman berada di situasi yang benar-benar asing, bersama orang-orang yang belum teman-teman kenal sama sekali.
Itulah yang dihadapi oleh jutaan anak muda di seluruh dunia setiap tahunnya ketika mereka bergabung dalam program volunteer, baik di dalam maupun luar negeri.
World Economic Forum dalam laporan Future of Jobs 2023 menyebutkan bahwa kemampuan seperti adaptabilitas, kepemimpinan dalam ketidakpastian, dan kecerdasan sosial masuk dalam daftar sepuluh keterampilan paling dicari oleh perusahaan global hingga 2027. Menariknya, keterampilan-keterampilan tersebut sulit diukur dengan nilai ujian dan hampir tidak bisa diajarkan secara teoritis di ruang kelas.
Lalu di mana teman-teman bisa melatihnya?
Jawaban yang semakin sering muncul adalah melalui pengalaman langsung di lapangan, salah satunya lewat kegiatan volunteer yang terstruktur. Bukan volunteer yang sekadar membagi nasi kotak atau menanam pohon untuk foto dokumentasi, melainkan program yang menempatkan peserta dalam tanggung jawab nyata dengan dampak yang bisa diukur.
Contoh konkretnya bisa sesederhana ini. Seorang mahasiswa yang sebelumnya hanya terbiasa mengerjakan tugas individu tiba-tiba harus memimpin tim yang terdiri dari orang-orang dengan bahasa ibu berbeda untuk menyelesaikan satu kegiatan dalam waktu tiga jam. Tidak ada template, tidak ada dosen yang bisa ditanya, dan tidak ada nilai yang menunggu di akhir. Yang ada hanya tanggung jawab dan kepercayaan dari tim.
Proses itulah yang membentuk karakter kepemimpinan dengan cara yang tidak bisa digantikan oleh seminar motivasi manapun.
Seorang konsultan HR dari perusahaan multinasional yang beroperasi di Surabaya pernah menyebut dalam sebuah diskusi bahwa ia lebih memperhatikan bagian “pengalaman” dalam CV pelamar dibanding IPK mereka, terutama jika pengalaman itu menunjukkan bahwa si pelamar pernah bekerja di lingkungan yang tidak nyaman dan berhasil melewatinya.
Bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan langkah berikutnya setelah semester ini, mungkin jawabannya tidak selalu ada di dalam kelas. Kadang ia ada di luar tembok kampus, di antara orang-orang asing yang akan teman-teman sebut teman dalam hitungan minggu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
