Hamidah dan Dunia yang Terlalu Keras untuk Perempuan
Sastra | 2026-05-27 23:33:03
Novel Kehilangan Mestika karya Hamidah bukan hanya cerita tentang perempuan yang hidup di tengah adat lama. Novel ini lebih menceritakan seseorang yang terus berusaha mempertahankan dirinya sendiri, meski lingkungan di sekitarnya selalu berusaha mengatur hidupnya. Dari awal cerita sampai akhir, Hamidah bukan tokoh yang melawan dengan teriakan-teriak atau pemberontakan besar. Justru yang membuatnya kuat adalah caranya tetap berjalan meski terus ditekan.
Dari kecil, Hamidah sudah terlihat berbeda. Ia punya rasa ingin tahu yang besar dan keberanian yang tidak dimiliki banyak perempuan pada zamannya. Bahkan dalam perjalanan kereta saja, keberanian itu sudah terlihat. Saat gerbong kelas dua penuh dan mereka sebenarnya diperbolehkan pindah ke kelas satu, teman-temannya takut karena khawatir dimarahi kondektur. Hamidah justru maju dan berkata bahwa kalau sampai diusir, biar dia yang menghadapi. Kelihatannya sederhana, tetapi dari situ sudah terlihat kalau Hamidah terbiasa berpikir lebih bebas dibandingkan orang lain di sekitarnya.
Keberanian itu semakin besar ketika ia kembali ke Mentok. Di sana, perempuan harus hidup dalam pingitan sejak usia belasan tahun. Mereka tidak boleh keluar rumah dengan bebas, bahkan mengintip dari jendela saja bisa menjadi bahan gunjingan. Yang membuat miris, semua itu dianggap bagian dari agama, padahal sebenarnya lebih dekat pada adat yang sudah turun-temurun. Hamidah menjadi orang pertama yang berani keluar dari pemerintahan tersebut dengan didukung oleh ayahnya sendiri. Ia berjalan tanpa selendang, pergi ke sana-kemari, menonton film, bahkan bergaul dengan laki-laki. Hal-hal yang sekarang mungkin terasa biasa, pada masa itu dianggap sangat buruk sampai ia dicap kafir.
Walaupun ia diperlakukan seperti itu, Hamidah tidak melawan dengan cara yang kejam. Ia tidak marah-marah lalu menantang semua orang. Ia lebih seperti seseorang yang diam-diam mengubah keadaan sedikit demi sedikit. Saat dicaci, ia lebih banyak diam. Tetapi di balik diamnya, ia terus bergerak. Ia membentuk perkumpulan perempuan, mengajarkan baca-tulis, dan percaya bahwa perubahan bangsa harus dimulai dari perempuan. Bagian ini menjadi salah satu bagian paling kuat dalam novel karena Hamidah sadar perempuan yang dibungkam akan melahirkan generasi yang juga hidup dalam ketakutan.
Tidak hanya itu, Hamidah pun mengalami kisah percintaan yang amat menyedihkan. Tiga kali Hamidah jatuh cinta, tiga kali juga dihancurkan oleh keluarganya sendiri. Hubungannya dengan Ridhan kandas bukan karena mereka tidak saling mencintai, melainkan karena pamannya dengan sengaja memisahkan mereka. Surat-surat yang disembunyikan, kabar sakit tidak disampaikan, sampai akhirnya Ridhan meninggal tanpa sempat bertemu Hamidah lagi. Rasanya menyakitkan karena cinta mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai, hanya diputuskan secara paksa oleh keadaan.
Hal yang sama terjadi dengan Idrus. Lagi-lagi surat menjadi alat yang menentukan nasib Hamidah. Keluarganya mengatur semuanya secara diam-diam, membuat Hamidah percaya bahwa Idrus tidak lagi peduli padanya. Akhirnya ia menikah dengan Rusli, bukan karena cinta yang besar, namun karena merasa sudah tidak punya pilihan lain. Dan ketika belasan tahun kemudian Hamidah kembali bertemu Idrus, semuanya sudah terlambat. Idrus tetap melajang sampai akhir hayatnya dan meninggal di hadapan Hamidah. Hamidah sangat terpukul setelah mendengarkan penjelasan dari Idrus sebelum ia meninggal. Tidak ada tangisan yang berlebihan, tetapi justru karena sederhana, rasanya lebih menyakitkan.
Novel ini bukan sekadar cerita cinta yang gagal. Akan tetapi hal yang paling terasa justru bagaimana hidup perempuan sering kali tidak benar-benar menjadi miliknya sendiri. Hamidah punya keberanian, pendidikan, dan pemikiran maju, tapi hidupnya tetap terus diatur oleh keluarga (kecuali ayahnya) dan adat. Bahkan surat cintanya pun tidak pernah benar-benar sampai ke tangan. Dari situ terasa bahwa kehilangan terbesar Hamidah bukan hanya kehilangan orang yang ia cintai, tetapi kehilangan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Dan mungkin itu alasan kenapa cerita Hamidah masih terasa sedih sampai sekarang. Meskipun itu cerita masa lalu akan tetapi, masih banyak perempuan yang diam-diam mengalami hal serupa, hidupnya memutuskan orang lain, suaranya dianggap tidak penting, dan cintanya harus kalah demi nama keluarga atau tradisi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
