Menakar Nasib Mahasiswa Saintek di Era Kuliah Hybrid
Info Terkini | 2026-05-28 14:51:27
Sejak 1 April 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi memberlakukan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian pola kerja dan kegiatan akademik berbasis digital. Kebijakan ini tentu disambut hangat sebagai angin segar menuju tata kelola pendidikan modern yang fleksibel dan hemat energi. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan tanda tanya besar apakah efisiensi digital ini benar-benar siap dan berlaku adil untuk semua mahasiswa?
Di atas kertas, transformasi digital ini terlihat sempurna. Namun, dalam praktiknya, strategi ini berpotensi menimbulkan isu baru karena mengabaikan keragaman dalam dunia akademik di kalangan pelajar. Ciri-ciri pembelajaran antar program studi tidak dapat disamakan begitu saja. Mahasiswa dari bidang sosial-humaniora mungkin tidak merasakan batasan yang signifikan saat diskusi digeser ke platform Zoom, karena perhatian utama mereka adalah pada analisis teori dan literatur. Sebaliknya, bagi pelajar dari bidang sains dan teknologi, esensi pendidikan mereka sangat tergantung pada interaksi langsung di laboratorium. Di sinilah letak pentingnya, terdapat keterampilan fisik dan naluri praktis yang perlahan akan hilang jika proses eksperimen dipaksa untuk dilakukan di depan layar.
Perlindungan bahwa aturan ini hanya berlaku satu hari dalam seminggu mungkin terkesan sebagai solusi yang seimbang. Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Bagi siswa, memahami materi kuliah yang padat, terutama yang melibatkan perhitungan, rumus, atau logika ilmiah yang rumit, sudah merupakan tantangan tersendiri meskipun dijelaskan langsung di kelas. Ketika interaksi itu diubah menjadi sesi daring di platform Zoom, kesulitan dalam menyerap materi justru meningkat secara signifikan. Situasi ini semakin rumit ketika faktor klasik seperti koneksi internet yang tidak stabil turut berpengaruh. Suara pengajar yang terputus, slide presentasi yang tidak berjalan lancar, atau siswa yang tiba-tiba terkeluar dari ruang virtual bukan hanya masalah teknis, tetapi juga tantangan serius yang mengurangi kualitas transfer pengetahuan. Alih-alih menjadi hari yang produktif, satu hari daring ini justru memiliki potensi untuk menjadi hari yang tidak berarti dan semakin menambah beban frustrasi akademis, baik bagi siswa maupun pengajar.
Dari pandangan ekonomi mikro para mahasiswa, cerita tentang penghematan bahan bakar minyak melalui kebijakan ini memiliki ironi tersendiri. Secara teori, satu hari kuliah daring dikatakan mampu mengurangi mobilitas harian dan menekan biaya bensin mahasiswa secara signifikan. Namun, dalam praktiknya, pengeluaran tersebut sebenarnya tidak lenyap sepenuhnya, melainkan beralih bentuk. Dana yang sebelumnya direncanakan untuk membeli bahan bakar justru harus dipindahkan oleh mahasiswa untuk pengeluaran baru yang sama mahalnya, seperti membeli kuota internet tambahan atau secangkir kopi di kafe untuk mendapatkan jaringan Wi-Fi yang stabil saat Zoom. Bagi mahasiswa, pergeseran beban biaya dari tangki bensin ke kuota internet dan biaya berkumpul untuk keperluan akademis menjadi kontradiksi yang nyata dari janji efisiensi yang diusulkan oleh para pembuat kebijakan.
Menghadapi situasi ini, institusi pendidikan perlu bersikap fleksibel dan cerdas dalam merencanakan langkah-langkah yang diambil. Sebagai solusinya, pengaturan jadwal perlu diseleksi dengan cermat; hari-hari yang diadakan secara daring sebaiknya dikhususkan untuk mata kuliah dasar atau teori yang tidak memerlukan kedalaman aspek visual dan berpikir yang kompleks. Di sisi lain, narasi mengenai efisiensi, seperti penghematan energi bahan bakar minyak yang sering disuarakan dalam kebijakan ini, perlu ditelaah kembali. Justru banyak mahasiswa yang berusaha keluar rumah untuk menemukan akses internet yang lebih baik di kafe, atau mereka tetap harus pergi ke kampus untuk menyelesaikan agenda rapat organisasi dan kegiatan mahasiswa lainnya. Tanpa adanya perencanaan yang baik, maksud baik untuk mengurangi mobilitas ini bisa menjadi kebijakan yang tidak efektif dalam praktiknya.
Pada akhirnya, penerapan digital dan pembaruan sistem di kampus adalah suatu kebutuhan yang harus didorong. Namun, batas yang jelas perlu ditetapkan ialah penghematan biaya atau efisiensi operasional jangan sampai mengorbankan kualitas pemahaman mahasiswa. Pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada seberapa efisien suatu sistem dapat dioperasikan, tetapi juga pada bagaimana inti dari ilmu dapat disampaikan secara utuh. Apabila mutu proses pembelajaran terus dikorbankan demi mencapai angka efisiensi yang terlihat baik di atas kertas, maka akan ada risiko dalam melahirkan generasi lulusan yang tercipta dengan kompetensi dan siap bersaing di masa yang akan datang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
